Aspirasi

Belajar Politik Sehat dan Menyehatkan

Oleh : Muhamad Ubaidillah*

Sumber : detikcom

5 Agustus merupakan hari berkabung bagi masyarakat Indonesia, khususnya warga Lombok, NTB. Gempa bermagnitudo 7 skala ritcher mengguncang Lombok Utara, hingga BMKG sempat mengeluarkan peringatan tsunami. Sebelumnya, pada tanggal 29 Juli gempa juga terjadi di Lombok dan menyebabkan ratusan pendaki terjebak di Gunung Rinjani.

Setelah gempa yang terjadi 5 Agustus kemarin, banyak komentar bermunculan di media sosial. Banyak yang berbelasungkawa, tak sedikit juga yang mengaitkan hal ini dengan sikap politik Sang Gubernur NTB, TGB Zainul Majdi.

“Ust saya mau nanya, kenapa sejak TGB terang2an dukung Jokowi, tak berapa lama NTB diguncang gempa, bertubi-tubi? Apa ini azab dari Allah? Apa ini teguran? Semoga TGB sadar dan tidak mudah terbujuk rayu setan dunia, dan warga NTB dalam lindungan-Nya.” Begitulah bunyi salah satu cuitan netizen @kacangbesar di Twitter membalas cuitan @felixsiauw “Semoga Allah jaga saudara-saudara kita di Lombok.”

Setelah membacanya, saya bertanya-tanya, Apakah pantas suatu musibah yang menimpa saudara sesama manusia juga tidak direncanakan manusia (karena saya yakin tak ada manusia yang ingin tertimpa bencana) masih harus dikaitkan dengan sikap politik salah satu tokoh? Jika benar, kenapa harus masyarakat banyak yang harus menerima akibatnya? Kenapa tidak satu tokoh yang bersangkutan saja?

Ihwal pandangan politik seseorang, seharusnya masyarakat paham bahwa itu adalah hak prerogatif pribadi masing-masing. Tak sepatutnya dikaitkan dengan musibah yang menimpa masyarakat luas. Dalam Islam memang banyak kisah yang menceritakan peringatan Tuhan kepada mahluk-Nya, lantaran perbuatan maksiat semua mahluk di satu daerah tertentu, tidak satu ada dua orang. Bahkan utusan-Nya pun sudah angkat tangan dalam menyadarkannya, sehingga Allah menurunkan azab bagi mereka.

Baca juga:  Api Obor Asian Games 2018 Sambangi Bandung, Warga Antusias

Jika masih berpikir demikian, maka hal tersebut merupakan pemikiran yang primitif, namun wajar. Karena memang dahulu, kondisi sosial masyarakat Indonesia bahkan dunia selalu mengaitkan fenomena alam atau penyakit dengan murka Dewa-dewa dan atau Tuhan. Sehingga manusia zaman dulu selalu memberikan sesajen atau melakukan ritual agar Dewa dan atau Tuhan tidak murka.

Degan perkembangan teknologi, hal-hal tersebut mulai terjawab secara ilmiah.  Jadi gempa bumi tidak ada kaitannya dengan politik, netizen harus paham tentang itu. BMKG dalam penjelasannya bahwa gempa bumi disebabkan pergeseran lempengan-lempengan bumi. Sehingga terjadi getaran di permukaan bumi karena adanya gelombang sismik dari dalam bumi. Alangkah baiknya netizen kepoin situs BMKG, biar tak keseringan kepoin mantan.

Sehingga tak patut lagi dikaitkan dengan murka Tuhan atau Dewa, apalagi dengan sikap politik seseorang. Politik itu tentang keyakinan, keyakinan akan suatu hal yang akan memberikan pengaruh yang positif dan perubahan ke arah lebih baik. Jadi, jika politik di ranah pemilu atau pilpres, itu hanya tentang keyakinan akan perubahan yang lebih baik, tentang gagasan yang dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat luas.

Isu tentang suku, ras dan antar golongan jangan dikaitkan dengan politik praktis, hal ini berbahaya. Jika prinsip demokrasi dan pilihan politik hanya karena dia sama dengan saya, orang asli Jawa, sama dengan saya beragama Islam, maka golongan yang mempunyai jumlah banyak pasti akan selalu menang. Padahal belum tentu ia berkualitas atau bersih dari korupsi.

Melansir dari tirto.id mengutip perkataan dosen Ilmu Politik UNY Halili Hasan bahwa ketika gagasan dalam berpolitik tidak mengalami diskursus dan dialektika, maka orang akan mencari-cari hal-hal yang tidak logis untuk menjadi komoditas politik.

Baca juga:  Beberes Bandung Ajang Warga Bandung Kerja Bakti Akbar

Jika tentang gagasan, maka posisi tawar calon sama-sama dalam posisi netral. Artinya, dia yang memiliki gagasan yang lebih baik dan jelas maka mempunyai peluang yang lebih besar untuk dipilih. Hal inilah yang menjadikan demokrasi kita sehat dan menyehatkan. Tak ada perpecahan antar masyarakat dan negara dapat dipimpin oleh orang-orang yang mempunyai gagasan cemerlang.

*Penulis merupakan Pemimpin Litbang LPM Institut

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas