Sosok

Astri Puspa: Lulus Telat, Waktu Lebih Untuk Menuntut Ilmu

Astri Puspa. (Anisa Dewi Anggri Aeni/ SUAKA).

SUAKAONLINE.COM- “Kita harus tetap bersyukur diberi waktu lebih untuk cari ilmu. Orang-orang yang sudah wisuda  orientasinya sudah pasti berbeda. Mulai dari pendapatan, tempat kerja dan tujuan masing-masing” ujar perempuan kelahiran Bandung, 16 Desember 1996.

Adalah Astri Puspa mahasiswi jurusan Sastra Inggris, angkatan 2014 Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung yang masih aktif berkegiatan di luar kampus. Baginya lulus telat adalah hal yang patut disyukuri bukan resah melihat  yang lain sudah menyandang gelar sarjana.

Aci, sapaan kentalnya memang tidak ada masalah di ranah akademik,nilai tergolong aman dengan indeks Prestasi(IP) 3,6.   Meski skripsi masih belum jelas juntrungnya, baginya asal mengisi waktu yang lebih dengan sesuatu yang bermanfaat. “Aku benar-benar menikmati. Hanya saja memang harus memiliki target. Supaya kita tidak membuat kecewa orang tua,” urai Aci.

Salah satu karib Aci, Bayu Bagus Pangestu menilai lulus telat bukan masalah. Dengan catatan kesibukan apapun bisa diterima selama bukan malas-malasan dan menunda-nunda. Bayu mengungkapkan selama kuliah, soal tugas Aci memang tidak telat.  Laki-laki asal Purwakarta itu menyangka  ada sesuatu yang tengah dikerjakan karibnya dan memerlukan waktu lebih lama hingga berimbas pada  skripsinya yang  tertunda. Bayu berharap agar  kehadiran Aci mampu  memberi dampak positif pada orang lain melalui kebaikan-kebaikanya.

Di mata Bayu, ia sosok yang selalu ceria meski banyak pikiran. Lebih banyak hal-hal positif yang didapat.  Ia juga menyadari dari sosok Aci bahwa perempuan yang muslimah  tidak melulu pendiam, bicara baik, banyak bicara lebih baik. “Sosok sahabat yang baik dan selalu berusaha memperlakukan dengan baik sahabat-sahabatnya. Tutur katanya sopan, lembut dan bisa diterima,” pungkas Bayu.

Baca juga:  Rizal : Kritik dan Pujian Itu Adalah Kepuasan

Dua garis besar kesibukan yang dimiliki Aci pertama untuk cari ilmu, kedua untuk mempersiapkan  diri agar lebih matang kala gelar sarjana sudah tersandang. Aci menganalogikan bila dalam satu meja makan, meja tersebut sudah tersaji beberapa makanan dengan sejumlah orang yang melingkarinya. Orang lain sudah selesai dengan makananya, sementara yang masih  diberi waktu lebih akan berfikir jenis apalagi yang kiranya masih bisa tersaji.

Untuk  menolak lupa Aci membeli buku khusus untuk merombak agenda dan cara pandangnya. Mahasiswi penggemar buku motivasi itu sempat berfikir untuk lulus tepat waktu dengan predikat cumlaude. Sayang, harapanyaya kandas lantaran keputusan untuk mencari ilmu di luar kampus lebih menggiurkan. Ia lantas mengambil hikmahnya,menjadi lebih sering mengikuti kajian, pengajian, Sekolah Quran di ITB, sekolah Quran di Bandung, les IELTS dan les TOEFL.

Ia berpesan siapapun yang belum lulus jangan menyerah, sukses adalah memberi manfaat sebanyak-banyaknya bagi orang lain.  Aci menyesalkan ketika gelar didapat, prestasi diraih, tapi hanya untuk diri sendiri tidak menebar manfaat bagi orang banyak.  “Apapun yang aku lakukan asal tidak membuat aku menjadi orang-orang yang merugi,” imbuhnya sembari membetulkan jilbabnya.

Cepat lulus bukan menjadi unsur terpenting, letak  benang merahnya bagi Aci bagaimana setelah lulus dapat mengaplikasikan ilmu yang didapat.  Itu menjadi dasar Aci mengambil politeness sebagai objek penelitianya. Baginya kesopanan serupa mata uang yang berlaku dimana-mana. Sia-sia belaka ketika sudah berjuang selama empat tahun lantas menyerah dengan kalimat “Ya sudah, tidak apa-apa asal beres”. Perempuan yang tinggal di Padjajaran merasakan jauhnya jarak dari rumah menuju kampus sehingga merasakan perjuangan tiap langkahnya.

Menaikkan Standar Impian   

Tonggak masalah utama ketika memutuskan untuk lulus telat adalah orang tua. Ia seolah berkompetisi dengan kakak perempuanya yang sudah berkeluarga. Sindiran kerap muncul lantaran beban dia tidak seberat kakaknya, tidak harus mengurus keluarga dan anak. “Orang tua menginignkan lulus September ini. Kekecewaan pasti muncul karena tidak sesuai dengan prediksi dan ekspetasi mereka,” keluh Aci, pelan.

Baca juga:  Zen RS: Simulakra Sepakbola

Lalu Aci memberanikan diri untuk berdialog dengan ibunya. Ia berujar “Mah Astri dan Teteh punya rezekinya masing-masing, punya problem tersendiri. Aku juga ingin lulus Juli tapi Allah berkehendak lain.” ujarnya

Satu sisi, Aci mampu mengambil hikmah dari rentetan peristiwa yang menyelimuti. Ia mempersiapkan diri lebih matang untuk menggapai impian-impian. Ketika menyadari bakal telat ia lantas meninggikan impianya. Yang tadinya ingin S2 di Australia, bergeser ingin S2 di Harvard University.

Aci tidak bisa memastikan kapan waktunya yang pasti ia yakin dan memeluk mimpi yang menjadi targetnya. Ia meyakinkan orang tuanya  untuk menjadi dosen yang kompeten butuh persiapan yang tidak singkat, waktu belajar di Wall Street kemungkinan bakal ditambah.

Selain ingin mendidik untuk publik, dengan menjadi dosen ia juga berkeinginan menjadi hafizah (Penghafal Al-Quran). Sebagai hadiah  mahkota untuk kedua orang tuanya di akhirat kelak.  “Mungkin ini konyol dan silakan saja kalau ada yang tertawa. Gagal bukan berarti jatuh mestinya menjadi loncatan supaya lompat lebih tinggi.” tutup Aci dengan penuh keyakinan.

 

Reporter: Anisa Dewi Anggri Aeni

Redaktur: Elsa Yulandri

 

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas