Kampusiana

Acep Zamzam Noor : Harus Ada Langkah Kongret Untuk Melestarikan Kesenian Sunda

(dari kanan) Seniman, Acep Zamzam Noor, Akademisi dan Budayawan, Ganjar Kurnia, Bawaslu Jawab Barat, Lolly Suhenty, Ketua KNPI Kota Bandung, Hendra Guntara dan Politisi, Bucky Wikagoe sedang menyampaikan pendapat dalam acara Diskusi Publik di Aula Abdjan Soelaeman, Selasa (13/11/2018). Diskusi Publik ini mengangkat tema “Apa Kabar Seniman Hari ini ? dan Membaca Kiprah Seniman Diranah Politik”. (Lia Kamilah/Suaka)

SUAKAONLINE.COM – Unit Kegiatan Mahasiswa Teater Awal UIN SGD Bandung mengadakan diskusi publik di Aula Abdjan Soelaeman, Selasa (13/11/2018). Diskusi tersebut mengusung tema “Apa Kabar Seniman Hari Ini ? Membaca Kiprah Seniman diranah Politik” dan diisi oleh Seniman, Acep Zamzam Noor, Akademisi dan Budayawan, Ganjar Kurnia, Bawaslu Jawa Barat, Loly Suhenty dan dari Politisi, Bucky Wikagoe.

Diskusi langsung dibuka oleh Acep yang menyebutkan bahwa seniman itu manusia biasa da seniman yang berpolitik juga sebenarnya hal yang biasa, ia mengatakan bahwa biasanya seniman dari kalangan artis yang terjun langsung ke ranah politik sedangkan seniman dari seni sastra dinilai jarang.

“Seniman berpolitik ya biasa saja, kan politik dibagi dua ada politik praktis ada politik non praktis atau politik yang kedudukan nya lebih tinggi. Politik praktis ya contohnya Calon Legislatif, Anggota Fraksi Partai dan lain-lain, nah kalau politik non praktis seperti seniman adalah mereka yang berkarya, seperti ustadz yang sedang berceramah, itu juga politik kan namun kedudukan nya lebih tinggi atau bahkan paling tinggi,” ujar laki-laki berambut panjang berkacamata tersebut.

Ia juga menambahkan bahwa  seniman yang masuk ke ranah politik itu mempunya maksud dan tujuan nya sendiri seperti ingin memajukan kesenian di daerah itu sendiri namun biasanya hal tersebut sulit atau bahkan tidak terealisasikan karena satu dan lain hal, Acep juga mengatakan harus ada langkah kongkrit untuk melestarikan seni sunda.

Baca juga:  Mahasiswa Keluhkan Fasilitas Masjid Iqomah UIN Bandung

“Biasanya yang diharapkan ketika seniman masuk ke dunia politik adalah memajukan kesenian di daerah itu sendiri, namun yang menjadi halangan biasanya masalah anggaran yang besar dan sebagai nya, jadi ketika dianggarkan sekian seakan seperti proyek saja padahal ya tidak seperti itu juga dan bebicara perihal melestarikan kesenian sunda, harus ada koordinasi antara Pemimpin Daerah dan Dinas Pendidikan untuk sekolah mewajibkan berbudaya atau berkeseniaan sunda,” tambahnya.

Sedangkan menurut pelaku seni yang sekarang menjadi politisi, Bucky Wagoe, mengatakan bahwa seniman itu butuh berpolitik bahkan harus berpolitik praktis supaya tau celah masalah yang dihadapi seniman seperti apa lalu mebenahi masalah masalah tersebut. Ia juga menambahkan jangan setengah setengah ketika seniman terjun ke dunia politik, harus total dan tanggung jawab.

“Sebagai Seniman harus memberikan gagasan, ide yang bermanfaat bagi sekitar itu yang membuat saya terjun ke dunia politik, saya harus masuk partai politik agar tau kurang nya apa bolong nya dimana lalu saya perbaiki. Tapi seniman yang masuk ke dalam politik praktis juga harus bertanggung jawab karena sudah menjadi wakil rakyat jangan sekedar nyambi saja,” ujar kaka dari Nicky Astria tersebut.

Berbeda dengan apa yang diuangkapkan Bucky, Akademisi sekaligus budayawan, Ganjar Kurnia menilai seniman yang masuk ke ranah politik kurang berdampak kepada seni itu sendiri, ia mengatakan bahwa ada persinggungan antara politik dan seni. Ganjar pun menyamakan seniman dan cendikiawan yang di tempatkan istimewa.

“Menempatkan seniman itu sama saja dengan menempatkan Cendikiawan, karena seniman membangun dan mengembangkan sebuah peradaban. Lalu memang ada persinggungan antara politik dan seni, berkesenian adalah berideologi kemudian ketika masuk ke partai politik, timbul sebuah pertanyaan, apakah ideologi seniman mampu mempengaruhi ideologi yang lainnya atau malah sebaliknya ? Diskursus nya disana sebenarnya,” ujar Rektor Universitas Padjajaran periode 2007 – 2015 tersebut.

Baca juga:  FDGBI: Guru Besar di Indonesia Harus Bersatu Padu

Terakhir dari Bawaslu Jawa Barat, Loly Suhenty, menyatakan bahwa ada 23 pelaku seni yang turun ke ranah politik di Jawa Barat, ia juga menyakini ada makna terkait banyaknya pelaku seni ini turun ke ranah politik. Selain itu Loly mengatakan ada sebuah tantangan ketika seniman turut meramaikan dunia perpolitikan.

“Sebenarnya ini adalah refleksi politik hari ini, data menyebutkan ada 23 pelaku seni terjun kepolitik di Jawa Barat dan setiap dapil nya ada pelaku seni. Nah ini pasti ada maksud dan tujuan nya sendiri da nada maknanya juga kan, terus tantanganya untuk para seniman yang terjun ke politik praktis adalah ketika ia sudah memahami atau tidaknya tentang regulasi yang sudah ditetapkan saat mengkampanyekan diri mereka saat ia mencalonkan diri,” pungkasnya.

 

Reporter : Muhamad Emiriza

Redaktur : Elsa Yulandri

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas