Lintas Kampus

Museum Situs Semedo: Bakal Tak Kalah Bersejarah

Gedung I yang merupakan bagian dari gedung utama yang masih dalam tahap pembangunan di Museum Situs Semedo, Desa Semedo Kecamatan Kedung Banteng, Kabupaten Tegal, Kamis(28/6/2018). (Anisa Dewi Anggriaeni/Suaka)

SUAKAONLINE.COM- Sore itu, senja menampakkan dirinya, memamerkan keelokan pada setiap mata yang memandang. Sekumpulan anak laki-laki tertawa lepas sambil mengejek yang lain sebab kalah bermain gundu di depan gerbang Museum Situs Semedo. Gerbang sedikit terbuka, dijumpai dua laki-laki yang tengah duduk di pos penjaga. Museum yang pernah dijanjikan kini dalam tahap pembangunan. “Target lima tahun selesai, kemungkinan dibuka akhir tahun 2019”tutur Epay salah satu pemimpin pekerja yang membangun Museum Situs Semedo,Kamis(28/6/2018).

Terletak di RT2 RW4 Desa Semedo, Kecamatan  Kedung Banteng, Kabupaten Tegal. Desa yang menjadi lumbung fosil purbakala. Tak hanya soal Warteg, Tegal juga menyimpan  wisata sejarah yang tak kalah yaitu Situs Semedo.

Tak semudah tempat wisata lain, jalan menuju Museum Situs Semedo ini masih dalam perbaikan, bahkan banyak yang hanya menggunakan batu sebagai jalan. Empat kilometer dari desa Sigentong. Letaknya yang jauh dari kota tak membuat para pengunjung keberatan untuk tetap melihat benda benda purba. Dari mulai TK hingga tingkat Universitas bahkan sering juga mahasiswa luar negeri berkunjung untuk melakakukan penelitian.

Salah satu siswi SMA  Negeri 2 Pemalang yang tengah duduk di kelas XI, Nurul Rokhmah Wati pernah mengunjungi museum tersebut.  Dia mengeluhkan betapa akses jalan yang ditempuh teramat berliku. “Jalanan menuju kesana susah. Tapi semoga museum cepet diselesaikan, biar segera dibuka. Soalnya  sudah banyak yang tahu. Aku kira sudah dibuka, ternyata belum.” Paparnya sambil terus bermain gawai, Jumat(29/6/2018).

Remaja berjilbab dongker itu duduk santai sambil menikmati semilir angin, sesekali dia berfoto menampilkan ekspresi terbaik yang dimilikinya. Nurul sapaan akrabnya juga mengatakan bahwa banyak teman-temanya yang mengira museum sudah jadi seutuhnya sehingga bisa dioperasikan. Namun saat berkunjung masih tahap pembangunan.

Baca juga:  Suddenly Last Summer, Sebuah Pentas Kejiwaan

Mencetak Sejarah Baru

Adalah Dakri, seorang laki-laki setengah baya yang mulai merasa jenuh dengan setumpuk pekerjaanya. Namun di satu sisi dia harus segera menyelesaikan ukiran-ukiran para pelanggan. Pergilah dia mencari kayu dan batu akik sembari memancing. Dari situ, secara tidak sengaja Dakri menemukan fosil di hutan Semedo. Rahang  dan lutut gajah menjadi penemuan pertamanya pada tahun 1987.

Rasa penasaran yang tinggi, membuat Dakri membawa pulang hasil temuanya. Semakin hari semakin banyak yang ditemukan, hingga ada  ribuan yang tergeletak di rumah sederhananya. Pada tahun 2004 salah satu  Guru SD  Negeri Semedo, Tarmuji berniat  melaporkan temuan Dakri pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Lantaran laporan hanya berbentuk lisan  dinyatakan gagal dan tidak sah.

Tahun berikutnya, pada  2005 silam secara resmi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Gerbang Mataram menaungi penemuan fosil tersebut. Slamet Heryanto selaku sekretaris LSM itu membuat laporan pengajuan.

Dalam laporan tertulis “2005 pertama kali ditemukan benda purbakala, vertebrata oleh Dakri, Duman, Ansor Sunardi” hal ini membuat simpang siur, sebab yang menemukan hanya Dakri dan pada tahun 1987  jelas Tanti anak ketiga dari sang penemu fosil saat ditemui di pusat informasi.

Dakri diuji oleh salah satu Tim Badan Arkeologi Yogyakarta pada tahun 2005. Dia menjelaskan jika yang ditemukanya merupakan rahang dan lutut gajah. Bahasa sederhana yang disampaikan olehnya mampu membuat orang lain mengerti. “ Saya pernah makan ayam, dan lutut dari ayam sama persis dengan fosil yang saya temukan hanya saja ukuranya lebih besar. Lalu saya berfikir jika ini kerbau tidak mugkin karena terlau kecil, badak juga tidak mungkin dan muncul dalam benak saya bahwa itu gajah. Benar saja, itu memang lutut dan rahang  gajah” Ungkap Dakri mengingat jawaban saat diuji.

Baca juga:  Pertukaran Pelajar UIN Bandung - UM Malaysia

Tak sia-sia, laporan tersebut mendapat respon baik dari Bupati Tegal periode 2004-2009, Agus Riyanto.  Informasi menyebar sampai Balai Arkeologi Yogya, Haryanto bersama tim melakukan kunjungan ke Semedo untuk survei lokasi. Dinas Pendidikan dan Budaya pun turut serta. Balai Arkeologi Yogya melaksanakan kunjungan untuk penelitian,esvatasi dan menggali. Tujuan dari menggali sendiri bukan semata-mata mencari banyaknya fosil namun juga meneliti lapisan tanah.

Tak hanya fosil  hewan purba saja yang ditemukan oleh Dakri, fosil manusia purba pun berhasil ditemukan pada bulan Mei 2011 berjenis Homo Erectus. Hal itulah yang semakin memperkuat pernyataan bahwa Situs Semedo adalah Situs terlengkap, meski yang ditemukan serpihan atau kerangkanya saja.

Kejelian Dakri tidak berhenti pada penemuan fosil saja. Dia juga menemukan cara untuk menyambung fosil yang sudah patah. Fosil terbentuk dan terkubur dalam tanah, serta mineral berasal dari benda purba masuk dalam pori-pori. Ada endapan vulaknik  purba, yang kemudian dihaluskan lalu campur dengan lem, itulah cara menyambung fosil. Gagasan dan tindakanya membuahkan hasil, laki-laki gigih tersebut diberi gelar Doktor oleh Harry Widianto pakar Arkeolog, Balai Arkeologi Yogyakarta yang disampaikan di depan Tim Sangiran.

Museum Masih Tahap Pembangunan

Anggaran  museum untuk tahun 2018 sudah tersedia, museum diharuskan sudah selesai pembangunan. Kalaupun belum dari pihak pusat Kemendikbud akan menanyakannya, misalnya keterlambatan ada pada tender atau hal lain. Epay juga menerangkan bahwa Pemda sering berkunjung untuk memantau. Sementara dari Dinas Kepariwisataan dan Dikbud menyoroti pula akses jalan. Untuk pengelolaan sendiri masih belum diketahui apakah dari Pemda Tegal, Pemprov atau  bahkan pusat.

Di gedung-gedung yang sudah berdiri tegak rupanya di dalamnya masih kosong. Benda-benda Purbakala masih tersimpan di pusat informasi yang merupakan rumah Dakri beserta keluarganya.   Orang-orang tertarik pada tulisan ‘Museum Situs Semedo’ yang dicanangkan menjadi gedung utama.

Baca juga:  Banjir di Leles, Karmapack Gelar Bakti Sosial

Skema lima tahun harus selesai dengan bangunan 7 gedung. Terdiri dari  3 gedung utama, pengelola, peneliti beserta messnya dan storage.  Pada 2015  pembebasan lahan untuk gedung I dan II. Tahun selanjutnya 2016 mulai gedung III, 2017 pembangunan gedung pengelola, storage,fasilitas berupa paving, saluran dan gerbang. Tahun sekarang, 2018 fokus pada interior bangunan meliputi ruang tata pamer, listrik, air, pemasangan hydrant untuk mengantisipasi kebakaran juga dengan adanya Penerangan Jalan Umum(PJU).

Potensi Desa Wisata   

Adanya museum ini akan turut menyumbang tumbuh kembangnya perekoniman di Semedo. “Saya dengar-dengar ada Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dari karang taruna. Katanya akan ada  desa wisata dan homestay untuk melengkapi bagi wisatawan yang ingin singgah berlama-lama.”Ucap Epay lagi.

Sejalan dengan Epay, mahasiswa semester 7 Pendidikan Fisika, Universitas Sebelas Maret, Achsanul Fiqri juga mengamini hal itu. Baginya pembangunan museum jelas akan berdampak pada peningkatan perekonomian. Selain membantu pula siswa dalam belajar tentang zaman pra-sejarah tanpa harus ke museum Sangiran atau Trinil.

Terlebih ada perhatian yang lebih dari pemerintah. “Pembangunan situs cukup baik dengan dibangunya museum yang lumayan besar untuk menampung semua fosil yang ada,” tambah Fiqri yang ternyata berasal dari Tegal pula.

Namun kembali lagi pada masyarakat sebab persiapan mereka  juga perlu diperhatikan. Pokdarwis akan membagi beberapa bagian yaitu hiking ke hutan, membuat merchandise serta penempatan pada bagian informasi. Lapangan yang di sebelah SD Negeri Semedo direncanakan untuk pembuatan tempat  parkir, nantinya dari sana ke lokasi wisatawan akan berjalan kaki.

 

Reporter: Anisa Dewi Anggriaeni

Redaktur: Elsa Yulandri

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas