Lintas Kampus

KKD: Dari Difabel Untuk Difabel

Indra Sumedi (45) menyelesaikan pembuatan kaki palsu di Kawaluyaan Baru, Kelurahan Sukapura, Kecamatan Kiara Condong, Bandung, Senin (12/11/2018). Indra merupakan seorang difabel dan kepala produksi pembuat kaki palsu Kelompok Kreatif Difabel (KKD). (Rizky Syahaqy/ SUAKA).

 

SUAKAONLINE.COM – “Kekurangan itu dari dalam diri sendiri. Jangan terlena oleh impian, bangunlah dan tetap berusaha. Karena kecacatan bukan halangan untuk berkarya dan bekerja,” kata Indra, laki-laki difabel pembuat kaki palsu untuk para difabel.

Penampilan Indra yang terkesan seram dengan tato di tubuh dan wajah menjadi keunikan tersendiri. Memang dahulu Indra adalah anak punk yang dia sendiri menyebutnya nakal. Namun sekarang dengan keadaannya yang tidak memiliki kedua kaki akibat sebuah insiden di masa lampau membuat ia termotivasi untuk membuat kaki palsu bersama rekannya yang tergabung dalam Kelompok Kreatif Difabel (KKD).

Awalnya, pada 2008, Indra bertemu dengan salah satu rekannya di GOR Padjajaran, kemudian berbincang mengenai pembuatan kaki palsu. Mulanya mereka tidak mempromosikan kaki palsu buatan mereka, sampai akhirnya di pertengahan tahun 2010, Indra bersama keempat temannya membentuk Kelompok Kreatif Difabel (KKD) dan mulai mempromosikan hasil karyanya berupa kaki palsu, tangan palsu, alat terapi jari stroke dan kerajinan tangan lainnya kepada masyarakat.

“Karena kita seorang difabel, ya kita ingin membantu temen-temen difabel kaum menengah ke bawah. Karena kalau beli di rumah sakit itu harganya mahal bisa sampai 10 juta ke  atas. Kalau di kita itu kisaran 500 ribu sampai 6 juta yang paling mahal. Kalau yang 500 ribu itu untuk anak kecil, dan harga lainnya tergantung ukuran kaki dan kualitas bahan lainnya,” jelas laki-laki berusia 45 tahun itu.

Baca juga:  FKHMEI Gelar Pengabdian Nasional Untuk Membangun Negeri

Untuk bahan-bahan yang diperlukan dalam pembuatan kaki palsu terbilang cukup mudah didapatkan. Ada juga yang diimpor dari China, yaitu bagian bawah kaki atau telapak kaki. Dalam pembuatannya, semua anggota KKD yang berjumlah 12 orang ikut membuat. Karena setiap bulannya pasti ada tiga atau empat yang memesan kaki palsu.

Tahun-tahun dilewati, segala kesulitan mereka hadapi, mulai dari kebangkrutan hingga berpindah-pindah kontrakan, akhirnya mereka mampu melewati itu semua.  Karyanya sudah dipesan sampai ke seluruh Indonesia, bahkan ke Malaysia. Cukup dengan mempromosikannya lewat media sosial, kemudian calon pembeli datang untuk memesan, lalu diukur dan dibuat, setelah jadi beberapa hari kemudian dikirim via jasa pengiriman barang.

Keuntungan yang didapatkan akan dibagi rata ke setiap anggota. Sebelum dibagikan, mereka menyisihkan sebagian untuk uang kas. Mereka juga memberikan satu dari setiap pesanan kaki palsu untuk orang-orang yang memang tidak mampu membeli. “Kalau ada empat yang pesan, satu dari keuntungannya kita infakkan kepada mereka yang memang gak mampu membeli kaki palsu. Kita akan berikan dalam bentuk kaki palsu jadi,” sambung Indra.

Seringkali KKD diminta untuk mengisi sebuah acara oleh beberapa komunitas, baik komunitas di kampus maupun di luar kampus. Yang terbaru adalah pameran kaki palsu yang digelar oleh organisasi mahasiswa di Gedung Bandung Creative Hub, memilih Indra sebagai pemateri dalam acara tersebut. Tak jarang pula media-media berita datang kepada KKD untuk meliput. Bahkan beberapa stasiun televisi swasta beberapa kali mengundang KKD dalam acara mereka. Seperti Trans7, Net TV dan masih banyak lagi.

Anggota KKD lainnya, Anwar Puad, senang bisa bergabung di KKD karena menurutnya orang-orang di sana selalu bersemangat dan tak pernah mengeluh. Terlebih dengan prinsip hidup anggota KKD yaitu, “Temen-temen di KKD berprinsip bahwa dia tidak merasa ada kekurangan dan mampu bersaing dengan orang-orang normal,” jelas Anwar.

Baca juga:  Kunjungan Komisi VIII DPR RI ke UIN Bandung

Anwar juga berharap ke depannya KKD memilik tempat sendiri yang tetap, karena sampai saat ini KKD masih mengontrak dan berpindah-pindah. Tak hanya itu, ia juga menginginkan KKD memiliki donasi yang tetap dan menjadi wadah bagi teman-teman difabel agar senantiasa tetap semangat dalam menjalani hidup.

Begitupun dengan Indra, dirinya merasa bangga dengan apa yang telah dilakukan oleh KKD. Dengan karyanya itu ia bisa membantu teman-teman difabel lainnya untuk bisa beraktivitas. “Ketika karya kita dipakai, produk kita digunakan, dan melihat eskpresi temen-temen seperti kita memakai kaki palsu, itu senang banget karena bisa membantu mereka lebih mudah lagi beraktivitas.” pungkasnya seraya tersenyum.

 

Reporter : Rizky Syahaqy

Redaktur: Elsa Yulandri

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas