Lintas Kampus

Problematika Pelecehan Seksual di Ranah Kampus

Diskusi pelecehan seksual di dunia pendidikan bertajuk ‘Ruang Bincang; Berani Bicara dihadiri oleh (Dari Kiri) Psikolog RS. Melinda, Sistrianova, Reporter Tirto.Id, Aulia Adam, dan Akademi Universitas Telkom, Dian Lestari di Rumah Cemara, Bandung Sabtu(17/11/2018). (Anisa Dewi Anggriaeni/ SUAKA).

 

SUAKAONLINE.COM- Projek Ruang berkolaborasi dengan Rumah Cemara dan Alinea Coffee menggelar diskusi pelecehan seksual di dunia pendidikan dengan mengusung tema Ruang Bincang: Berani Bicara, menghadirkan Reporter Tirto.id, Aulia Adam, Akademisi Universitas Telkom, Dian Lestari, dan Psikolog RS. Melinda Sistrianova di Rumah Cemara Bandung, Sabtu (17/11/2018).

“Berbicara pelecehan seksual banyak jenisnya dan paling berat adalah perkosaan. Pelecehan terjadi dalam artian karena meremehkan, mengintimidasi, menghina, merendahkan dan hal-hal yang berbau seksual” ungkap Psikolog RS. Melinda, Sistrianova memulai diskusi.

Pelecehan seksual terjadi karena adanya perbedaan gap antara hubungan relasi antar gender. Dimana sistem patiriarki yang sudah mengakar memosisikan laki-laki lebih tinggi dibanding perempuan, menganggap perempuan adalah mahluk yang lemah sehingga terjadi perendahan.

Eva sapaan akrab Sistrianova, mengakui memang sulit  memberikan batasan mana saja yang disebut pelecehan seksual.  “Intinya ketika ada pemaksaan, ada ketidaknyamanan, direndahkan terkait seksual itu termasuk dalam pelecehan seksual.  Di era sekarang toleransi semakin di depan, artinya toleransi semakin lentur yang berimbas pada kebablasan,” tegas Eva.

Menurut Konsultan Komunitas Kekasih Juara tersebut juga mengatakan, banyak korban yang tidak mau bicara karena ada otoritas yang tinggi antara satu pihak yang merasa lemah. Maka korban harus menaikkan standar keberanian, harga diri dan harus memandang diri sama rata, dan penting untuk menyingkirkan yang ada di alam sadar bahwa diri kita lemah.

Kendala Berani Bicara

Baca juga:  Kunjungan Komisi VIII DPR RI ke UIN Bandung

Bagi dosen Telkom Univercity, Dian Lestari  korban kekerasan atau pelecehan seksual sulit melapor ke pihak kampus karena beberapa hal diantaranya, memalukan bagi diri korban, ada ketakutan atau ketimpangan ada satu pihak berada dalam posisi yang kuat. Dian memulai ceritanya,  hal tersebut berbeda dengan tempat ia bersekolah dulu di Brasgo.

“Disana akses lebih mudah bahkan website kampus menuntunya melakukan prosedur pengaduan, support form pengaduan berbasis online. Kemudian  ada tim dari mereka yang mengontak dengan cepat serta langsung dikunjungi,” tuturnya.

Pun dengan gedungnya yang memang dikhususkan untuk menerima pengaduan selain melalui online. Di lengkapi dengan e-voice center, konseling serta video tutorial pengaduan saat mengalami pelecehan seksual. “Ketika membuat laporan tidak perlu menceritakan semua,  mereka akan menghubungi ke critical center, lalu akan diberi afternight pil guna mencegah hamil dari orang yang telah memperkosa dengan catatan tahapan medical,” tambah Dian.

Di Indonesia,  ketika bicara konteks malu semacam lingkungan keluarga yang tidak mendukung hal tersebut masih dianggap tabu jika mengungkap kejadian semacam itu. Pihak keluarga atau orang terdekat masih memiliki stigma bahwa itu adalah aib yang mengakar dan untuk memahaminya mesti bicara dari berbagai sudut.

“Kalau dari  psikologi korban kenapa korban sulit melapor lantaran  merasa bahwa pelecehan terjadi karena diri sendiri yang salah dan membiarkan ini terjadi akhirnya menimbulkan self blaming: perilaku menyalahkan diri sendiri,” tegas Dian.

Bagi Dian, tidak merasa  mempunyai hak yang sama juga menjadi pemicu, pemikiran semacam itu telah mengakar  dan sulit untuk didobrak.  Ketika dilecehkan bukan karena diri sendiri yang salah tapi kaji dari bergama perspektif

 Media Turut Mengawal Isu Kekerasan Seksual

Baca juga:  Fakultas Psikologi Gelar Pemilihan Anggota SEMA-F Psikologi

Salah satu reporter Tirto.id yang melakukan investigasi kekerasan seksual di kampus Aulia Adam menguraikan sebelum Tirto memutuskan liputan  ini, terinpirasi  dari gerakan #metoo. Menjadi alat kampanye media di Amerika Tirto melihat itu menjadi penting di Indonesia.

Laporan yang dikerjakan Tirto.id sudah berjalan dua seri, korbanya anonim mereka melakukan peliputan di beberapa kota seperti Yogyakarta, Jakarta, Depok, dan Medan. “Kita mau bikin representasi bahwa itu terjadi di semua kampus  makanya kita bikin kontak informasi, agar korban mau berbagi ceritanya.  Kebanyakan yang kita terima sekadar ingin cerita tidak mau diangkat, menyadari victim blaming yang masih marak dan masif belum lagi masa depan kuliah, setelah lulus,”tambahnya.

Mengenai kasus Lara di salah satu kampus di Bali yang Ia liput,  Adam mengaku mengikuti kasus Lara dua bulan lebih. Menurutnya Lara (nama samaran) ingin namanya disebut, ia yang berjalan sendiri, ia sakit hati lantaran keluarga dan kampus tidak mendukungnya serta merasa terintimidasi.

Adam menceritakan ulang kembali bagaimana Lara mendapat intimidasi dari berbagai pihak. Dari pihak kampus misalnya, dengan cara yang lembut dari pihak kampus mendatangi Lara, orang-orang akan berpikir mereka berperspektif korban padahal di dalamnya berupa ancaman. Ia juga diteror oleh oknum  yang mengaku sebagai pelaku. Akhirnya Lara ingin bicara dan ceritanya diangkat ke media karena  sudah merasa tertekan

“Saya sebagai jurnalis harus benar-benar mengikuti kasusnya Lara, mirip Mba Nuril di ujung pembicaraan mengancam. Jaksa sempat menolak berkas dan dia benar-benar sendiri sampai akhirnya Tirto mikir ini perlu dipublikasikan,” ucap Adam semangat.

Ia menambahkan  tahun depan project kasus pelecehan seksual bakal digarap serius. Mereka tidak akan konfrontasi kepada pelaku kalau korban belum ngomong.  Target Tirto mengejar Dikti untuk membuat regulasi.

Baca juga:  Setelah Tertunda Tiga Minggu, Akhirnya Ketua KPUM dan BAWASLUM Ditetapkan

Tirto ingin mengadakan project google rising, mereka menampung aduan dari korban, lingkupnya masih kampus. “Kampus mana saja yang masih memelihara dosen mesum, berapa aduan yang masuk ke rektorat, berapa korbanya, beberapa dosen yang mesum, kita akan membuat semacam mapping. Karena selama ini  Dikiti cuma fokus di akreditasi dan kompetensi dosen dan kami lihat itu problem, ”ujar laki-laki berkacamata itu.

Yang perlu digarisbawahi adalah hak untuk melapor itu ada di korban.  Korban tidak perlu dipaksa untuk cerita, ketika memaksanya justru akan menambah beban di pundak korban. Menurut Adam, ketika ada korban yang bercerita, bangun dahulu atmosfer yang nyaman untuk korban bicara.

Menurut Aulia Adam, pelaku pelecehan seksual sama kejamnya dengan pelaku pembunuhan. “Karena begini, Pelaku kekerasan seksual yang menentukan target, mereka punya cara sendiri untuk melakukan pelecehan.  Cara melakukan pelecehan dan itu mutlak salah pelaku, tidak ada kaitanya dengan cara berpakaian, cara bicara, dan tingkah laku.” pungkas Adam.

 

Reporter : Anisa Dewi Anggriaeni

Redaktur: Elsa Yulandri

 

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas