Lintas Kampus

Seminar Broken News : Menjadi Jurnalis Cerdas

News Anchor Liputan 6, Reza Ramadhansyah saat memberikan materi bagaimana menjadi seorang news anchor yang hebat pada seminar broken news yang diseleggarakan oleh Pers Birama Universitas Komputer Indonesia (Unikom) di Gedung Auditorum Unikom, Senin (22/10/2018). Selain Reza, Redaktur Radar Bandung, Ferry Prakosa dan Wakil Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Bandung, Asep Budianto juga menjadi pemateri. (Dadan M. Ridwan/ SUAKA).

 

SUAKAONLINE.COM – Media informasi saat ini bak jamur di musim hujan, sehingga informasi dengan mudah didapat dari berbagai platform media yang tersedia. Dibalik mudahnya mendapatkan informasi tidak jarang juga informasi palsu yang merugikan masih dijumpai. Untuk menangkal hal itu Pers Birama Universitas Komputer Indonesia (Unikom) menggelar Seminar Broken News dengan tema “Siap menjadi jurnalis cerdas kenali kegagapan media” di Gedung Auditorium Unikom, Senin (22/10/2018).

Seminar ini menghadirkan pembicara diantaranya Redaktur Radar Bandung, Ferry Prakosa, News Anchor Liputan 6, Reza Ramadhansyah dan Wakil Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Bandung, Asep Budianto.

Dalam pemaparan materinya Redaktur Radar Bandung, Ferry Prakosa menjelaskan bagaimana berita dibuat oleh seorang wartawan hingga menjadi sebuah informasi yang dapat dinikmati oleh pembaca. Selain itu Ferry memberikan teknis pembuatan berita, mulai dari penjelasan fakta, pembuatan judul, lead, menentukan narasumber hingga proses merancang liputan.

Ferry mengingatkan kepada peserta jika dalam pembuatan berita harus menimbang jika akan menggunakan narasumber anonim. Apakah penggunaan narasumber anonim menguatkan atau mencelakakan. Wartawan harus siap menanggung risiko terhadap kemungkinan terburuknya, yaitu dipenjara.

“Yang terpenting dalam melakukan peliputan berita adalah menyiapkan keinginan kuat untuk maju, untuk menyajikan karya terbaik bagi pembaca,” ungkapnya.

Semantara itu News Anchor Liputan 6, Reza Ramadhansyah memaparkan bagaimana menjadi seorang news anchor yang baik. Ia mengawali materinya dengan berbagi pengalaman selama  menjadi seorang jurnalis TV. Ia bercerita liputan yang paling berkesan adalah saat meliput aksi 212, pasalnya ia terkana gas air mata. “Tau rasanya kena gas air mata? Coba anda siapkan merica dan cabe lalu tabur di mata,” kenang pria yang sudah 8 tahun menjadi jurnalis.

Baca juga:  Milad ke-30, LDM UIN SGD Bandung Gelar acara Muslim Festival

Diera siber  televisi masih menjadi media yang diminati oleh khalayak. Menurut Reza walalupun masyarakat banyak mengkonsumsi berita dari media siber namun mereka akan mencari tahu kebenaran suatu berita dari siber ke televisi. Selain itu, televisi memiliki dua aspek yang membuat informasi lebih efektif ditangkap oleh khalayak, yaitu audio dan visual.

Reza menjelaskan jika news anchor berbeda dengan news reader, news anchor tidak hanya membacakan berita di depan kamera namun seorang news anchor harus bisa melakukan liputan, live report, dialog, memiliki wawasan yang luas, kritis dalam mengajukan pertanyaan, memiliki kemampuan negosiasi narasumber yang baik.

Sedangkan Wakil Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Bandung, Asep Budianto memaparkan bagaimana regulasi Pers di Indonesia yang diatur dalam UU No. 40 Tahun 1999. Pada hakikatnya semua orang bisa melakukan kegiatan jurnalistik sebagai implementasi Pasal 17 ayat 1, namun belum tentu bisa disebut wartawan. Menurut Asep wartawan harus masuk dalam lembaga pers yang berbadan hukum.

Untuk mekanisme penyelesaian atas pemberitaan yang merugikan jika karya jurnalistik masyarakat akan langsung ditindak oleh kepolisian, sedangkan karya wartawan akan melalui Dewan Pers.

 

Reporter : Dadan M. Ridwan

Redaktur : Elsa Yulandri

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas