Kampusiana

Refleksi Rapat Koordinasi Pertama Dema-U

Dema-U menyelenggarakan Rapat Koordinasi (Rakor) di Aula Student Center, Rabu (7/8/2018). Rakor yang dipimpin langsung oleh Presma UIN SGD Bandung ini membahas mengenai persiapan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) yang dihadiri oleh sejumlah mahasiswa dari Dema-F, HMJ, dan UKM/UKK. Diharapkan nantinya dalam kegiatan PBAK dapat terjalin kolaborasi dengan mahasiswa dari segala elemen. (Fadhilah Rama/ SUAKA)

SUAKAONLINE.COM Rapat Koordinasi (Rakor) yang diselenggarakan oleh Dema-U UIN SGD Bandung, Rabu (8/8/2018) di Aula Student Center membahas mengenai persiapan Pengenalan Budaya, Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) . Rapat ini dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai elemen diantaranya adalah Dema-F, HMJ, dan UKM/UKK.

Rakor yang dipimpin langsung oleh ketua Dema-U, Oki Reval Juliandi sempat molor hingga satu jam dari jadwal yang ditentukan. Pertama-tama Oki mengenalkan terlebih dahulu secara garis besar kepengerusan Dema-U periode 2018/2019. Dengan beranggotakan 107 mahasiswa yang tergabung dalam Kabinet Arunganuyasa dengan logonya garuda. Oki pun mengusung tagline Konstruktif & Kolaboratif dalam kabinetnya.

“Arunganuyasa  berasal dari bahasa sanksekerta dan terdiri dari 2 kata, yaitu Arungan yang berarti kerjasama dan Wiyasa yang berarti membangun. Diharapkan semangat bekerjasama untuk membangun Dewan Eksekutif Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung menuju organisasi yang mampu menyelengarakan kegiatan kemahasiswaan dan melayani mahasiswa UIN SGD Bandung,” tungkasnya

Rencana Awal PBAK

Lanjut ke pembahasan mengenai persiapan PBAK., sempat beredar kabar angin bahwa PBAK akan dilaksanakan selama sembilan hari dan terbagi menjadi tiga gelombang. Hal tersebut langsung ditepis oleh Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri), Tantu Maulvi bahwa PBAK akan dilaksanakan selama empat hari dan terbagi menjadi 2 gelombang. Berlangsung dari tanggal 27 sampai 30 Agustus.

Baca juga:  Belajar Politik Sehat dan Menyehatkan

“Sebelumnya pihak rektorat menginginkan PBAK diadakan selama sembilan hari. Bukan tanpa alasan, rektorat ingin supaya  PBAK tahun ini berlangsung kondusif. Namun kita mengacu pada SK yang berlaku disitu tertera maksimal adalah 4 hari. Maka kita harus mengikuti SK yang berlaku ,” ujarnya.

Tantu menjelaskan PBAK tahun ini akan melibatkan semua elemen mahasiswa dari Dema-F, HMJ, dan UKM/UKK. Kepanitiaan bukan hanya dari Dema-U saja tapi Dema-F pun diminta mengirimkan tiga delegasi nya. Untuk HMJ dan UKM/UKK akan mengisi peran sebagai pementor.

“Untuk saat ini hanyalah gambaran awal, belum bisa dipastikan karena belum terbentuk kepanitiaan resmi untuk PBAK. Pokoknya komposisi nya adalah 60% mahasiswa dan 40% birokrat. Dalam PBAK ini Dema-U yang mengurusi perihal teknisnya dan berkordinasi dengan birokrat yang mengurusi perihal keuangan dan segala macam pengelolaan fasilitas,” tambahnya.

Alasan dibuat dua gelombang agar lebih kondusif. Jadi nantinya untk Sidang Senat Terbuka terbagi dua, di gelombang pertama akan diisi oleh tiga fakultas, yaitu Fakultas Syariah & Hukum, Fakultas Tarbiyah, dan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Lima Fakultas sisanya masuk ke gelombang kedua. Di hari ketiga akan ada pengenalan Dema-U, PBAK oleh Fakultas, dan pembagian mentoring. Di hari keempat akan sepenuhnya diisi oleh UKM/UKK.

Ada kemasan yang berbeda pada PBAK tahun ini, dimana sistem mentoring diberi nama ‘Ngasuh’ dan nanti akan ada panggilan khusus yaitu ‘Raka’ untuk pementor dan ‘Rai’ untuk peserta. Jajaran pementor akan diisi oleh mahasiswa-mahasiswa dari HMJ ataupun UKM/UKK. Tiap pementor memegang 20 peserta.

Akankah Ada Peningkatan ?

Persiapan yang terbilang mepet membuat banyak pihak bertanya-tanya, mampukah PBAK tahun ini terealisasi dengan baik atau sama saja dengan tahun sebelumnya. Ini merupakan PR besar untuk Dema-U, di tengah kekecewaan yang meradang di mahasiswa tiap tahun mengetahui PBAK yang seharusnya menjadi ajang perhelatan menyambut dan mensosialisasikan informasi seputar kampus kepada mahasiswa baru menjadi tidak berdampak apa-apa karena kurangnya kesiapan dari para panitia PBAK.

Baca juga:  Api Obor Asian Games 2018 Sambangi Bandung, Warga Antusias

Ketika ditanya oleh Suaka mengenai persiapan PBAK sejauh mana, Tantu menjelaskan Dema-U hanya pelaksana sesuai aturan yang ada dan memanfaatkan fasilitas yang disediakan. Untuk pengelolaan dan pengadaan itu murni oleh pihak birokrasi.

“Bahasan seperti pengadaan kaos, dan lain lain itu bukan dari Dema-U, tapi dari birokrasi. Dan dari tahapan-tahapannya itu OC nya pun dari birokrasi, penunjukan langsung dari rektor. Kita hanya mengurusi teknis dan membantu nantinya kinerja dari birokrasi sendiri,” jelasnya Rabu (8/8/2018).

Lanjutnya, Dema-U meminta kepada birokrat untuk menyiapkan segala fasilitas dan kebutuhan H-2 sebelum acara dimulai. Bentuk antisipasi apabila terjadi keterlambatan, akan ada pressure supaya birokrat segera menuntaskan segala kebutuhan. Karena teknis tidak akan berjalan apabila tidak ada fasilitas.

“Jika birokrat tidak mampu memenuhi apa yang diminta, otomatis ada hukuman atau sanksi tersendiri untuk birokrasi atau pihak ketiga nya. Tapi ketika jatuhnya seperti itu (gagal –red), itu adalah musibah, itu diluar kemampuan kita. Ketika ada musibah semua harus memaklumi ketika ada ngaret dan sebagainya,” tungkasnya.

Salah satu peserta Rakor dari Dema-F Psikologi, Arie Intan Binekas mengatakan bahwa kurangnya publikasi menyebabkan minimnya kehadiran teman-teman mahasiswa yang lain. Dirinya berpendapat Rakor ini seperti dadakan dan tidak dipersiapkan dengan matang.

“Menurutku kurang kondusif karena pertama ngaret sampai satu jam, kedua banyak dari peserta Rakor yang merokok di dalam ruangan mengganggu kenyamanan yang lain, ketiga kurang terdengar apa yang sudah dijelaskan mungkin nanti kedepannya bisa pakai mic,” ujarnya Kamis (9/8/2018).

 

Reporter : Fadhilah Rama

Redaktur : Muhamad Emiriza

 

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas