Lintas Kampus

YIPC : Merawat Keberagaman, Mewujudkan Perdamaian

Ahmad Shallahuddin (kanan) salah satu fasilitator YIPC 2018 beserta seorang peserta Laili Nadifatul Fikriya tengah mempresentasikan hasil diskusi pada sesi Merayakan Keberagaman, utamanya pada ranah gender dalam acara yang digelar mulai tanggal 22-25 Juli 2018 mengusung tema “Building a Peace Generation Through Young Peacemaker”, Senin (23/7/2018) Kaliurang, Yogyakarta. (Anisa Dewi/ SUAKA).

SUAKAONLINE.COM – Adalah Cinthya Karina, perempuan asal Bogor yang setahun belakangan menaruh ketertarikan pada kegiatan komunitas pemuda antar keyakinan. Baginya semakin terlibat dalam kegiatan semakin menyadari betapa pentingnya menanamkan nilai-nilai perdamaian,toleransi dan keberagaman.

Mengingat apa yang terjadi pada bangsa ini,  ia merasa perlu mendapatkan pandangan yang jelas dalam menyikapi permasalahan terkait intoleransi dan radikalisme. “Young Interfaith Peace Camp (YIPC) menurutku adalah wadah yang tepat untuk aku dapat menambah wawasan serta pengalaman akan toleransi dan keberagaman” Ungkap Cintya Sabtu (28/7/2018).

Pun dengan Dwi Guban yang mengutarakan hal yang seirama dengan  Cinthya. Laki-laki asal Sekadau, Kalimantan Barat merasa YIPC adalah tempat yang tepat untuk lebih mengenal dan mendalami keberagaman khususnya yang ada di Indonesia. Sebagai upaya pula meningkatkan rasa keharmonisan dengan sesama manusia serta menanamkan  perdamaian.

Konflik atas nama agama sudah terjadi sepanjang sejarah manusia. Konflik ini masih berlangsung dan akan terus berlanjut sampai akhir jaman. Pada dasarnya setiap orang yang beragama, selalu merasa bahwa agama atau keyakinan yang dipegang adalah  paling benar itulah psikologis orang beragama. Sehingga ketika sesuatu mengusik keyakinan reaksi yang dimunculkan akan impulsif.

“Berkaitan dengan hal ini, muncul fanatisme agama. Orang-orang yg fanatik, telah dibutakan, baik itu akal pikiran maupun hati nurani. Pada titik tertentu fanatisme agama bisa begitu berbahaya dan merusak. Di Indonesia aku melihat bahwa ada oknum yg memanfaatkan fanatisme agama untuk tujuan tertentu yang kontraproduktif,” tambah perempuan berkacamata yang merupakan salah satu peserta YIPC 2018 tersebut.

Baca juga:  UIN Bandung Jembatani Peluang Kerja Mahasiswa dengan UPT Pusat Karir

Bahkan fanatisme agama berhasil dijadikan senjata politik untuk menghancurkan karir politik seseorang. Peristiwa terorisme pun adalah dampak dari fanatisme agama yang membutakan. sungguh sangat disayangkan jika orang beriman kehilangan sisi kemanusiaan mereka.

Anstisipasi Intoleransi

Untuk meredam konflik yang suda dijelaskan Cinthya menggarisbawahi dari segi individu, komunitas, masyarakat dan negara. Dalam tingkat individu, sangat penting untuk memperkuat iman kita sendiri. Dengan mempelajari dan memperdalam pemahaman kita akan ajaran agama. Di tingkat komunitas dan masyarakat, penting kiranya menyembarkan nilai nilai toleransi.

Adapun untuk negara, peran pemerintah amatlah penting.  Memastikan bahwa rakyat dapat  beribadah menurut kepercayaannya masing-masing, UUD sudah menjamin itu. Dan pemerintah harus lebih tegas dalam menindak konflik-konflik yg muncul. Disahkannya UU terorisme, jadi harapan akan terbesarnya Indonesia dari teror dan bibit bibit radikalisme.

Sejalan dengan Cinthya, salah satu fasilitator YIPC 2018 Joshua Bernard Kristian mengeluhkan agama yang kerap memicu kekerasan. “Sebagai seorang yang mencintai bangsa ini, saya sangat sedih. Kalau dulu para founding fathers kita (yang berasal dari berbagai golongan) sudah sepakat bahwa pancasila adalah dasar negara kita yg harus senantiasa kita hayati. Namun mengapa yang terjadi adalah sebaliknya, bahkan membawa-bawa agama untuk melakukan konflik dengan kekerasan,” ujarnya.

Sebagai umat beragama ia merasa miris. Tatkala muslim meyakini diri sebagai rahmatan lil alamin, dan seorang Kristiani meyakini bahwa Isa Almasih mengajarkan kasih kepada Allah dan sesama. Namun yang terjadi, justru agama yang suci ‘direndahkan’ dengan cara dipakai untuk melakukan kekerasan.

Tak jauh beda dengan Cinthya, Jebe sapaan akrab Josua memaparkan bahwa perlunya sinergitas antara masyarakat, instansi, dan pemerintah untuk menangani hal ini. Masyarakat melalui organisasi dan komunitas, khususnya pemuda, dapat menjadi motor penggerak untuk menanamkan nilai perdamaian pada semua kalangan. Pemerintah (baik secara sempit maupun luas) melalui kebijakan-kebijakan  dan peraturan perundang-undanganya dapat meminimalisir konflik yang mengatasnamakan agama, terlebih tindakan kekerasan atas nama agama yang kerap meneror masyarakat.

Baca juga:  Api Obor Asian Games 2018 Sambangi Bandung, Warga Antusias

Kitab Suci Menjadi Fondasi

“Tiap nilai perdamaian selalu didasari kitab suci. Disini kita ingin menunjukkan bahwa kitab suci mengajarkan nilai perdamaian. Manusia adalah ciptaan Tuhan yang merupakan identitas pertama dan utama sebagai manusia,” terang Jenny Saragih saat menyampaikan materi di Youth Interfaith Peace Camp, Minggu (22/7/2018) Kaliurang Yogyakarta.

Pernyataan di atas diperkuat oleh salah seorang mahasiswa Ilmu Hukum, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, Joshua Bernard Kristian, yang telah tergabung dalam YIPC semenjak November 2016 silam. Menurutnya dalam YIPC ada sesuatu yang unik, selain memang belajar nilai-nilai perdamaian juga melakukan dialogue interfaith secara harmonis.

Tujuan dari dialog tersebut untuk menghilangkan prasangka terhadap agama lain. Salah satu penyebab konflik yang hadir di tengah masyarakat. Pembacaan yang dilakukan berdasarkan kitab suci Al Quran dan Injil sebagai fondasi dalam menapaki nilai- nilai toleransi. Di satu sisi semangat pemuda yang memiliki sejuta ide dan inovasi dan menyebarkan nilai-nilai perdamian. Selain itu yang membuat Jebe,  terinspirasi adalah konsistensi dari semenjak dibentuk. YIPC tidak menghilangkan ciri khasnya sebagai tempat untuk mengenal agama lain secara damai.

Harapan Jebe setiap orang  belajar mendalami kembali intisari dari ajaran agama masing-masing, yang pasti terkandung nilai cinta kasih didalamnya. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa tindakan intoleransi  salah satunya disebabkan oleh pemahaman sempit kita akan ayat yang bernuansa polemik.

“Tinggal bagaimana kita belajar melihat konteks dulu dan kita maknai ulang untuk konteks kita sekarang yang serba damai ini. Juga kita dapat keluar dari zona nyaman untuk dapat passing over dan menjalin hubungan dengan mereka yang berbeda  agar dapat saling mengenal dan menghilangkan prasangka yang ada,” ujarnya.

Baca juga:  Belajar Politik Sehat dan Menyehatkan

Senada dengan hal tersebut, Fasilitator asal Yogyakarta, Sontiar mengamini pernyataan Jebe. “Menurut saya pribadi kalaupun ada ayat- ayat yang beda harus bisa memaknai ulang kekerasan ayat-ayat yang memungkinkan untuk berkonflik satu sama lain. harusnya hal ini bisa dihindari jika kita melihat konteks turunya ayat ataupun konteks pada masa teks atau firman itu diturunkan,” pungkasnya.

 

Reporter          : Anisa Dewi Anggriaeni

Redaktur         : Muhamad Emiriza

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas