Kampusiana

Talkshow Kemediaan, LPM Suaka Angkat Tantangan Media di Era Milenial

(Dari kiri ke kanan) moderator talkshow Anisa Dewi Anggraeni, Editor at Large Tirto  Zen Rahmat Sugito, Wakil Pimpinan Redaksi Beritagar , Rahadian P. Paramita, dan Senior Produser Video Depth Vice Indonesia, Rizky Rahadianto, sebagai pembicara dalam talkshow dengan temaTantangan Media di Era Milenial yang diadakan LPM SUAKA dalam rangkaian MILAD ke-32, di Aula Abdjan Soelaeman, sabtu (03/11/2018). (Anggi Nindya Sari/ SUAKA).

 

SUAKAONLINE.COM– Lembaga Pers Mahasiswa UIN SGD Bandung memasuki usia 32 tahun. Dalam perayaan miladnya pada Sabtu (3/11/2018) di Aula Abdjan Soelaeman yang mengusung tema besar “Rona Rana Millenial”. LPM Suaka menghadirkan pemateri dari tiga media besar yaitu Tirto, Beritgar, dan Vice dalam talkshow kemediaannya.

Menjawab tantangan media di era milenial, talkshow tersebut bertajuk ‘Tantangan Media di Era Milenial’. Dalam talkshow itu menghadirkan praktisi  media seperti Editor Tirto Zen Rahmat Sugito, Wakil Pimpinan Redaksi Beritagar Rahadian P. Paramita, dan Senior Produser Video Depth Vice Indonesia, Rizky Rahadianto.

Zen mengatakan ada begitu banyak stereotipe tentang generasi milenial yang padahal itu hanya mitos, seperti multitasking, malas membaca, terlalu gampang berpindah fokus. pada dasarnya ini tentang masalah generasi. Sekarang ini, Ia melanjutkan, dirinya tidak merasa tengah berhadapan dengan generasi millenial, tapi lebih merasa berhadapan dengan sebuah era digital atau algoritma. “Era millennial itu ya kira-kira antara yang paling observasi itu lahir tahun 1977-1997, beberapa dari kalian bukan milenial, tapi sudah generasi Z,”ujar pria yang kerap di sapa Zen RS.

Tahun 1997  Indonesia berada di masa transisi demokrasi, baru sebagian orang saja yang baru merasakan internet. Menurut Zen, generasi sekarang harusnya bisa lebih pintar dan lebih cerdas karena tumbuh dengan teknologi sedari kecil. Ia melanjutkan, untuk bertahan di era digital ini media tidak boleh selalu mengikuti tranding.

Baca juga:  Kala Tumpuan Terakhir Menjadi Batu Pengganjal

“ Sekarang itu banyak media yang menulis mengenai topik-topik yang sedang hangat. Menurut saya media yang mengikuti tranding itu seperti gabus di lautan, maka sebuah media harus bisa menemukan cara untuk terombang ambing di tengah lautan. “ Tirto mengakali itu dengan menawarkan tulisan panjang yang ditulis dari berbagai sudut pandang. Kita bahkan menulis suatu isu yang hanya ditulis oleh media lokal tapi itu perlu diketahui secara nasional,” ungkapnya.

“ Kami tidak ingin berdebat dengan stereotip mengenai generasi A itu begini, generasi B itu begini. Pemilihan generasi itu sistematis,  saya memandang dunia dengan secara lurus, setiap generasi selalu menganggap generasi lebih baik dari sebelumnya.  Kemampuan kognitif manusia masih sama. Generasi sekarang jauh lebih pintar lebih jelas,”

Berbeda dengan Tirto, Beritagar yang lebih fokus pada data mengaku tidak memiliki cukup banyak pasukan lapangan, salah satu yang tengah dikembangkan dikaitkan dengan algoritma, otomasi, dan melihat perkembangan besar. Meskipun sekarang tengah penuh pembicaraan tentang revolusi industri satu hingga empat otomasi itu masih ada di revolusi industri nomor tiga, dan itu sudah terlewat, dan otomasi sendiri sudah berjalan dengan baik di beritagar.

Selain itu, Beritagar menggunakan kecerdasan buatan yang mencoba memahami bahasa manusia yang dilakukan guna melihat perkembangan ke depan yang mengarah pada banjir data. Akan tetapi teknologi buatan tidak dapat digunakan untuk semua data, hanya beberapa data yang sudah pasti,seperti kurs dolar, harga saham,tetapi untuk verifikasi belum dapat dilakukan.

“ Robot tidak akan pernah bisa menggantikan manusia, jadi sebenarnya kami itu mengembalikan manusia ke fitrahnya. Saya rasa tidak perlu khawatir jika pekerjaan jurnalis diambil oleh robot karena membaca data yang dilakukan oleh robot itu terbatas,” tutur Rahadian.

Baca juga:  Akrobat Nakal Oknum Pengajar

Beritagar sendiri menurut Rahadian tidak mengedepankan liputan cepat, karena investasinya di teknologi. Ia lebih melihat ke isu-isu yang banjir data, seperti berita yang dibuat oleh robot tapi dengan catatan data yang sudah spesifik semisal berita hasil akhir olahraga. Lalu berita mengenai hasil akhir polusi udara yang risetnya hingga satu tahun, setelah itu baru dibuat risetnya.

Untuk Vice sendiri, Rizky Rahadianto cara mereka menghadapi tantangan media di era milenial adalah dengan cara gaya bahasa non formal yang bisa dimengerti semua kalangan utamanya remaja. Selain itu Vice juga menggunakan video yang lebih eye cacthing, dan juga lebih mengutakan sudut pandang yang objektif.

Menurut Rizky, konten Vice itu hanya melanjutkan isu-isu yang sudah ada. Misalnya, isu poligami yang dikemas dengan video yang anak muda banget. Ia mengungkapkan, isu-isu berat apabila dikemas dengan kemasan yang anak muda dan eye catching akan menjadi isu ringan dan menarik untuk dibaca.

Vice memang targetnya kaya masih yang suka teknologi, ya otomatis anak muda. Mungkin dengan itu ya konsep yang mengedepankan objektifitas. Intinya kami menyamakan sudut pandang, dan membenarkan stereotip itu benar atau tidak.” tutup Rizky.

 

Reporter : Anggi Nindya Sari

Redaktur : Elsa Yulandri

 

 

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas