Kampusiana

Board Game for Peace: Tanam Perdamaian, Tangkal Benih Kekerasan

Beberapa peserta BGFP 2.0 tengah memainkan The Rampung yang merupakan rangkaian dari kegiatan tersebut di Hotel Kembang Bandung, Sabtu(6/10/2018). (Anisa Eka Putri/ Kontributor).

 SUAKAONLINE.COM- Tahun kedua Boardgame for Peace (BGFP) kembali  digelar.  Mengusung tema “Energy of Diversity” BGFP kali ini diikuti oleh 31 mahasiswa-mahasiswi dari berbagai universitas di Jawa Barat Setelah sukses di 5 kota tahun 2017, kini mereka kembali menebar nilai-nilai perdamaian melalui permaianan-permainan di Hotel Kembang, Bandung Sabtu(6/10/2018).

Materi yang disampaikan tidak jauh dari perdamaian. Dibuka dengan perkenalan, mengenali benih kekerasan dengan meminta tanda tangan sesama peserta yang pernah bersentuhan langsung dengan benih ekstrimisme kekerasan, menempelkan stiky notes bertuliskan kekerasan dan penyebabnya pada pohon kekerasan, memahami 12 nilai perdamaian, serta studi kasus-kasus intoleran, di sela-sela waktu beberapa kali video dokumenter diputar.

Berbeda dengan pelatihan pada umumnya yang terpaku pada materi yang kaku, BGFP 2.0 ini mengedukasi dengan cara yang menyenangkan. Menyelipkan permainan dan analisis tiap materi yang telah disampaikan, membuat peserta terus bergerak sehingga kantuk yang hinggap otomatis lenyap. Selepas jam istirahat kedua peserta kembali memasuki ruangan, mereka diperkenalkan dengan Galaxy Obscurio dan The Rampung. Permainan yang berkaitan dengan sikap hidup dalam keseharian.

Mengedukasi lewat Permainan

Pada permaianan Galaxy Obscurio terdapat 6 planet  dengan karakter yang berbeda. Di sisi lain ada 5 spesies alien terbesar hidup di dalamnya, tujuanya membangun peradaban dan kebahagiaan di tempat yang mereka tinggali. Dilengkapi dengan 46 kartu utama dengan rincian 33 kartu alien, 7 kartu asteroid visqo dan 6 kartu Crystal. 6 Area planet, 20 kartu objektif berupa 6 token Aksi dan 8 token virus.

Para pemain dihadapkan dengan pilihan apakah terus membangun planetnya masing-masing atau membantu menangkal virus agar dunia tetap aman dan permainan terus berjalan. Singkatnya permainan berakhir ketika salah satu pemain terjangkit 3 virus atau salah satu sudah mencapai point 20 atau token virus habis maka galaxy tercemar dan semua pemain kalah.

Baca juga:  Zen RS: Simulakra Sepakbola

Satu tujuan dengan Galaxy Obscurio, permainan The Rampung pun sama. Diumpamakan papan utama adalah sebuah desa yang diisi oleh warga dari berbagai profesi. Memiliki 6 dusun warga tetap hidup berdampingan. 6 karakter dalam permainan ini terdiri atas Petani, Mantra, Peternak, Ibu-Ibu Warung, Pemilik Warnet dan Tukang Ojek.

Pemain akan disibukkan dengan koin dan ‘tanam saham’ di setiap desa yang tengah disinggahi. Pemain pertama yang berhasil menanam saham miliknya di setiap lini maka jadi pemenang. Atas dasar itulah antara ambisius yang berlebih dan egoisitas atau membangun desa secara bersama dan gotong-royong.

Dengan komponen kartu yang kalau dijumlahkan mencapai 43 kartu yang beragam, 25 token uang nominal 1, 10 token uang nominal 5. Permainan berakhir bila salah satu pemain mendapat 3 kartu recruited atau setiap pemain memiliki satu kartu recruited atau salah satu pemain berhasil menanam saham di desa.

Salah satu fasilitator BGFP 2.0 Muhammd Naufal Waliyudin menuturkan dalam opininya yang rilis di Qureta.com(15/8/2018) kehadiran board game, seperti Galaxy Obscurio dan The Rampung yang dibawakan Peace Generation ini, berperan penting sebagai stabilizer kondisi zaman yang semakin bertambah jauh dari interaksi sosial.

 

Adalah Rosa Lamria Mardiana Simbolon mahasiswi asal Universitas Pendidikan Indonesia merasa acara semacam itu bermanfaat untuk kehidupan anak muda.  Sebagai upaya mengasah kepekaan dan mampu mengkritsi permasalahan-permasalahan yang mengganggu stabilitas keadamaian bangsa tanpa memandang latar belakang.

Perempuan yang biasa disapa Rosa itu berharap dengan adanya kegiatan ini semakin menyadarkan masyarakat betapa daruratnya permasalahan-permasalahan intoleransi yang ada. “Sebagai generasi penerus bangsa, anak muda diharapkan mampu memberi kontribusi dan ikut andil dalam mengatasi permasalahan-permasalahan yang hadir. Kegiatan ini ada untuk mengajak dan mengarahkan bahwa perbedaan bukan hambatan untuk hidup dalam kedamaian,” papar Rosa, Minggu(9/10/2018).

Baca juga:  ADD Corner Rangkul Disabilitas

 

Menularkan Nilai Perdamaian

Masih Rosa, ia menyampaikan tindakan yang akan dilakukan setelah BGFP 2.0 rampung “Saya akan membentengi diri dari virus yang menggoyahkan karakter.  Mulai menanam nilai-nilai perdamaian melalui boardgame kepada orang-orang  sekitar. Di tengah krisis toleransi yang meningkat, kita yang sudah dibentuk menjadi peacemaker terus mengupayakan menyebar  toleransi.  Dimulai dari  menghargai sesama, membiasakan bersikap empati dan peka kepada para korban intoleran.”

Berawal dari rasa penasaranya Nur Alim, mahasiswa dari STAI Muhammadiyah Bandung mendaftarkan diri mengisi form mengikuti acara BGFP 2.0 ini. Ia bertanya-tanya bagaimana mungkin permaianan bisa menebar perdamaian. Meski diawal ia merasa acara tak jauh berbeda dengan seminar pada umumnya, namun setelah mengikuti rangkaian hingga akhir ia menemukan hal yang unik dan asyik.

“Acara ini membantu saya menjadi pribadi yang lebih baik lagi, saling memahami perbedaan dan permusuhan. Aku juga berharap mampu menjadi virus-virus penebar perdamaian,” tutur laki laki asal Garut.

Tak jauh beda dengan dua peserta BGFP 2, menarik adalah motivasi pertama bagi salah satu fasilitator BGFP 2.0, Muhammad Naufal Waliyuddin.  Seusai mengikuti BGFP pertama yang dilaksanakan selama tiga hari di Hotel Ibis Style Braga, selama kegiatan berlangsung ia menjumpai metode baru dalam menyebarkan nilai-nilai perdamaian melalui media kreatif dan fun, salah satunya Board game  Galaxy Obscurio.

Setelah tertarik, laki-laki bertopi alumni Tasawuf Psikoterapi UIN Bandung itu merasa penasaran dan tertantang untuk turut menyebarkan.  “Maka dari itu saya daftar program lanjutannya, Training of Facilitator BGFP 2.0  dan berkesempatan diterima sehingga dapat menjalankan tugas  memfasilitasi program ini selama 3 bulan.  Dengan akumulasi program minimal empat kali. Ini program yang kedua  setelah  BGFP Goes to School di SMKN 3 Cimahi, September kemarin,” jelas Naufal, Sabtu(6/10/2018).

Baca juga:  Rizal : Kritik dan Pujian Itu Adalah Kepuasan

Menurut laki-laki yang hobi melukis itu, baik peserta maupun fasilitator dapat menularkan dan  menjaga perdamaian di lingkungan. Mampu memberikan pengertian tentang keluasan cara berpikir, keterbukaan, dan menerima perbedaan dengan senang hati. Cara yang paling sederhana untuk menularkan perdamaian  melalui keteladanan sikap personal masing-masing.

Naufal menjelaskan lebih lanjut pemerintah juga sepatutnya  mencerminkan, meneladankan sikap toleransinya kepada masyarakat. Tidak sekadar dengan wacana lisan dan ceramah pidato belaka. Pun dari sisi masyarakatnya harus mampu menepis tindak kekerasan semampu mungkin.  Untuk meng-counter sikap intoleransi, umpamanya dengan meminimalisir sikap mengucilkan kelompok-kelompok tertentu.  Dengan begitu, sikap penerimaan terhadap aneka pusparagam perbedaan, dapat tersemai dan tumbuh menular ke generasi mendatang.

“Semoga lekas sembuh dan semoga kita sebagai generasi penerus, sudah  lelah  bertengkar terus. Sehingga yang timbul justru kemudian dahaga akan persatuan dan keharmonisan sebagai bangsa, bahkan masyarakat dunia.”pungkasnya.

 

Reporter :Anisa Dewi Anggriaeni

Redaktur: Elsa Yulandri

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas