Kampusiana

Menunggu Hasil Keputusan Banding UKT Angkatan 2018

Ilustrasi oleh Rizky Syahaqy/ SUAKA.

 

SUAKAONLINE.COM – Penambahan kategori Uang Kuliah Tunggal (UKT) menjadi tujuh kategori masih menuai protes. Sejumlah mahasiswa UIN SGD Bandung angkatan 2018 melakukan banding UKT. Banding tersebut dilakukan dengan harapan yang mendapatkan UKT kategori tinggi dapat turun menjadi kategori rendah.

Banding UKT yang dibuka sejak 1 hingga 10 Oktober ini dilakukan dengan sistem online  di www.penyesuaianukt.uinsgd.ac.id. Pengaju banding diminta untuk mengisi surat keabsahan data dan kesanggupan menerima keputusan, dan surat permohonan penyesuaian UKT mahasiswa angkatan 2018. Di dalam surat permohonan penyesuaian UKT, pengaju banding diharuskan mengisi alasan mengapa melakukan pengajuan banding UKT.

Sementara itu dalam surat keabsahan data, terdapat aturan yang menyebutkan apabila terdapat data-data yang tidak sesuai, maka akan diberikan sanksi administrasi berupa dinaikkan ke UKT kategori tujuh dan bersedia menerima hukuman sesuai dengan peraturan. Kedua surat yang sudah diisi oleh pengaju tersebut kemudian di-scan lalu di-upload bersama surat tagihan listrik, slip gaji orang tua, dan foto keadaan rumah, serta surat pajak bumi dan bangunan ke website www.penyesuaianukt.uinsgd.ac.id.

Salah satu mahasiswa jurusan Teknik Informatika, yang tidak ingin disebutkan namanya, mengajukan banding UKT dengan alasan bahwa dirinya keberatan mendapatkan UKT kategori lima dengan jumlah nominal uang sebesar Rp 5.496.000.

“Itu karena engga sesuai dengan gaji orang tua saya, kasihan juga sama orang tua kalau harus bayar segitu (Rp 5.496.000,00 – Red) tiap semesternya. Ditambah lagi ada dua adik saya yang masih SD dan SMA, jadi tanggungan orang tua otomatis besar juga,” keluhnya, Senin (22/10/2018).

Bapaknya bekerja sebagai wiraswasta dan ibunya sebagai guru Taman Kanak-kanak (TK) yang masih berstatus honorer tidak memiliki gaji yang cukup besar. Ia sangat berharap UKT yang didapatnya sekarang bisa turun agar tidak membebani kedua orang tuanya.

Baca juga:  Kala Tumpuan Terakhir Menjadi Batu Pengganjal

“Semisal gak bisa turun UKT-nya ya sebenernya orang tua mah menyanggupi saja, tapi kan kasihan juga kalau tetap di kategori lima. Saya cuma bisa pasrah saja, biar keputusannya diberikan yang terbaik,” sambungnya.

Disamping itu pula, ada beberapa mahasiswa yang mengajukan banding UKT namun sudah terdaftar dalam seleksi beasiswa bidik misi. Tentu hal itu akan menggugurkan banding UKT-nya secara otomatis. Seperti mahasiswa Jursuan Jurnalistik M. Ikhsan Kamil, juga mengajukan banding UKT. Dengan harapan agar UKT-nya bisa turun, ia datang ke Aljamiah untuk mananyakan perihal banding UKT, sayangnya ia tak bisa karena sudah lewat dari tanggal 10 yang merupakan hari terakhir pengajuan banding UKT.

Namun, Wakil Dekan II Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), Fauzan Ali Rasyid, yang sekaligus sebagai ketua verifikasi penyesuaian UKT FSH menjelaskan, bilamana mahasiswa yang gagal dalam seleksi bidikmisi akan ada 100 kuota yang secara otomatis diturunkan UKT-nya menjadi kategori satu.

“Itu akan kami turunkan otomatis kalau syarat dan datanya memang sesuai untuk diturunkan grade UKT menjadi yang paling rendah, atau kategori satu. Kategori satu juga kan sudah bisa dikatakan sebagai beasiswa. Tapi kalau tidak sesuai kriteria penurunan UKT maka tetap pada UKT yang sebelumnya,” jelas Ali di ruang kerjanya, Rabu (24/10/2018).

Ali juga menyebutkan bahwa di FSH ada sekitar 136 pengaju banding UKT dan kemungkinan akan lolos sekitar 60 persen setelah dilakukannya verifikasi. Selanjutnya, sambung Ali, yang membuat pengajuan itu ditolak selain data yang tidak sesuai, terkadang mahasiswa tidak mengisi jumlah kategori UKT yang mereka inginkan disurat banding. Hal itu akan membingungkan tim verifikasi dan pengajuan tersebut ditolak.

Baca juga:  Milad ke-30, LDM UIN SGD Bandung Gelar acara Muslim Festival

“Untuk pengumuman itu harus nunggu pengumuman bidikmisi dulu, kira-kira akhir Oktober ini bidikimisi diumumkan. Kemudian disusul dengan pengumuman penyesuaian UKT yang pastinya pada awal November, tapi belum pasti tanggal berapa. Nanti mahasiswa bisa lihat di website resmi UIN Bandung,” tutupnya dengan lugas.

 

Reporter : Rizky Syahaqy

Redaktur: Elsa Yulandri

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas