Advertorial

Bursah Zanubi : Milenial Sebagai Solusi Perpecahan Pemilu 2019


Wakil Satuan Tugas (Satgas) Nusantara, Fadil Imran, Wakil Rektor III, Muhtar Solihin, Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) UIN SGD Bandung, Oki Reval dan perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Bandung Raya melakukan sesi foto bersama dalam acara Seminar dan Forum Group Discussion di Aula Abdjan Soelaeman, Kamis (21/2/1019). (Anisa Nurfauziah/Suaka)

SUAKAONLINE.COM – “Perpecahan diantara partai politik, Organisasi Masyarakat (Ormas) dan organisasi Islam yang terjadi saat ini adalah dinamika demokrasi. Dan perpecahan tersebut bisa diselesaikan dengan empat pilar yang Indonesia miliki,” ujar Wakil Satuan Tugas (Satgas) Nusantara, Fadil Imran dalam Seminar dan Forum  Group Discussion. Dengan tema “Kaleidoskop 2018, Ada Apa di 2019 ?” di Aula Abdjan Soelaeman, Kamis (21/2/2019) dan membahas tentang peran masyarakat milenial dalam menjaga stabilitas keamanan negara dalam arus politik 2019.

Fadil memaparkan bahwa menurut professor dunia, Indonesia akan menjadi salah satu dari empat bangsa terbesar di dunia pada tahun 2045 dengan modal empat pilar bangsa. Namun untuk mencapai itu, Indonesia harus terlebih dahulu melakukan perbaikan-perbaikan. Dalam pemilu 2019 misalnya, menurutnya indeks demokrasi Indonesia harus membaik dengan dipenuhinya hak-hak berpendapat masyarakat sipil dalam menentukan pilihan.

Melalui ekonomi berkelanjutan dan stabilitas keamanan bagi masyarakat sipil akan menjadikan pemerintah kuat dan melahirkan pemilu yang berkualitas, sebagai tahap menuju kejayaan demokrasi yang kuat melalui mayoritas pemilih yang merupakan mahasiswa. Fadil menyadari akan ada ancaman-ancaman internal dan global  terhadap Indonesia sebagai negara demokratis. Ancaman yang menyebabkan hilangnya kuasa didalam menetapkan ideologi, kebijakan-kebijakan negara, dan kedaulatan atas wilayah, penduduk, dan segenap sumber daya.

“Indonesia akan kehilangan kuasa karena ancaman demokrasi. Seperti tidak menetapkan ideologi bangsa secara lugas dan tegas, merumuskan, menentukan, dan menetapkan kebijakan-kebijakan negara tanpa campur tangan pihak lain. Juga tidak bisa menjaga dan mempraktikan kedaulatan atas wilayah, penduduk dan segenap sumber daya didalamnya,” tambah Fadil sebagai Keynote Speaker dalam seminar yang diadakan oleh Dewan Eksekutif Mahasiwa (Dema) UIN SGD Bandung dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Bandung Raya ini.

Baca juga:  Dudang Gojali : SK FEBI Rampung dalam Empat Bulan

Terutama pada pemilu, ancaman terjadinya perpecahan semakin terlihat jelas. Mulai dari perbedaan pendapat, pengkhianatan, spionase, hingga berujung pada tindakan kekerasan seperti terorisme dan pembunuhan. Menghalalkan berbagai cara untuk berkampanye, mengintimidasi lawan politik, mengganti pemerintahan, memperoleh keuntungan materi, dan membuat perubahan sosial. Juga menjadi salah satu bentuk political crime.

Ketua Perkumpulan Gerakan Kebangsaan, Bursah Zanubi mengatakan bahwa demokrasi merupakan penguatan bangsa atas partai politik. Untuk tetap memiliki ideologi dan sistem kaderisasi anggota partai yang baik demi kemaslahatan masyarakat meskipun saat ini sudah diwarnai unsur kepentingan kepentingan pribadi. Partai politik sudah tidak lagi menjadi pilar berekspresi bagi masyarakat, bahkan cenderung mencari materi dengan ideologi.

Menilik sejarah Indonesia sebelum menjadi negara, pasti sudah terbentuk bangsa dengan satu gerakan yang dipelopori oleh pemuda. Maka saat ini pun gerakan pemuda atau milenial sangat dibutuhkan bangsa. Sebagai revolusi industri keempat, milenial yang dikaitkan dengan digitalnya berjumlah 90 juta di Indonesia dan menjadi pemilih dalam pemilu. Dalam hal ini milenial adalah mahasiswa yang berarti agen perubahan di masa depan yang seharusnya bisa menjadi solusi atas perpecahan demokrasi.

”90 juta pemilih adalah milenial, yang jika tidak dilibatkan dan tidak melibatkan diri dalam pemilu nanti maka akan merusak regenerasi dari milenial dengan sejarah bangsa. Dan dipastikan perang politik akan mempengaruhi dunia maya, begitu pun sebaliknya,” tambahnya.

Diakhir bahasan, Bursah berharap agar generasi milenial bisa menerapkan peranan sesuai porsinya dalam pemilu 2019. Berperan dalam menggunakan hak dalam pemilu dengan bijak, menjadi garda terdepan dalam mewujudkan demokrasi yang berkualitas. Berperan aktif dalam menjaga stabilitas keamanan dalam negeri, jelang dan pasca pemilu 2019, menjadi bagian dari cooling system guna meminimalisir terjadinya konflik sosial. Dan menjadi agent of change yang bisa memajukan bangsa Indonesia.

Baca juga:  Tujuh Hari Menjelang PBAK, Ketua Pelaksana Terpilih Mengundurkan Diri

Reporter : Lia Kamilah

Redaktur : Harisul Amal

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas