Infografis

Siaga Penyakit Demam Berdarah (DBD) di Indonesia

SUAKAONLINE.COM, Infografis– Indonesia merupakan negara dengan iklim tropis. Hal ini menyebabkan Indonesia menjadi tempat yang baik untuk pertumbuhan hewan maupun tumbuhan sekaligus tempat berkembangnya berbagai macam penyakit. Terutama penyakit yang disebabkan oleh vektor yang dibawa oleh organisme penyebar agen phatogen, dari inang ke inang seperti nyamuk. Tentunya kondisi ini menyebabkan Indonesia memiliki ancaman penyakit  demam berdarah (DBD) yang masih tinggi hingga sekarang.

Wilayah tropis dan subtropis sendiri menjadi wilayah yang memiliki jumlah kasus DBD terbanyak, seperti Asia Tenggara, Amerika Tengah dan Amerika Karibia. Hal ini disebabkan karena penyakit ini ditularkan oleh gigitan nyamuk aedes aegypti yang membuat penderita mengalami pendaharan, demam tinggi hingga kematian.

Kemenkes mencatat kasus DBD seringkali terjadi pada masa peralihan dibandingkan musim penghujan. Pada masa peralihan musim kemarau ke musim penghujan, atau masa peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau. Hal ini disebabkan karena hujan tidak terjadi setiap hari sehingga menimbulkan munculnya genangan air yang berpotensi menjadi penyebab penularan DBD.

Berdasarkan sejarah, DBD pertama kali ditemukan di Indonesia dengan angka kematian tertinggi terjadi pada tahun 1968 di Surabaya. Pada saat itu data dari Kementrian Kesehatan mencatat jumlah kematian sebanyak 24 orang dari 58 orang yang terinfeksi. Karenanya. Sejak tahun 1968 terjadi peningkatan jumlah kasus, pada tahun 1968 yaitu 58 kasus menjadi 202.314 kasus dengan jumlah kematian 1.593 pada tahun  2016. 

Berdasarkan data dari Kementrian Kesehatan yang dirilis pada 3 Februari 2019, data yang dihimpun tersebut menunjukan jumlah kasus DBD terbanyak di Jawa Timur mencapai 20 persen, dari total laporan kasus yang diterima. Sedangkan 10 provinsi dengan jumlah kasus tertinggi adalah Jawa Timur dengan jumlah kasus 2.657 kasus, Jawa Barat 2.008 kasus, Nusa Tenggara Timur 1.169 kasus, Jawa Tengah 1.027 kasus, Sulawesi Utara 980 kasus, Lampung 827 kasus, DKI Jakarta 613 kasus, Sulawesi Selatan 503 kasus, Kalimantan Timur 465 kasus dan Sumatera Selatan 353 kasus.

Baca juga:  Kasus AY dan Eksklusifnya Masyarakat Terhadap ABH

Peneliti: Ai Siti Rahayu/Suaka

Sumber : depkes.go.id, katadata.id, beritagar.id, cleanipedia.com.

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas