Lintas Kampus

Kamaba Gelar Malam Budaya Aceh Ke-3

Sejumlah penari dari Unit Kebudayaan Aceh ITB, memainkan tarian Rapai Geleng dalam rangkaian Malam Budaya Aceh, di Taman Budaya Jawa Barat, Dago Tea House, Jalan Bukit Dago Utara, Kota Bandung, Minggu (28/10/2018). (Harisul Amal/ SUAKA)

SUAKAONLINE.COM – Keluarga Masyarakat Aceh Bandung (Kamaba), kembali menggelar Malam Budaya Aceh yang ke-3, di Taman Budaya Jawa Barat, Jalan Bukit Dago Utara, Kota Bandung, Minggu (28/10/2018). Acara yang diikuti oleh unit pemuda dan organisasi daerah Aceh di berbagai kampus ini menampilkan ragam kesenian Aceh. Yaitu Tari Ranup Lampuan, Tarek Pukat, Rapai Geleng, Didong Gayo, Ratoeh Duek, Likok Pulo, Peuleubat, Bru Dihe, dan Musikalisasi Puisi.

Ketua Pelaksana Malam Budaya Aceh, Zoelkifli M Adam, mengatakan, tujuan diadakan acara ini salah satunya adalah untuk mengobati rasa rindu kita masyarakat Aceh yang tinggal di Kota Bandung, untuk kembali dapat menikmati tampilan-tampilan kesenian Aceh yang semangat, enerjik, dan penuh makna. “Acara ini menampilkan berbagai tarian kesenian Aceh yang disuguhkan oleh unit Organisasi Daerah (Orda) Aceh yang ada di berbagai kampus di Bandung,” ujarnya.

Ketua Unit Kebudayaan Aceh (UKA) Institut Teknologi Bandung, Ummi Nadra Irham, mengatakan, acara seperti ini sangat diperlukan untuk menjaga eksistensi kesenian Aceh di Bandung. Apalagi di acara ini juga banyak tarian-tarian baru yang ditampilkan. Seperti Didong Gayo, Peulebat, dan tari Bru Dihe.

“Karena kan yang selama ini orang-orang disini tau tentang tarian Aceh itu hanya yang seperti Tari Saman dan Tari Ratoeh Jaroe, kan. Jadi ini sebuah inovasi segar gitu, mengenalkan tarian-tarian Aceh dari berbagai suku dan daerah di Aceh,” ungkapnya

Ummi berharap, semoga kedepannya mahasiswa dan pemuda Aceh di Bandung dapat terus menjaga semangatnya dalam melestarikan kesenian dan kebudayaan Aceh, agar eksistensi masyarakat Aceh di Bandung ini dapat diketahui lagi oleh orang-orang Bandung itu sendiri. Ia menambahkan semoga nantinya bakal ada lebih banyak tarian Aceh yang dapat dipelajari, dan punya wadah lagi untuk ditampilkan ke orang banyak.

Baca juga:  Rasa Takut Berujung Trauma

“Untuk acara Malam Budaya Aceh ini kami turut menampilkan tarian Rapai Geleng. Persiapannya rutin latihan selama tiga minggu, karena latihannya bukan lagi dari dasar, kebetulan kami juga sudah cukup sering menampilkan tarian Rapai Geleng, apalagi baru-baru ini kami baru menggelar acara Malam Budaya Aceh di ITB, jadi latihan kami untuk menyempurnakan gerakan saja,” tambahnya

Senada dengan Ummi, Ketua Unit Kebudayaan Mahasiswa Aceh (UKMA) Telkom University, Angga Aulia, mengatakan banyak esensi yang bisa didapat dari acara ini, salah satunya adalah semangat. Menurutnya hal ini penting agar terus dapat melestarikan budaya Aceh, terutama di pulau Jawa ini. Apalagi bagi mahasiswa-mahasiswa rantau yang jauh dari kampung halaman, bukan berarti harus melupakan kebudayaan kita sendiri.

“Di malam ini menampilkan tarian Ranup Lampuan sebagai pembukaan dan penyambutan tamu.  Kami udah memulai latihan sejak sebulan yang lalu, semenjak mendapat undangan untuk ikut memeriahkan acara Malam Budaya Aceh ini. Kami latihan setiap malam, rutin selama satu jam,” pungkasnya.

Adapun tarian-tarian dalam acara ini disuguhkan oleh unit mahasiswa dan organisasi daerah Aceh di Bandung. Yaitu Asrama Mahasiswa Aceh Teuku Umar, Unit Kebudayaan Aceh (UKA) ITB, Rakan Aneuk Nanggroe (Ranup) Unpad, Unit Kebudayaan Mahasiswa Aceh (UKMA) Telkom University, Perhimpunan Lintas Angkatan Mahasiswa Aceh (Panglima) UIN SGD Bandung, Pemuda Pemudi Unggulan Lintas Etnis Bandung Aceh Tenggara (Peulebat), Keluarga Mahasiswa Aceh Gayo Bandung, dan Ikatan Mahasiswa Aceh (Imapi) UPI.

 

Reporter : Harisul Amal

Redaktur : Muhamad Emiriza

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas