Kampusiana

Dampak Nyata Problematika UKT Tinggi

Indah Puspita dan ibunya ketika keluar dari Gedung Rektorat menyampaikan keberatan atas kategori UKT yang didapatnya kepada pihak kampus, Senin (14/5/2018). (Puji Fauziah/ Suaka)

SUAKAONLINE.COM – “Saya ingin sekali kuliah tahun ini,” ucap Indah Puspita dengan nada lirih sambil sesekali menyeka air matanya, Indah adalah calon mahasiswa UIN SGD Bandung lulus jalur SNMPTN yang datang dari Purwakarta ke UIN SGD Bandung dengan menggunakan bus bersama ibunya, Dewi Kelana untuk menyampaikan rasa keberatannya dengan kategori UKT yang didapatkannya kepada pihak kampus.

Rasa kecewa terlihat dari wajah Dewi dan Indah, Indah adalah calon mahasiswa yang lulus di Jurusan Sosiologi dengan mendapatkan kategori 3 (tiga) dengan jumlah yang harus dibayarkan adalah RP. 2,836,000. Ibunda Indah memaparkan, saat melakukan pengisian biodata melalui online dan melakukan verifikasi yang keluar adalah kategori 3 (tiga). Ketika melihat jumlah yang harus dibayarkan dirinya langsung merasa kaget karena faktor ekonomi tidak mendukung.

“Tanggungan ada tiga orang. Bapaknya tidak mempunyai slip gaji, SKTM pun sudah ada, semua persyaratan dari kecamatan sudah ada. Secara bapaknya udah setahun lebih engga kerja, dan adiknya mau ke SMA dan yang satunya lagi masih SD,” ungkap Dewi dengan sangat antusias.

Sebelumnya, Dewi bersama Indah, sudah mengadukan keberatan kepada bagian keuangan yang berada di Gedung Lecture Hall (LH). Namun, Dewi mendapatkan tanggapan yang sama sekali tidak membantu meringankan keberatan tersebut. Setelah Dewi mengadukan semua rasa keberatannya, anaknya tetap diperintahkan untuk membayar seluruhnya. “Harus bayar dulu full tiga juta kurang itu,” ucap Dewi.

Kemudian, tidak berhenti di situ, Indah bersama ibunya yang dikawal oleh Sema U menemui bagian rektorat untuk menyampaikan juga perihal kategori UKT itu, Dewi, Indah bersama perwakilan Sema U mendatangi rektorat dan dipertemukan dengan sekretaris pribadi wakil rektor (Warek) II, jawabannya, Rabu (16/5/2018) Indah bersama Dewi diminta untuk datang kembali ke kampus. Namun, menurut Dewi, dirinya merasa bingung apakah ada jaminan atau tidak ketika nanti Rabu itu ke kampus dan dirinya juga merasa bingung akan bertemu dengan siapa dan bagian apa.

Baca juga:  Teknis Belum Rampung, Ketua KPUM Pemilihan Sema-U Belum Ditentukan

Indah adalah salah satu mahasiswa yang mencoba datang ke pihak kampus untuk melakukan pengaduan keberatan, karena dirinya merasa sangat tidak mampu untuk membayar dengan sejumlah tiga juta kurang setiap semesternya. Kuliah di UIN SGD Bandung, menurut Indah adalah cita-citanya, namun ketika mengetahui seperti ini, dirinya merasa kecewa.

“Awalnya emang cita-cita pengen ke sini, karena UIN SGD Bandung murah katanya. Udah yakin ke sini, tujuannya ke sini. Kecewa juga tau-tau kaya gini, kirain emang murah. Kecewa banget,” ucap Indah sambil menyeka air matanya yang terus mengalir. Lebih lanjut, dirinya masih berdoa dan berharap agar ada hasil yang diperoleh. Dari wajahnya yang teduh, terlihat niat dia yang benar-benar sangat ingin kuliah, karena menurutnya ini adalah kesempatan emas baginya.

“Yang pasti semoga ada hasilnya udah jauh-jauh ke sini, pengen banget kuliah, udah lulus SNMPTN, kesempatan emas, pengen banget diambil. Orang di luar sana pengen banget dapet SNMPTN, tapi faktor ekonomi itu emang ngerusak impian seorang penerus bangsa, katanya indonesia perlu penerus bangsa yang baik. Giliran udah mau berjuang malah jadi penghalang. Pengennya ya ada hasil,” papar Indah yang saat itu mengenakan kerudung biru corak putih.

Sama halnya dengan bagian keuangan yang ditemui Indah dan ibunya, Kepala Biro A2KK, Jaenudin mengatakan, mahasiswa yang merasa keberatan, akan diberi kesempatan di bulan Oktober untuk melakukan banding. Namun, tetap harus bayar di muka terlebih dahulu. Lebih lanjut, dirinya mengatakan, jika nanti akan ada perubahan kategori maka sisa dari uang yang sudah dibayarkan akan disimpan dan digunakan untuk pembayaran di semester berikutnya.

Menanggapi kebingungan Indah dan ibunya, Rabu akan bertemu dengan siapa dan bagian apa, Jaenudin menyarankan ke bagian keuangan saja. “Saya kira harus ke keuangan saja nanti, bagaimana nanti dibicarakan. Jadi nanti kita di keuangan akan kita obrolkan bersama,” paparnya. Dirinya juga menyampaikan, selama ada mahasiswa yang sama sekali tidak bisa membayar, pihaknya akan membantu. “Harus menghadap kepada bagian terlebih dahulu, dan laporan tersebut akan disampaikan kepada pimpinan untuk dirembugkan bersama,” pungkasnya.

Baca juga:  Alasan Kenapa Harus Tinggalkan Sepak Bola Indonesia

Ketika Indah bersama ibunya melakukan negosiasi bersama sekretasi Warek III, terdapat massa aksi di luar yang tergabung dalam Forum Demokratisasi Kampus (FDK), salah satunya adalah menuntut untuk menolak kenaikan UKT 2018 karena dirasa sangat membebankan kepada mahasiswa.

 

Reporter : Puji Fauziah

Redaktur : Muhamad Emiriza

1 Comment

1 Comment

  1. indah puspita

    16 Mei 2018 at 09:11

    Punten, Itu fotonya tolong gnti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas