Fokus

Akrobat Nakal Oknum Pengajar

Oleh Elsa Yulandri

Ilustrasi. Akrobat Nakal Oknum Pengajar/ Asep A. Hidayat

Kewajiban seorang dosen adalah mengajar, namun ada sebagian oknum dosen berlaku menyimpang. Diduga melakukan tindakan pelecehan seksual kepada mahasiswinya dengan bermoduskan akademik. Salah dua dari korban yang kami temui, mereka diduga dilecehkan oleh satu oknum dosen yang sama.

SUAKAONLINE.COM — AS -bukan inisial sebenarnya- menunggu nilai UAS satu mata kuliah yang belum juga muncul. Ia pun mencoba menghubungi dosen X -bukan inisial sebenarnya-, yang mana pengampu mata kuliahnya. Berhubung ia juga sebagai sekretaris, ia menanyakan bagaimana nilai kelasnya pada dosen X. Lama tak dijawab, akhirnya pesan itu berbalas. Ia diajak untuk membahas nilai di luar kelas.

AS curiga, kenapa harus di luar. Berdasarkan bukti chat yang diterima membuktikan, dosen X diduga sering kali mengajak AS untuk pergi jalan. Seperti chat pada 3 Mei 2016, ia menanyakan apakah AS pergi ke kampus, lalu X mengajak pergi ke Puncak. Namun AS seakan menolak dengan menjawab, “Bogor pa? Jauh juga ya pak.”

Setiap ajakan itu ia selalu menolak. Namun suatu hari, dengan terpaksa ia ikut ajakan dosen X. Pikirnya, ini hanya membahas nilai saja. Meski begitu, Rangga -bukan nama sebenarnya- yang juga teman dekatnya, menyarankan untuk tetap berhati-hati. AS pun meminta agar Rangga bersama dua teman lainnya mengikuti saat di perjalanan. Mereka pun sepakat.

AS dan dosen X bertemu  di depan Apotek Al-Masoem Cibiru. Dosen X sudah menunggu di dalam mobil. Mobil pun melaju, tapi Rangga masih sibuk dengan motornya. Mereka tertinggal cukup jauh. Rangga pun memacu motornya dengan amat kencang, ia melewati satu demi satu mobil di depannya. Mobil itu berwarna hitam, namun ia lupa apa merek mobilnya.

Baca juga:  Fakultas Psikologi Gelar Pemilihan Anggota SEMA-F Psikologi

Sesuai janji, ponsel AS harus dalam posisi sedang menelepon, agar terdengar apa yang dibicarakan di dalam mobil. Sayang di tengah jalan, ponsel Rangga tiba-tiba mati dan ia bingung harus ke arah mana. Selagi mobil terus melaju, AS segera mengabari teman yang ikut mengikuti.

Di dalam mobil, AS mengaku, dirinya diduga dilecehkan oleh dosen X. Tangan dosen X beberapa memegang paha AS. Tapi, beberapa kali juga ia menggeserkan tangan dosen X sebagai bentuk penolakan. Lalu dosen X berkata, “Ih jangan so alim.”

***

Sampailah mereka di rumah makan khas Jepang di Paskal Hyper Square, Pasir Kaliki. Lalu, AS memberi kabar. Rangga tahu lokasi rumah makan itu, ia langsung menuju ke sana. Sesampainya di lokasi, ia melihat mereka berada di lantai atas. Ia lekas ke atas, lalu memberi tanda kepada AS, bahwa ia menunggu di dalam toilet.

Lalu, AS meminta izin untuk pergi ke toilet. Saat di toilet, tiba-tiba isak tangisnya tak tertahan, Rangga yang sudah menunggunya di toilet pun bingung. Cukup lama berada di toilet, ia ditelepon oleh dosen X. Mendapat telepon, AS kembali ke meja makan.

Dalam perbincang, AS diiming-imingi biaya kuliah dan kostan gratis. Tapi dengan syarat, ketika dosen X sedang lelah dan stres ia harus bersedia menemaninya. AS hanya bisa membisu.

Dosen X pun menanyakan kenapa kontak BlackBerry Messenger (BBM)-nya tidak ada. AS beralasan PIN BBM-nya baru. Lalu dosen X meminta untuk ditambahkan kembali dengan menyodorkan ponselnya. Saat akan memasukkan PIN-nya, ia melihat di kolom obrolan banyak profil kontak temannya. Ia curiga temannya pun senasib dengannya, diajak untuk pergi.

Jam menunjukkan pukul sembilan malam, mereka pun akhirnya pulang. Rangga dan temannya masih mengikuti dari belakang mobil. Tiba-tiba mobil tersebut belok ke arah gerbang tol. AS kian merasa takut karena Rangga dan temannya tidak bisa masuk tol.

Baca juga:  Kunjungan Komisi VIII DPR RI ke UIN Bandung

Masih di jalan tol, karena takut, AS mencoba mengabari temannya untuk berpura-pura menjadi tantenya. Teman AS pun setuju. Ponsel AS terus berdering, saat menerima telepon, ia sengaja mengeraskan suara ponselnya, agar dosen X mendengar. Akhirnya, cara itu pun berhasil. Dosen X luluh dan mengantarnya pulang. Ia meminta diantarkan ke rumah tantenya, di daerah Margahayu, yang sebenarnya adalah rumah Ibu Rangga.

Saat di perjalanan pulang, dosen X mengatakan sesuatu yang membuatnya kebingungan. “Bapak pengen megang miss V,” ucap X. Ia bingung dan tak mengerti apa yang dimaksud. AS baru mengerti maksud oknum dosen tersebut saat menceritakan ulang kejadian itu di rumah Rangga.

Saat hampir dekat daerah Margahayu, dosen X mengajaknya untuk menginap di hotel daerah Soekarno Hatta. “Tak apa nanti kamarnya dua aja,” kata AS, mengulangi perkataan oknum dosen tersebut. Ia menolak, dengan alasan ingin segera pulang.

Tepat pukul 11 malam, mereka sampai di depan Domino’s Pizza Margahayu. Temannya berpura-pura menjadi tukang ojek. “Gak usah pak, di sini aja (Domino’s Pizza Margahayu -Red). Tante saya sudah mesenin tukang ojek,” kata AS kepada dosen X.

Saat akan pamit, dosen X mencoba mencium AS. Namun AS sontak menghindar. AS pun pamit. Belum sampai ke rumah Rangga, dosen X mengirim pesan. “Nanti kalau sudah sampai rumah kabari Bapak yah. Bapak pengen liat miss V,” ucap AS berusaha keras mengingat kembali isi pesan itu. Tak lama sesampainya di rumah Rangga, dosen X mengirimkan foto alat kelaminnya. Ponsel AS sedang dipegang Rangga, saat melihat itu Rangga naik pitam. Ia ingin menyusul dosen X, namun segera ditenangkan oleh AS dan temannya.

Kejadian yang dialami AS terjadi sekitar Mei 2016. Tiga hari setelah kejadian itu, mereka mencoba untuk melaporkan perbuatan dosen X kepada ketua jurusannya. Namun ketua jurusan hanya menyarankan untuk tetap fokus kuliah dan mengganti kartu ponsel. “Nanti kalo misalkan nilai kamu C bilang aja ke Bapak,” ujar AS menirukan perkataan sang kajur. Menerima respons seperti itu, AS merasa kecewa. Sejak itu ia membisu tak mau membicarakan kejadian yang lalu, ia menganggap tidak pernah terjadi apa-apa. Hingga awal 2018 dosen X belum dikenai sanksi apapun.

Baca juga:  Seminar Jurnalistik Dema Fidkom, Bahas Tuntas Praktik Jurnalisme Warga

Suaka mencoba meminta konfirmasi terkait tuduhan tersebut. Ketua jurusan yang dikonfirmasi dan diwawancarai Suaka enggan dituliskan nama dan institusi tempat ia menjabat. Dengan alasan tidak ingin menjelekan nama institusinya. Ketua jurusannya menyangkal bahwa dirinya tidak melakukan apa-apa. Namun, ia tidak menyangkal bahwa dirinya menerima banyak laporan terkait perlakuan pelecehan yang dilakukan oleh dosen X yang dibawahinya. Justru, setiap laporan selalu tertuju pada dosen X. “Gak lebih dari sepuluh (yang lapor),” katanya.

Kajurnya pun siap tidak pandang bulu terhadap dosen yang melakukan pelecehan terhadap mahasiswinya, dan akan membawanya ke rapat dekanat. Tetapi, berbeda dengan yang dirasakan AS, sikap saling melindungi antar dosen di fakultasnya sangat terasa, karena oknum dosen merangkap jabatan di struktural kampus, bukan struktural di fakultas.

Kisah ini diceritakan oleh AS dan Rangga saat Suaka mewawancarai mereka di tempat yang berbeda pada akhir November tahun lalu. AS bersedia menceritakan kejadian tersebut karena ia sangat tidak ingin nasib yang ia alami, teralami oleh teman atau adik kelasnya. Ia pun mewanti-wanti, karena dosen X  dikenal berwibawa dan alim, jadi akan sangat tidak menyangka dengan sikapnya seperti itu.

(halaman 1/2)

SebelumnyaSelanjutnya

8 Komentar

8 Comments

  1. Dodi

    12 November 2018 at 20:56

    Hanya bisa berucap, “Astaghfirullah”. :'(

    • Endang

      12 November 2018 at 22:07

      Gandeng sia Dodi. Jangan “so alim.”

  2. JeramiPutih

    13 November 2018 at 06:47

    Se-Hancur ini kah? dari mulai 2016 dan sekarang baru mulai bisa dipublikasikan. terimakasih untuk Suaka yang telah membuka informasi yang sangat berharga.

    • Mr. X

      13 November 2018 at 23:25

      Sama-sama bang badrun

  3. JeramiPutih

    13 November 2018 at 06:57

    Ketua jurusan yang dikonfirmasi dan diwawancarai Suaka enggan dituliskan nama dan institusi tempat ia menjabat. Dalam Paragraf ini saya berpikir, siapa yang harus dijaga ? “Nama baik institusi?” dengan apa? “menutupi semua Aib ?” AIB. CARA MACAM APA INI ???

    ngeus 3 tahun yeuh, ngeus ditindak can Pak Kajur, Dosen X na, piraku rek kieu wae

    #soalim

  4. ubang

    13 November 2018 at 10:23

    Lemah anjay, buka we semuanya biar terang kejelasannya.

    • Dian

      13 November 2018 at 15:57

      Sepakat bang soalnya ini butuh kejelasan bisa saja ini hoax. Kebatilan harus di buka sampai akar akarnya

  5. Indah

    15 November 2018 at 07:19

    Kayanya bukan satu dosen ajah deh karna banyak bgt tmn2 saya ngalamin ini bukan hanya pengajar saja selain itu juga masih ada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas