Kampusiana

JAS Ungkap Ambivalensi Sastra Populer pada Milangkala Ke-3

Moderator Diskusi, Syihabul Furqon dan Pemateri yang juga Kritikus Sastra, Dian Nurrachman sedang membahas Ambivalensi Sastra Popular di Indonesia dalam acara Milangkala Jaringan Anak Sastra (JAS) ke-3, Senin (7/5/2018). (Indah Rahmawati/Suaka).

SUAKAONLINE.COM – Pada perayaan hari ulang tahunnya yang ke-3, Jaringan Anak Sastra (JAS) yang diketuai oleh Ryan Zulkarnain itu mencoba untuk mengungkap ambivalensi sastra populer. Digelar di bawah pohon rindang (DPR) UIN SGD Bandung dalam bentuk diskusi Milangkala Jas hadirkan pemateri yang ahli di bidangnya, Senin (7/5/2018).

Ambivalen adalah kondisi dimana terdapat hal yang sama namun secara tidak sadar saling bertentangan. Seperti yang dijelaskan oleh Kritikus Sastra yang juga Dosen Sastra di UIN SGD Bandung, Dian Nurrachman. Baginya ambivalen sastra populer terjadi karena sastra populer dianggap picisan namun di sisi yang lain orang-orang menyukai sastra populer.

“Sastra populer dianggap picisan karena pada saat itu sastra popular merupakan karya tulis yang tipis dan harganya sepicis,” paparnya, Senin (7/5/2018).

Ia berbagi tips terkait 3 pendekatan untuk memahami sastra populer. Menurut Dian, memahami tidak cukup hanya membahas unsur instrinsiknya saja. Ada tiga hal yang juga harus dipahami.

“Pertama adalah impak, sastra popular perlu dipahami pula kondisi sosial dan psikologis pembaca, apakah mempengaruhi masyarakat atau tidak. Kedua yaitu simbolik, terdapat representative kelas, betapapun Pidi Baiq berbicara Dilan di kondisi menengah, yang dibahas hanya urusan cinta. Dan yang ketiga yakni reflektif, sepopuler atau sepicisan sastra selalu ada gagasan yang ingin penulis sampaikan,” jelas Dian

Perbedaan signifikan antara sastra popular dengan sastra tinggi menurut Dian terdapat pada formula ceritanya. Sastra popular memiliki formula yang sama, masih berkutat pada urusan percintaan yang diawali dengan banyak konflik kemudian berakhir menjadi satu. Baginya, siapapun penulis dan apapun judulnya jalan ceritanya akan tetap seperti itu. Sedangkan sastra tinggi konteksnya membuat pembaca sulit menebak karena mengandung esthetic distance.

Sebagai orang yang dilabeli Kritikus Sastra, Dian memang sudah menikmati sastra sejak ia masih kecil. Namun tidak langsung bisa mengkritisi sastra tinggi dan sastra popular. “Semua itu diawali dengan tumbuhnya minat baca terhadap sastra. Saat kelas empat Sekolah Dasar (SD) saya sudah mengamati sastra Siti Nurbaya. Saya terus membaca sastra-sastra lainnya. Hingga akhirnya saya memilih untuk kuliah di jurusan Sastra,” tambahnya.

Baca juga:  Zen RS: Simulakra Sepakbola

Namun, sastra yang dikenalkan kepada Dian saat kuliah semuanya berbenturan dengan apa yang selama ini sudah ia baca. Hal itu tentu menjadi ambivalensi. “Seharusnya hal seperti itu dibiarkan saja, karena kehidupan ini isinya adalah perbenturan realita saja,” tutup Pria penikmat sastra karya Abdullah Harahap itu.

Ketua JAS, Ryan Zulkarnain sedikit menceritakan awal mula terbentuknya JAS. JAS yang dibentuk oleh mahasiswa angkatan 2014 ini bertujuan untuk mewadahi semua orang yang menyukai sastra. JAS terbuka untuk berbagai jurusan, tidak harus berasal dari jurusan sastra karena yang terpenting adalah memiliki minat terhadap sastra.

“ Saya berharap semoga JAS makin berjaya, tetap produktif dan kompak. Semoga bisa jadi wadah dan memberi sumbangsih bagi sastra UIN Bandung,” ujar lelaki berjanggut tebal itu.

Reporter : Indah Rahmawati

Redaktur : Elsa Yulandri

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas