Kampusiana

Antisipasi Terorisme, Penutupan Mapping Saintek 2018 Adakan Bincang Damai

Caption : Kegiatan penutupan Mapping Saintek 2018 yang diadakan oleh Dema-F Fakultas Sains dan Teknologi di Gedung Abdjan Solaeman, Minggu (23/9/2018) berlangsung cukup meriah dengan turut menghadirkan pemateri dan hiburan. (Abdul Ajis Said/SUAKA).

 

SUAKAONLINE.COM – Dema Fakultas Sains dan Teknologi mengadakan kegiatan penutupan Masa Pengenalan dan Pendampingan (Mapping) Saintek 2018 di Gedung Abdjan Solaeman, Minggu (23/9/2018). Mapping Saintek yang sudah berlangsung selama 1 bulan ini ditutup dengan kegiatan yang cukup meriah.

Dengan mengusung tagline, “Melangkah Bersama-Bersinergi-Wujudkan Perubahan”, kegiatan ini bertujuan untuk membekali para mahasiswa baru agar lebih mengenal lingkungan sekitar, tidak hanya sekedar mengikuti perkuliahan di dalam kelas.

Dalam sambutannya Opik Taufikurahman, Dekan Fakultas Sains dan Teknologi mengatakan bahwa perlu adanya keseimbangan antara iman dan keilmuan khususnya teknologi, karena dengan iman dan ilmu yang mumpuni kita mampu bersaing dengan orang-orang di luar sana.

“Rekan-rekan nantinya akan mewarisi perilaku nabi, bukan hanya sebatas menjadi pendakwah di masjid tapi juga membuat suatu penemuan baru yang baru. Teknologi dapat digunakan untuk menyelamatkan umat yang beriman dan inilah pentingnya mempelajari teknologi untuk kalian,” paparnya Minggu (23/9/2018).

Kegiatan inti dari penutupan Mapping Saintek ini adalah bincang damai yang turut mengundang Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sebagai pemateri. Sujatmiko selaku Kasubdiv kontra propaganda, memaparkan bahwa ada beberapa ciri-ciri untuk mengenali orang yang mungkin terpapar radikalisme.

“Ada 4 ciri yaitu, memiliki sikap intoleran yang tinggi, menarik diri dari masyarakat, berkonflik dengan keluarga dan orang terpercaya, dan merubah diri secara drastis (pakaian, pekerjaan, dan aktifitas sehari-hari),” ujarnya Minggu (23/9/2018).

Lalu ia pun menuturkan cara-cara untuk mengatasi dan menanggulangi paham radikalisme di Indonesia yang berlawanan dengan sistem demokrasi. “Cara yang dapat kita lakukan adalah dengan melakukan pendekatan secara persuasif dari segi HAM kepada orang di sekitar kita yang kiranya menjurus ke arah radikalisme,” ucapnya.

Baca juga:  Zen RS: Simulakra Sepakbola

Salah satu peserta Mapping Saintek, Nuzula dari Teknik Informatika pun turut memberikan saran kepada BNPT untuk membantu menanggulangi penyebaran terorisme. Ia menjelaskan untuk memanfaatkan open source intelligent dan human source intelligent untuk membuat sebuah sistem yang mampu mencari dan menemukan konten-konten radikal di dunia maya secara otomatis dengan bantuan Artificial Intelligent (kecerdasan buatan).

Selain bincang damai, kegiatan ini pun diisi oleh Choqi Isyraqi pemateri untuk beda buku “Zam-zam”. Nuroh selaku Sekretaris pun mengatakan tujuan mengundang pemateri ini juga usaha mengenalkan seputar taaruf dan lawan jenis kepada mahasiswa baru. Penutupan Mapping Saintek 2018 pun diakhiri dengan hiburan dari Komunitas Mengaji dan penampilan koreografi dari para peserta Mapping Saintek 2018.

Reporter : Fadhilah Rama

Redaktur: Elsa Yulandri

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas