Kampusiana

Korban Pelecehan Seksual Butuh Dukungan Emosional

Ilustrasi oleh Nurul Fajri/SUAKA

SUAKAONLINE.COM- Maraknya kasus pelecehan seksual yang menimpa UGM dan kampus lain beberapa waktu lalu, hal ini pun terjadi di UIN Bandung sendiri. Sulitnya korban untuk terbuka, serta bagaimana penanganan terhadap korban pelecehan seksual di lingkungan akademik. Reporter Suaka, Rendy M. Muthaqin mewawancarai Yulianti pada (16/11), Dosen Tasawuf Psikoterapi sekaligus penggagas Laboratorium Syifa’ul Qulub, Fakultas Ushuluddin salah satunya bergerak di bidang konseling psikoterapi sufistik.

Apa itu konseling dan bagaimana metode paling praktis dilakukan?

Konseling itu sendiri ilmu untuk menolong orang lain, helping people, di islam sendiri kan harus saling menolong dalam kebaikan serta ketaqwaan. Harusnya sudah jadi tugas sesama muslim menolong muslim lainnya. Adapun metode untuk dilakukan salah satunya building relationship, membangun hubungan terlebih dahulu kepada helpee, kepada yang ditolongnya.

Tentu saja di bidang konseling mereka sudah mempelajari dulu bagaimana proses memberi bantuannya. Apalagi untuk korban pelecehan seksual, korban bakal mengalami biasanya stres pasca traumatik dengan kejadian yang dialaminya. Jadi benar-benar ada etikanya juga, tidak semerta membocorkan rahasianya, tapi benar-benar menolong dengan kerahasiaannya dijaga.

Ketika kita dihadapkan dengan korban pelecehan seksual, apa yang harus kita lakukan?

Awalnya mungkin kita harus berempati, kita harus merasakan penderitaan juga diposisi korban tersebut, jadi muncul lah rasa kepedulian itu. Salah satu yang berpengaruh dengan peer counseling theraphy, atau konseling teman sebaya, itu bisa memberikan secara emosional dia (korban) merasa aman, menjadi teman yang nyaman ketika ada korban yang di lecehkan atau butuh bantuan. Salah satunya ada cara promotif: kita harus mengetahui ketika ada ciri-ciri seperti akan di lecehkan atau tidak membuat nyaman seperti apa. Kedua, upaya yang bisa dilakukan dengan prefentif, atau pencegahan harus dilakukan sebelum kejadian itu akan terjadi. Ketiga ada kuratif, atau penyembuhan, bisa di konseling psikoterapi, bisa juga rehabilitatif untuk mengembalikan kepada posisi semula, berupa pendampingan dan beragam terapi yang lain.

Baca juga:  Kunjungan Komisi VIII DPR RI ke UIN Bandung

Dampak ketika korban di sudutkan?

Dampak ketika kita menyudutkan korban: sebagai orang yang membantu, kita harus positif unconditional regard, kita harus menerima kondisi positif apapun dia. Tidak boleh ada prasangka, tidak ada menghakimi “kok mau sih dia, atau kok dia sampe kegenitan” misalkan, jadi no judgement, makannya kalau di tasawuf ada tazkiyatun nafs, membersihkan hati dari peyakit hati. Jadi terima apa adanya, bahwa dia perlu di bantu, selanjutnya kita lakukan dengan cara konseling. Kalau tidak ahli teknik konseling, kan ada terapi konseling teman sebaya, asalkan cari teman yang betul-betul aman, nyaman, tanpa prasangka apapun.

Jadi nanti ketika ada yang curhat, kita harus empati, tidak menghakimi, tidak berprasangka apa-apa dulu, sampai kita betul-betul melakukan dialog mulai dari awal kejadian sampai akhir. Yang paling penting emotionally safe, lebih ke kondisi psikologis, ketika rasa aman dan nyaman sudah timbul, ketika cerita ke teman tidak akan bocor, akan ada di tangan yang tepat. Teman tersebut juga harus tahu sesudah mengalami itu harus direkomendasikan ke siapa, ketika sudah aman setidaknya awal proses menuju kesembuhan. Kebayangkan kalau dia tidak punya teman yang aman dan nyaman untuk cerita terus harus kemana? Kalau tidak ada yang menerima, malah akan memunculkan trauma yang terus mendalam lalu akan terpuruk dengan rasa bersalah dan rasa ketakutanya.

Apakah benar dengan kita mendengarkan saja, itu bisa jadi penyembuhan untuk korban?

Memang sebenarnya listening can be healing, mendengar tidak hanya dengan telinga, tetapi dengan mendengar seksama melalui telinga batin. Seperti terapi aliran humanisme, yang ditemukan Carl Rogers, ia bilang sebetulnya individu sendiri punya daya untuk self healing. Kita sebetulnya konselor hanya mendengarkan dengan seksama, hadir untuk si klien itu, sudah jadi proses kesembuhan.

Baca juga:  Setelah Tertunda Tiga Minggu, Akhirnya Ketua KPUM dan BAWASLUM Ditetapkan

Cara yang bisa dilakukan untuk mahasiwa yang belum mendalami konseling?

Pertama, berupa empati, artinya kita bisa merasakan, punya kasih sayang, dengan bentuk salah satunya hadir untuk dia, jadi kita ada untuk dia dengan mendengarkan, menemani, menjaga rahasianya. Serta sabar, bukan artian bilang sabar ke dia, tapi memang betul mendampingi keberadaannya, sambil kira-kira apa yang bisa kita bantu untuknya. Mungkin kalau itu tidak di lakukan, ditakutkan salah satunya yaitu indikator orang trauma menarik diri dari lingkungan sosial. Nah, kita harus tetap ada untuk dia itu bagian dari bantuan, tetap mengunjungi kediamannya, bertanya kabarnya, itu termasuk bagian dari dukungan juga.

Jadi diterapi ada membangun secara emosional yang didasari oleh kasih sayang. Kalau kamu punya temen, nah bagaimana kamu menyayangi dia, mendengarkan ceritanya mungkin, berbagi makanan, jadi itu yang bisa dilakukan oleh orang awam, lakukanlah dengan penuh kasih memberikan apa yang kita punya. Hati yang tulus, tidak jadi lambe turah, comel, dan harus bantu solusinya seperti apa. Kalau dia sudah aman kita reveral pada ahli, bisa ke UPT Psikologi, BKI atau Lab Syifaul Qulub, itu bisa sebagai curhat-curhat dan langkah selanjutnya yang lebih baik. Psikis yang lebih utama sih.

Dampak terburuk lingkungan yang tidak peduli?

Pastinya traumatik stress dan merasa menarik diri terasingkan karena depresi, dikhawatirkan ia terjerumus ke lingkungan yang lebih buruk.

Apa penyebab korban sulit speak up?

Kenapa korban tidak berani bicara, karena di sekitarnya harus punya kesungguhan, kepedualian untuk menguatkan, menyembuhkan dan mendampingi. Ketika dia speak up, perlakuan sekitar malah menekan dia, atau dikeluarkan (drop out-red) serta mendapatkan perlakuan-perlakuan bukan yang menyembuhkan, malah membuat dia semakian trauma misalnya. Supaya speak up, upaya yang di lakukan adalah menguatkan psikisnya, mentalnya, melakukan pendampingan pasti bisa speak up. Apalagi pendampingannya didukung oleh sosial, mungkin ada pemegang kebijakan yang juga mendukungnya, saya pikir sudah waktunya kampus ada konseling center, mungkin bentuk aplikasi yang paling dirasakan sekarang konseling.

Baca juga:  FKHMEI Gelar Pengabdian Nasional Untuk Membangun Negeri

Maksudnya butuh curhat dengan aman secara emosi seperti semula semangatnya, meskipun sudah dilecehkan dia punya kekuatan untuk menjadi dirinya sendiri gitu. Setelah itu kan kalau dia mau speak up juga tidak perlu di dorong-dorong dengan terpaksa, kalau lingkungan sekitarnya juga sudah peduli. Jangan-jangan tidak berani speak up itu kita nya tidak aware lagi. Jadi jangan berpikiran selama itu tidak terjadi sama kita yaudah, bukan kita ini buat apa peduli gitu. Jangan-jangan kepekaan dan empati kitanya sudah pada ilang. Sekarang munculin aja dulu kesadaran, munculin dulu empati, supaya semakin banyak korban itu ya kita nya juga menguatkan secara psikis.

Redaktur : Elsa Yulandri

 

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas