Sosok

Rizal : Kritik dan Pujian Itu Adalah Kepuasan

Rizal Akbar

SUAKAONLINE.COM – Jumat pagi itu, sekira pukul 9 langit Bandung nampak mendung. Semilir angin sepoy-sepoy sesekali mengayunkan pakaian beberapa orang yang berlalu-lalang di depan gedung Kopertais UIN SGD Bandung. Di teras belakang gedung Aula Abdjan Soelaeman, laki-laki berkacamata dengan setelan kaos abu dan jeans biru asik duduk sambil menggenggam ponselnya. Adalah Rizal Akbar Pratama, laki-laki kelahiran Sukoharjo, Solo, yang dibesarkan di Bandung ini merupakan sosok yang menggemari dunia fotografi dan per-film-an.

Berawal saat dirinya masih duduk di bangku SMA, inspirasi untuk membuat sebuah film datang ketika ia hobi menonton film. Sejak saat itu ia mulai meminjam beberapa alat seperti kamera dan lain sebagainya, ia memulai dengan membuat video cinematic. Kemudian saat sudah memiliki konsep dan dibantu dengan kedua temannya, barulah ia mencoba untuk membuat sebuah film pendek.

Menurutnya, menjadi seorang film maker adalah sebuah rasa, lebih dari sekedar hobi. Setiap kali ia membuat film, memotret, di situ terdapat sebuah rasa yang menimbulkan bahwa ia memiliki dunia sendiri. “Setiap saya membuat film selalu ada rasa tersendiri, momen penting itu gak bisa diulang dua kali, dan dengan film maupun foto adalah cara saya mengabadikan semuanya. Membuat film juga bagi saya adalah obat penenang, karenanya kita bisa membuat dunia kita sendiri di situ,” katanya sambil menatap sekitar.

Saat ini, Rizal sudah menggarap dua judul film, dan kedua genre film itu ber-genre romance. Meskipun masih berbentuk film pendek dan hanya genre romance yang digarap saat ini, menurut Rizal itu merupakan sebuah batu loncatan. Ia pun menambahkan bahwa kesukaannya terhadap dunia film bukan sekadar hobi, melainkan untuk karir ke depannya. Memang, katanya, untuk saat ini dengan fasilitas dan peralatan yang terbatas, pun sumber daya yang kurang, hanya genre romance yang bisa digarap untuk saat ini.

Baca juga:  Milad ke-30, LDM UIN SGD Bandung Gelar acara Muslim Festival

Selain bergelut di per-film-an, Rizal juga mencoba peruntungan di dunia fotografi. Beberapa kali ia sering diminta untuk memotret pre-wedding, wedding, ulang tahun dan proyek-proyek kecil lainnya. Dari sana ia mampu mendapatkan penghasilan. Selain dari Youtube berkat film-film yang di-upload-nya, panggilan foto juga lumayan untuk uang jajannya.

“Meskipun begitu, sebenarnya ketika bikin film itu bukannya dapat uang, tapi malah ngeluarin uang. Sekali bikin film pendek bisa habis 800 ribu untuk sewa alat, bayar teman yang jadi pemeran dan jajan-jajan lainya. Tapi setelah jadi, di situ ada kepuasan,” tutur mahasiswa Jurnalistik UIN Bandung semester tiga tersebut.

Setiap kepuasan tentu memiliki tingkatan, dan kepuasan yang didefinisikan menurut Rizal yaitu ketika ia mendapat apresiasi dari penonton dan penikmat film serta fotonya. Sambil sesekali membetulkan letak kacamatanya, ia mengatakan tak peduli itu apresiasi berupa kritik atau pujian, itu menjadi suatu kepuasan baginya. Saat film itu jadi dan mendapat kritik atau pujian, dirinya merasa bahwa ternyata ia mampu membuat film dengan usaha maksimalnya.

Biasanya, Rizal menggarap satu film pendek dengan dibantu dua orang teman yang menjadi kameramen. Sedangkan untuk konsep dan naskah biasanya mereka bertukar pikiran. Dan yang benar-benar dikerjakannya sendiri yaitu saat editing.”Entah itu foto atau film pasti saya yang mengerjakannya sendiri. Karena itu sih, editing kan bukan cuma butuh skill tapi juga butuh alat. Skill bagus tapi alat kurang memadai ya kan percuma,” jelas laki-laki berbaju abu itu.

Di penghujung percakapan, Rizal, yang akrab disapa Bang Ijal oleh kawan sekelasnya, menutup perbincangan dengan kata-kata yang ia cetuskan untuk memotivasi dirinya sendiri. “Terkadang kita tidak tau kalau di dalam diri kita ada kekuatan yang lebih besar daripada yang kita pikirkan.” tutupnya seraya tersenyum.

Baca juga:  Menelaah Tindak Asusila di Kampus Hijau

 

Reporter : Rizky Syahaqy

Redaktur : Muhamad Emiriza

1 Comment

1 Comment

  1. W. Tannia. R

    20 Oktober 2018 at 09:28

    Tolong untuk reporter, penulis dan redakturnya, kata bahasa asing ditinjau lagi ya. Pre-wedding bukan praweeding, wedding bukan weeding. Jika terpaksa menggunakan kata bahasa asing, diusahakan di cek dulu di kamus atau google translate. Terimakasih 😉

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas