Fokus

Akrobat Nakal Oknum Pengajar

Ilustrasi. Akrobat Nakal Oknum Pengajar/ Asep A. Hidayat

Modus Akademik

Fenomena pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum dosen kepada mahasiswinya kerap bermoduskan akademik. Dari empat orang narasumber yang Suaka wawancarai, tiga di antaranya bermoduskan akademik seperti, membahas nilai, perbaikan nilai, dan bimbingan skripsi.

Salah satu alumni UIN SGD Bandung -BB bukan nama sebenarnya- mengaku mendapat perlakuan yang tidak senonoh dari salah satu oknum dosen yang ada di jurusannya saat bimbingan skripsi. Bahkan, cerita AS dan BB dibilang seragam, diduga dilakukan oleh dosen yang sama, dosen X, karena mereka satu jurusan namun berbeda angkatan. Kejadian ini terjadi sekitar Februari 2016.

Suaka berhasil mewawancarai BB via WhatsApp karena ia sudah tidak berada di Bandung selepas wisuda. Berdasarkan kronologi yang diceritakan, semuanya berawal dari curhatan BB kepada temannya, ia ingin segera menyelesaikan skripsinya dan direkomendasikan untuk menemui dosen X.

Saat pertama kali ditemui, dosen X sedang sibuk dan BB memberikan nomor ponselnya. Selang beberapa waktu dosen X menghubungi BB dengan mengirim pesan singkat yang berbunyi. “Nanti ketemu malem kita ngobrol, ini kan skripsi banyak yang salah,” ujar BB mengingat kembali pesan dosennya.

Karena merasa pertemuan itu demi keperluan akademiknya, BB pun menyetujui pertemuan pada malam itu. Sayangnya, hal tersebut tidak sesuai, bukannya mengoreksi kesalahan skripsi, dosen X diduga memperbincangkan masalah di luar skripsi termasuk hal-hal berbau seksual.

Perlakuan tak senonoh diduga sudah terlihat kala dosen X tiba-tiba mencium tangan BB saat akan masuk ke dalam mobil. “Pas masuk ke mobilnya, aku kan niatnya mau menghormati bapak itu, jadi salam seperti ke orang tua sendiri. Eh dianya malah megang dan nyium tangan aku,” ujar BB awal Desember lalu.

Baca juga:  Pengumuman Kelulusan Anggota Baru LPM Suaka 2019

Merasa ada yang aneh, BB pun langsung menanyakan soal bimbingan akan dilakukan di mana. Namun dosen X menjawab dengan santai. “Yaudah santai dulu aja, kita jalan dulu aja. Kamu mau ke mana? Nanti saya antar,” ujar korban menirukan perkataan dosen. Dalam perjalanan menuju sebuah restoran, BB tak henti untuk menanyakan perihal skripsinya, namun dosen X terus mengalihkan pembicaraan.

Diduga tangan dosen X mencoba untuk memegang bagian paha korban saat di dalam mobil. “Aku duduk megang tas, posisinya tangan aku di paha terus dia kayak mau megang paha aku gitu. Kebayang nggak sih, terus aku singkirin tangannya sambil bilang ‘pak apaan sih?’,” jelas korban.

Merasa posisinya di dalam mobil terjepit dan tak dapat berkutik. BB berusaha menolak sehalus mungkin. Tidak sampai di situ saja, seusai makan di sebuah restoran Jepang di daerah Pasir Kaliki, tempat yang sama dengan AS, dosen X tidak juga memberikan penjelasan mengenai revisi perbaikan skripsi. BB pun merasa muak dan akhirnya meminta pulang saja. Namun dosen X menahan dan mengajak BB untuk nonton film di  bioskop Cihampelas Walk.

BB kembali menolak secara halus permintaan tersebut walaupun sudah berada di lokasi, dengan berdalih sudah menonton semua film yang ditayangkan. Ia terus mendesak untuk segera kembali ke mobil dan pulang. Sudah pukul 10 malam, namun dosen X masih saja tak mau pulang. BB justru diajak untuk menginap di hotel terdekat, dengan alibi merasa lelah usai rapat. BB pun mencoba  berbagai cara agar tidak menginap di hotel, ia menyuruh temannya untuk berpura-pura menjadi kakaknya. Ia meminta agar temannya terus menelepon, agar segera diantarkan pulang, dan BB pun akhirnya diantarkan pulang.

Baca juga:  Pelepasan KKN Internasional UIN Bandung ke Malaysia

Besoknya di kampus, BB menceritakan kejadian itu kepada teman dekatnya. Teman BB langsung melaporkan kejadian tersebut kepada sekretaris jurusannya. Namun laporan yang diajukan, ditanggapi tidak serius dengan dalih sudah banyak yang melapor dan tidak ada bukti konkret.

Setelah kejadian itu, BB tidak lagi berkomunikasi dengan dosen X. Ia kemudian lulus dan sempat bekerja di Kabupaten Purwakarta, namun ketika bekerja di Purwakarta pada 4 Mei 2017, dosen X sempat menghubungi BB, ia ingin bertemu.

Berdasarkan bukti chat yang diperoleh, dosen X diduga sering kali meminta foto BB. Dosen X menanyakan sedang apa? Lalu BB menjawab sedang tiduran. Dosen X meminta BB untuk mengirim fotonya yang sedang tiduran. BB menolak dengan halus. X pun mencoba lagi dan akhirnya BB mengirim foto setengah badan mengenakan pakai tertutup. Tidak cukup di situ dosen X meminta foto lagi. “Cantik banget. Bawahnya mana?,” isi pesan dosen X. BB terus menolak dengan halus. Setelah itu dosen tersebut mengirim foto, foto tersebut diduga alat kelamin dosen tersebut.

***

Setelah sekian lama tidak berkomunikasi dengan oknum dosen, jangka waktu tidak jauh, AS dan BB diduga dikontak kembali oleh dosen X. Tiba-tiba sekali kata mereka. AS dikontak pada 25 November 2017. Ia diajak untuk pergi jalan. “Jalan yu… besok,” isi pesannya kepada AS. AS tidak membalas. Dua hari berselang, 27 November 2017, BB memberi kabar bahwa dirinya dikontak kembali oleh dosen X. “Nuju di mana (sedang di mana-Red), neng?” isi pesannya untuk BB.

Pelecehan seksual yang dilakukan oleh salah satu oknum dosen telah menelan korban, AS dan BB. Perilaku dosen X tidak mencerminkan seperti dalam Undang – Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Aturan tersebut menjelaskan mengenai kewajiban dosen salah satunya yaitu menjungjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan kode etik, serta nilai-nilai agama dan etika. Kini dosen X mengajar di semester dua dan menjadi pembimbing skripsi.

Baca juga:  Pelepasan KKN Internasional UIN Bandung ke Malaysia

Pelecehan yang dialami AS dan BB membuat mereka terkejut, mereka tak pernah mengharapkan kejadian ini menimpa mereka. Tapi mereka sama-sama ingin mata rantai ini berakhir sampai ke akarnya, bahkan oknum dosen tersebut harus ditindak secara tegas oleh kampus. Mereka pun mengharapkan teman-temannya yang belum mau untuk berbicara, untuk mengatakan bahwa ini benar-benar terjadi.

(halaman 2/2)

 

Redaktur  : Muhammad Iqbal

*Keterangan: Artikel ini merupakan Laporan Utama 1 di Tabloid LPM Suaka Edisi April 2018.

 

Baca Fokus lainnya.

Fokus 1 : Akrobat Nakal Oknum Pengajar

Fokus 2 : Rasa Takut Berujung Trauma

Fokus 3 : Kala Tumpuan Terakhir Menjadi Batu Pengganjal

Fokus 4 : Menelaah Tindak Asusila di Kampus Hijau

E-paper : Tabloid Suaka Edisi April 2018

SebelumnyaSelanjutnya

8 Komentar

8 Comments

  1. Dodi

    12 November 2018 at 20:56

    Hanya bisa berucap, “Astaghfirullah”. :'(

    • Endang

      12 November 2018 at 22:07

      Gandeng sia Dodi. Jangan “so alim.”

  2. JeramiPutih

    13 November 2018 at 06:47

    Se-Hancur ini kah? dari mulai 2016 dan sekarang baru mulai bisa dipublikasikan. terimakasih untuk Suaka yang telah membuka informasi yang sangat berharga.

    • Mr. X

      13 November 2018 at 23:25

      Sama-sama bang badrun

  3. JeramiPutih

    13 November 2018 at 06:57

    Ketua jurusan yang dikonfirmasi dan diwawancarai Suaka enggan dituliskan nama dan institusi tempat ia menjabat. Dalam Paragraf ini saya berpikir, siapa yang harus dijaga ? “Nama baik institusi?” dengan apa? “menutupi semua Aib ?” AIB. CARA MACAM APA INI ???

    ngeus 3 tahun yeuh, ngeus ditindak can Pak Kajur, Dosen X na, piraku rek kieu wae

    #soalim

  4. ubang

    13 November 2018 at 10:23

    Lemah anjay, buka we semuanya biar terang kejelasannya.

    • Dian

      13 November 2018 at 15:57

      Sepakat bang soalnya ini butuh kejelasan bisa saja ini hoax. Kebatilan harus di buka sampai akar akarnya

  5. Indah

    15 November 2018 at 07:19

    Kayanya bukan satu dosen ajah deh karna banyak bgt tmn2 saya ngalamin ini bukan hanya pengajar saja selain itu juga masih ada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas