Kampusiana

Polemik Gerakan Sosial: Antara Kritik dan Intrik

Dianto Bachdi dari Agrarian Resource Center tengah memaparkan perihal gerakan sosial dari mulai konsep hingga intrik-intriknya pada audiens dalam acara milangkala Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK) di Aula Student Center UIN SGD Bandung, Selasa (9/5/2019). (Anisa Dewi/ SUAKA)

SUAKAONLINE.COM – Lembaga Pengkajian Ilmu keislaman(LPIK) menggelar diskusi dengan tema menakar gerakan perjuangan. Menarik berbagai sisi untuk sub tema seperti sejarah, sosial, sastra bahkan tasawuf. Diskusi yang digelar selama tiga hari mulai dari Selasa hingga Kamis (8-10/ 5/2018) di gedung Student Center lantai 1, UIN SGD Bandung.

Peneliti Agrarian Resource Center, Dianto Bachdi menerangkan bahwa  membaca gerakan sosial berarti harus menganggap akan adanya tuntutan klaim yang dilakukan terus menerus. Salah satu contohnya adalah ketika Jokowi sebelum menjadi presiden. Saat masa kampanye ia menjanjikan soal reforma agraria. Artinya ketika resmi menjadi presiden akan memberikan banyak tanah kepada rakyat miskin, petani agar kehidupan membaik dengan program nawa citanya yang dicanangkan.

Karena berpegang teguh pada nilai-nilai keadilan gerakan sosial menjadi kukuh.  Selain faktor yang menggerakan persatuan dan kesatuan dari waktu ke waktu. Meski dilibas akan tetap ada orang-orang yang terus berkonsolidasi dengan berbagai macam symbol. Gagasan yang diyakini sebagai kebeneran.

Gerakan sosial juga bertumpu pada tantangan yang berkaitan dengan represi. Gerakan akan meningkat ketika represi meningkat pula. Selalu ada proses kreatif untuk menunjukkan tantangan itu. Ketika sudah melemah akomodasi dan negosiasi akan dilakukan. Semakin besar akomodasi semakin banyak tantangan yang masuk maka akan melonggar tuntutanya.

Gagasan yang masih abstrak diubahnya menjadi suatu hal yang dekat dengan keseharian.  Kelompok gerakan menginginkan perubahan sesuai dengan yang mereka inginkan. Maka apa saja akan dilakukan bahkan bagi mereka melanggar hukum tidak masalah bahkan membunuh seringkali diyakini sebagai cara yang tidak apa-apa. Seperti misalnya terorisme.

Baca juga:  Refleksi Rapat Koordinasi Pertama Dema-U

“Dari kacamata sosiologi politik, terorisme itu bukan hanya melanggar hukum dan HAM. Itu cara mereka untuk mengekspresikan gagasanya. Yang hak adalah hak dan yang batil adalah batil” Jelas Dianto sembari membetulkan posisi kacamatanya.

Tunggang-Menunggang Kepentingan

Ada rujukan dan perkembangan yang menyimpanng, di dalam gerakan sosial itu, tunggang menunggangi bukan hal yang baru dan cenderung tidak satu arah “Dalam satu studi yang saya lakukan, petani sangat pintar menunggangi para aktivis, aktivis merasa menunggangi petani. Petani tidak akan memformulasikan gagasan.”ungkap Dianto (9/5/2018)

Disini kemapuan para pemikir diuji untuk mengemas isu klaim dan tantangan yang ada serta memformulasikan dan mengakumulasi gagasan yang sebenarnya hanya persoalan ideologis. Secara ideology gerakan sosial ingin mewujudkan masyarakat yang ideal. Pengemasan gagasan ini yang mestinya digaris bawahi. Namun, pembelotan juga tetap akan terjadi. Ketika orang sudah berpaling pada seseorang, maka orang tersebut sedang memupuk kekuasaan dari sana ia akan berkuasa.

Kelompok gerakan sosial tidak akan percaya salah satu dari bagian terpenting dari perubahan adalah menguasai negara. Berbeda dengan gerakan politik yang memfokuskan pada perubahan kekuasaan. Para aktivis gerakan politik berpikir bahwa dengan menguasai negara bisa lebih mudah untuk mengambil kebijakan. Pun, gerakan sosial yang membelot akan berubah arahnya menjadi perebutan kekuasaan entah secara revolusi atau konstisional.

Untuk Non- Government Organization (NGO) Ada dua kemungkinan ,kelompok gerakan yang mengambil dana dari lawan penting untuk membangun basis. Mereka  hanya mengambil dan merasa menunggangi dan memanfaatkanya. Sedang,untuk para imperialis dengan uang yang menyokong NGO mereka sanggup mengontrol, mengatur bahkan upaya melemahkan.

Para aktivis gerakan sosial selalu yakin ada masa depan, masa depan gerakan bukan diperoleh orang lain. Masa depan adalah keyakinan keika cita-cita bisa terwujud. Dalam perspektif gerakan berhasil atau tidaknya suatu gerakan adalah membangun basis.

Baca juga:  Api Obor Asian Games 2018 Sambangi Bandung, Warga Antusias

Campur Aduk Gerakan Sosial dan Politik Identitas 

Kesadaran identitas tumbuh dan berkembang dengan masyarakat itu sendiri. Ketika demokrasi hadir maka demokrasi yang membuka ruang,demokrasi akan tumbuh dan berkembang di masyarakat yang menjunjung tinggi HAM.

Politik identias berpotensi besar melawan diskriminasi hal ini menjadi PR bagi gerakan sosial untuk melawanya. Tidak semua orang punya kesadaran yang sama akan kesadaran identitas. Genosida dimulai dari sana, perbedaan berdasarkan identitas.

Sambil berdiri memegang microfon Dianto membeberkan, “Belakangan gerakan sosial bukan saja karena ideologi tetapi lebih pada kesadaran identitas. Kaum perempuan merasa ditindas karena persoalan ideologis.  Lantaran merasa tertindas atas identitas tanpa mengenal isu kemiskinan dan kesenjangan sosial. Maka mereka bersatu atas gerakan identitas,” papar Dianto

Sejalan dengan Dianto, Dede Mulyanto dosen Antropologi Universitas Padjajaran menjelaskan “Demokrasi sosial bukan anti agama tetapi anti penindasan. Kepentingan perempuan berbeda-beda. Perempuan borjuis tidak ada kaitanya dengan perempuan buruh. Kelasnya berbeda dan gender itu tersekat-sekat. Dalam demokrasi sosial tidak ada ha katas perempuan,” pungkasnya.

 

Reporter: Anisa Dewi A

Redaktur : Muhamad Emiriza

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas