Opini

Zen RS: Simulakra Sepakbola

Oleh  Muhammad Najib Zain

dok. Tirto.id

Setelah membaca buku dengan judul Simulakra Sepakbola (2016) punya seorang kawan, saya langsung mencari tahu siapa sih yang sebenarnya yang mampu dan mau-maunya menulis buku semenarik itu. Ternyata oh ternyata saya baru mengetahui bahwa ada seorang penulis, esais, sekaligus jurnalis yang bernama Zen RS atau lebih tepatnya Zen Rachmat Sugito.

Dalam setiap kata dan kalimatnya mencerminkan bahwa sosoknya penuh dengan analisa dan pengamatan yang tajam dan menujam. Meski tak sempat membaca dengan tamat, saya melanjutkan pencarian itu melalui media lain. Ternyata lagi-lagi saya baru mengetahui bahwa ada banyak sekali setiap pengamatannya-tidak hanya soal sepakbola-yang saya baru temui berupa literasi berbentuk tulisan opini, esai juga analisisnya.

Salah satu kutipan dari buku itu membuat saya terkagum-kagum, berbunyi begini: “Jika pornografi mulai dianggap lebih sensual dibandingkan seks, maka bisakah tayangan sepakbola dianggap lebih sporty dari sepakbola itu sendiri?”

Maka menjadi wajar bila saat itu saya mengerutkan alis sekejap, sebab perbandingan dari satu hal ke hal lain itulah yang membuat saya sedikit terengah. Bagaimana bisa ia membandingkan antara pornografi yang kian sensual dengan sebagian kalangan yang menganggap tayangan sepakbola lebih sporty ketimbang sepakbola itu sendiri. Dan buku ini menjadi buku kedua sekaligus buku pertamanya yang saya baca.

Perlu analogi dan analisa yang pas agar antara kedua hal tersebut tepat untuk dibandingkan.

Tak cukup sampai di sana, saya terus mencari tahu. Dalam tulisan sahabatnya bernama Muhidin M. Dahlan yang terbit di mojok.co saya mengutip, “Di antara puluhan ribu kader HMI MPO di seluruh Indonesia yang berusia di antara 20 hingga 40 tahun, barangkali Zen RS adalah penulis esai terbaik. Tanpa tanding!”

Baca juga:  Menelaah Tindak Asusila di Kampus Hijau

Dalam tulisan tersebut memang tergambar pujian serta-mungkin tak hanya saya-yang mengagumi sosok sepertinya. Dan boleh jadi ia salah seorang esais terbaik sejauh yang saya tahu.

Dan akhirnya saya ngeuh bahwa media bernama Panditfotball.com bertajuk analisis sepakbola dari Indonesia hingga Eropa dengan mengambil sudut pandang sosio-kultur-histori, yang juga saya follow di twitter beberapa tahun lalu, lebih dulu ketimbang saya mengetahui bahwa ialah sang mpunya media tersebut.

Juga belakangan saya tahu bahwa ia salah seorang yang berpengaruh di media literasi lainnya sebut saja Tirto.id dan keidealisannya tertuang dalam tulisan dan setiap gerak-geriknya di berbagai kondisi sosial Indonesia hari ini, menyoal urusan HAM, penindasan serta penggusuran lahan dan tanah rakyat kecil, dan yang terakhir yang paling hangat adalah soal hilangnya nyawa supporter sepakbola dan kecacatan petinggi kelas teri yang ada pada tubuh PSSI.

Malang-melintang sudah tulisannya di pelbagai media cetak terutama sejak ia menginjak bangku Ilmu Sejarah di Universitas Negeri Yogyakarta, masih mengutip seorang sahabatnya itu, “Dalam menjajal kenikmatan menulis itu, ia menjajal beragama tema; mulai lingkungan, film, buku, tokoh, hukum, dunia mahasiswa, hingga kondom. Di majalah kampus LPM Ekspresi IKIP/UNY tulisan-tulisannya dominan dalam hal kuantitas dan kualitas. Maklum, ia tipe lanang-jagat dan bukan organisatoris.” Memang saya setengah setuju dengan sahabatnya itu, sebab dalam beberapa kegiatan yang tayang di layar kaca, lakunya lumayan selengean.

Wajahnya yang karismatik, rambutnya serupa sapu ijuk juga klimis dan argumennya yang penuh analisa, saya selalu menanti-nanti setiap kemunculannya di pra-kick-off saat Piala Dunia 2018 kemarin. Rasa-rasanya belum ada komentator yang membawa sudut pandang yang luas dari hulu ke hilir. Ia berbeda dengan Yusuf Kurniawan atau Bung Kusnaedi.

Baca juga:  Rasa Takut Berujung Trauma

Berkat ilmu sejarah yang ia emban, dalam bukunya tersebut ia seolah menggambarkan kondisi Indonesia pra-merdeka. Mengutip resensi dari Hary G. Budiman yang berjudul Sebuah Catatan Kecil (2016). “… Pada esainya, Zen memberi nafas sejarah yang lumayan panjang tentang Bahasa Indonesia sebagai bentuk nasionalisme awal dan bentuk perlawanan paling mula terhadap kolonialisme modern.”

Bab dengan judul Koloni Bola didominasi esai-esai serius yang menautkan sepakbola dengan sejarah, politik, serta kekuasaan. Esai-esai pada bab ini menurut hemat Budiman, bukan sekadar atas dasar laku menonton/memirsa, tetapi atas usaha pembacaan dan penelitian; pengumpulan sumber (heuristik), kritik sumber, sintesis data, dan interpretasi.

Paling tidak, dengan dan dari Zen kita bisa menarik pelajaran yang amat berarti. Saya sangat setuju dengan beberapa komentar orang-orang dan kawan-kawan, bahwa saya tidak menyangka ia bisa menuliskan sepakbola dengan luwes.

Bahwa paling tidak, sepakbola digambarkan tak hanya salah satu cabang olahraga. Paling tidak, sejarah yang jernih bisa dituangkan dalam sepakbola. Paling tidak, dari pelbagai sudut pandang kita bisa melihat sepakbola.

 

*Penulis merupakan mahasiswa Semester 7 Jurusan Ilmu Hadits Fakultas Ushuluddin 

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas