Lintas Kampus

Scriptual Reasoning: Saling Memberi Pemahaman Antar Keyakinan

Beberapa peserta SR sedang membaca lembaran yang berisi ayat-ayat suci dari Al Quran surat Maryam dan dari Alkitab surat Lukas, Yayasan SIlih Asih Bandung, Kamis (25/10/2018). (Anisa Dewi Anggriaeni /SUAKA).

 

SUAKAONLINE.COM- Langit Bandung masih menyisakan gerimis, beberapa bagian jalan yang berlubang tergenang air. Belum lagi angin yang menyapa selama perjalanan. Hari itu Kamis, 25 Oktober di dalam kantor Yayasan Silih Asih Bandung kisaran pukul 18.30 Scriptual Reasoning(SR) dimulai. 10 orang yang hadir nampak khidmat membaca lembaran yang berisi potongan surat Maryam ayat 12-15 dari Alquran serta dari Al Kitab surat Lukas ayat 1-17.

Setengah jam selepas memahami isi ayat tersebut tiap-tiap peserta SR mengutarakan apa yang dipahaminya. Lalu anggota yang mengikuti SR berdiskusi mengenai karakter Tuhan, nabi, orang-orang yang diceritakan dalam kitab suci tersebut, nilai perdamaian yang didapat, ayat yang disukai, dan juga langkah konkret yang akan dilakukan.

Adalah Melan, ia mengungkapkan pendapatnya selepas membaca ayat suci  bahwa Tuhan menciptakan manusia agar bisa berbuat kebaikan dalam Alkitab maupun Alquran. Allah memahami karakter manusia di dunia mesti menumbuhkan pemahaman semacam role mode untuk bersikap dan memahami orang lain. Seperti yang telah digambarkan dalam ayat-ayat tersebut tentang Nabi Yahya. Langkah konkret yang akan akan dilakukanya berdamai dengan diri sendiri. Ia tersentuh kisah Nabi Yahya yang sedari kecil sudah mendapat hikmah.

Dialog interaktif pun terjalin antara yang Muslim dan Kristiani, menanyakan hal yang belum dipahaminya terkait Nabi Yahya. Evan menanyakan peran Nabi Yahya dalam Islam dijawab oleh Arij dan tambahan dari peserta yang lain. Pun Melan menanyakan yang masih belum dimengerti ketika membaca Lukas dan coba memahami maknanya.

Baca juga:  Kala Tumpuan Terakhir Menjadi Batu Pengganjal

Anisa Eka Putri, salah satu fasilitator YIPC Jabar menuturkan SR digagas oleh Cambridge Interfaith Programme, Cambridge University. Tujuan diadakannya SR yakni agar terbuka satu sama lain sehingga terbentuk kejujuran dan terciptanya persahabatan antara Muslim dan Kristiani. “ Dari apa yang saya alami tujuan dari SR ini sendiri untuk belajar dan memahami apa yang diyakini keyakinan lain dan tentunya untuk menemukan kesamaan antara dua keyakinan ini,” tambah perempuan berkacamata itu.

Kegiatan SR dilakukan agar terjadi dialog antara Kristiani dan Muslim dengan basis kitab suci antara Alquran dan Alkitab. Kegiatan SR menjadi rutinitas komunitas Young Interfaith Peace Camp (YIPC) dilaksanakan dua kali dalam sebulan bergantung regional masing-masing tentunya dengan tema-tema yang sudah disediakan atau tema-tema tematik.

Ninis, sapaan dekat Anisa merasa SR memperkuat basis imanya sebagai seorang muslim selain lebih mengenal kitab sucinya sendiri juga memahami apa yang tertulis dalam Alkitab. Membuka wawasan mengenai keagamaan yang semakin luas dan berdialog langsung. Sehingga mendapat pemahaman yang fenomenologis berdasar pada penganutnya melalui diskusi-diskusi yang muncul pada saat SR.

Tak jauh berbeda dengan Ninis, Rudi Fransicus Tanjaya merasa pengetahuanya bertambah dan mulai memahami karena ketika membaca juga saling memberitahu. Ada dialog yang tercipta bukan  untuk saling debat tapi ajang untuk saling mengetahui dan memahami bahwa dalam perbedaan sendiripun ada persamaan yang lain. SR  juga memperkaya diri dan bisa membuka cakrawala pikiran tentang orang yang berbeda kepercayaan.

Salah satu mahasiswi Studi Agama-Agama, UIN SGD Bandung, Mela Rusnika yang kerap mengikuti SR memaparkan awalnya sebelum ikut SR dia memiliki prasangka kalau orang-orang Kristen itu meskipun ada Alkitab tapi mereka dalam kehidupan sehari-harinya tidak berpedoman pada Alkitab. Karena yang ia lihat adalah orang-orang Kristen yang ada di luar negeri.  Dimana dia sendiri belum terlalu mengenal lebih dalam sebenarnya seperti apa  keberagamaannya mereka secara lebih mendalam.

Baca juga:  Rasa Takut Berujung Trauma

 

Imbas positif lainya untuk Mela, SR itu mengubah pandanganya. “Aku jadi tahu rasionalisasi orang-orang Kristen memaknai Alkitab dalam kehidupannya bagaimana dan seperti apa. Contohnya, seperti ayat Alkitab yang mengatakan sebenarnya ibadah  orang Kristen bisa di mana saja, tidak selalu di gereja” tuturnya.

Sejalan dan Satu Visi

Gol dari YIPC sendiri adalah perdamaian dan keyakinan. SR salah  satu  metode yang sangat mendukung dan sejalan dengan visi YIPC. Menurut Suka Prayanta Pandia selaku Koordinator Acara YIPC Jabar SR sangat efektif untuk menebar perdamaian lantaran mengangkat dari kitab suci.

SR bukan informasi yang langsung bisa ditelan mentah, tetapi seperti satu latihan dimana orang semakin terbiasa dengan perubahan nilai yang ada pada diri. SR juga sangat efektif dalam mengatasi prasangka. Sebab prasangka muncul karena ketidaktahuan dan menduga-duga, ketika membuka kitab suci ternyata ada hal- hal mendasar yang sama dan itu mampu meruntuhkan prasangka.

Bagi agama lain yang ingin ikut belajar mereka sangat terbuka. “Interfaith bukan hanya bicara Muslim dan Kristen. Hanya selama ini mayoritas atau yang terlibat adalah Muslim dan Kristen, pun SRnya dicocokkan dengan kedua agama tersebut”tutur Suka, Kamis(25/10/2018).

Ermawati Gersang, selaku head facilitator YIPC Jabar menjelaskan lebih rinci untuk yang ingin ikut SR harus melalui Peace Camp terlebih dahulu. Disana peserta akan diberi materi terkait nilai-nilai perdamaian dan sudah melatih diri mengikuti SR. Lantaran tidak cukup hanya tiga hari maka SR terus dilakukan secara rutin dan berkelanjutan, sebulan dua kali dengan tetap memperhatikan kondisi dan komposisi.

“Karena hidup yang kita jalani ini belajar, hanya anggota peace camp atau akan mengikuti atau dia yang memang pikiranya terbuka dan ingin ikut peace camp. Bagi orang yang datang ke SR untuk menjatuhkan kita tidak terima tetapi kalau memang ingin belajar kita terbuka sekali,”ungkap Erma yang duduk di sebelah Suka.

Baca juga:  Menelaah Tindak Asusila di Kampus Hijau

Senada dengan Erma, Rudi yang merupakan koordinator YIPC Bandung  menegaskan tujuan SR untuk  belajar kepercayaan yang berbeda agama agar saling mengerti dan memahami. Karena sifatnya belajar siapapun boleh, bagaimanapun boleh. Mereka hanya mengarahkan saja, jadi tidak ada keharusan dan sebagai modal awal sebelum SR harus mengenal nilai-nilai pentingnya.

“Kalau metode yang tepat sebenarnya peace camp, sudah dibekali nilai-nilai perdamaian, bagaimana mampu  menghargai keyakinan yang berbeda dengan diri. kalau sudah ikut peace camp orang-orang sudah bisa terbuka dengan yang berbeda keyakinan, suku, status ekonomi, dan gender,” urai Rudi, Sabtu(27/10/2018).

Tidak jadi masalah bila seseorang ingin ikut SR tanpa peace camp,  Rudi melanjutkan, namun dengan catatan pikiran yang terbuka, sebab menurut Rudi belajar agama orang lain juga berat. Tidak pernah tahu orang-orang di luar pemikiranya seperti apa. “Siapapun  bisa saja ikut tidak jadi masalah, yang menjadi masalah ketika sedang mempelajari agama sendiri juga bisa memahami agama orang lain dalam satu waktu. Sebab yang dilihat bukan saja perbedaan tetapi pemahaman dari agama yang berbeda.” tutupnya

 

Reporter: Anisa Dewi A

Redaktur: Elsa Yulandri

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas