Kampusiana

Seminar Nasional, Peran Investasi Syariah dalam Perkembangan Ekonomi di Indonesia

1. (Dari kiri ke kanan) Moderator seminar Siti Umdatul Faroh, Kementrian Keuangan Rijanta Triwahjana, Bank Indonesia Kanwil Jawa Barat, Darjana, Bank Jabar Banten Syariah Boby Rahman Prabowo sebagai pemateri dalam Seminar Nasional “Peran Investasi Syariah dalam Pertumbuhan Perekonomian Nasional” yang diselenggarakan oleh HMJ-MKS dalam rangkaian milad jurusan, bertempat di Aula Abdjan Soelaiman, Senin (14/5/2018). (Nurul Fajri/ Magang).

SUAKAONLINE.COM – Dalam rangkaian perayaan milad Jurusan Manajemen Keuangan Syariah dengan nama East Fest, Himpunan Mahasiswa Jurusan MKS gelar Seminar Nasional yang bertempat di Aula Abdjan Soelaiman, Senin (14/5/2018). Mengangkat tema “Peran Investasi Syariah dalam Pertumbuhan Perekonomian Nasional” acara ini menghadirkan perwakilan dari kementrian keuangan, Bank Indonesia Kanwil Jawa Barat dan Bank Jabar Banten Syariah sebagai pemateri.

Ketua Jurusan Manajemen Keuangan Syariah, Deni Kamaludin Yusup dalam sambutannya menyampaikan bahwa harapan dengan dilaksanakannya seminar ini bukan hanya akan menjadi bahan edukasi. “Tentunya ini akan menjadi bahan edukasi, namun selain itu seminar ini juga berkaitan dengan salah satu mata kuliah yang dipelajari di MKS, yaitu Manajemen Investasi. Diharapkan kepada mahasiswa, terutama mahasiswa semester 6 yang kemudian akan melaksanakan PKL, membantu dalam mendorong bidang keuangan syariah di masyarakat,” ujarnya.

Kementrian Keuangan, Rijanta Triwahjana mengenalkan secara rinci mengenai Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) yang juga disebut Sukuk Negara ini yang dapat menjadi investasi bagi lembaga keuangan syariah. “SBSN ini adalah surat berharga negara yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah. Aset SBSN adalah objek pembiayaan SBSN atau Barang Milik Negara yang memiliki nilai ekonomis, berupa tanah atau bangunan maupun selain tanah atau bangunan, hal ini tercantum dalam UU Republik Indonesia No.19  tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara. Ya contohnya seperti pembangunan UIN ini yang merupakan aset SBSN,” ungkap Rijanta.

Baca juga:  AJI-DW Akademie Gelar Pelatihan Jurnalistik Ramah Keberagaman

Rijanta menambahkan bahwa Sukuk Negara ini bukanlah sebagai jaminan. “Sukuk Negara bukan jaminan, karena memiliki underlying asset sebagai dasar transaksi. Investor hanya mendapat hak manfaat dari aset tersebut dan pemerintah menggunakan aset tersebut untuk membayar investor,” ungkapnya.

Kemudian Bank Indonesia Kanwil Jawa Barat, Darjana menyampaikan mengenai apakah investasi syariah ini sudah berperan dalam perkembangan ekonomi di Indonesia. Investasi ini juga memiliki andil dalam program pemerintah dalam mengembangkan perekonomian masyarakat yang masih rendah. Banyak bentuknya seperti kredit rumah tangga, kredit koporasi dan kredit  UMKM. Terdapat inovasi dalam instrumennya namun saat ini belum  ada inovasi instrumen yang menggunakan prinsip syariah.

Kemudian menjawab pernyataan di awal, Darjana menambahkan “Investasi syariah ini telah berperan dalam perekonomian ini namun masih sangat kecil. Potensi kita ada, namun kembali lagi pengumpulannya masih kecil, jadi itu adalah suatu tantangan bagi kita untuk mempertinggi investasi syariah, contohnya seperti sekarang para mahasiswa di sini  mulai memiliki rekening di perbankan syariah,” ungkapnya.

Pemateri dari Bank Jabar Banten Syariah, Boby Rahman Prabowo kemudian memaparkan bagaimana membantu perkembangan ekonomi Indonesia melalui investasi syariah yang dimulai dari masing-masing individu. Ia mengungkapkan bahwa investasi yang dimulai dari individu ini berawal dari bagaimana kemampuan seseorang untuk mengelola arus pengeluarannya masing-masing dengan baik.

“Mulai dari mengelola arus pengeluaran keuangan kalian, pertama adalah bayar langsung, maksudnya ketika memiliki uang, utamakan untuk membayar seluruh kewajiban contohnya jika ada hutang, segera gunakan untuk membayar hutang tersebut. Kemudian sedekah, bersedekah agar yang kita miliki menjadi berkah. Lalu berinvestasi, menyisihkan uang yang dimiliki untuk berinvestasi, kemudian gunakan untuk pengeluaran rutin dan yang menjadi prioritas akhir adalah gaya hidup,” ungkapnya

Baca juga:  Aniva Kusumawardani : Ciptakan Puisi dan Mensyukuri Makna Kehidupan

Boby menambahkan bahwa ada dua macam investasi yang dapat dilakukan, dan tentunya di perbankan syariah dalam rangka perkembangan ekonomi. Yang pertama adalah investasi dengan pendapatan tetap (fix income investment) contohnya dengan tabungan berjangka deposito. Dan investasi pertumbuhan (growth income investment) contohnya yaitu dengan berinvestsi pada property dan emas atau logam mulia.

 

Reporter : Nurul Fajri/ Magang

Redaktur: Muhamad Emiriza

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas