Lintas Kampus

Dhyta Caturani : Wanita Indonesia Masih Menderita

(Dari kiri) moderator Vini Zulva (WSC UIN Bandung), Sherin (F-SEDAR), Dhyta Caturani (Purplecode Collective), memaparkan materi dalam Diskusi Terbuka tentang “Sejarah International Women’s Day (IWD) dan Pergerakan Perempuan Hari Ini” di Kampung Aliansi, Reruntuhan Tamansari, Rabu (27/2/2019). (M. Syifaurrahman/Magang)

SUAKAONLINE.COM International Women’s Day (IWD) merupakan hari peringatan wanita sedunia, yang selalu diperingati setiap 8 Maret sejak 1911 silam. Namun menjelang peringatan IWD ke 108, wanita se-dunia terutama wanita Indonesia sendiri masih mengalami pelecehan, penindasan maupun penghinaan.

“Jika kita mau jujur sebenarnya penindasan terhadap wanita indonesia masih sama dari 5 sampai 10 kebelakang, dimana wanita indonesia masih identik dengan kasur sumur dan dapur,” papar aktivis feminisme dari Purplocode Collective, Dhyta Caturani dalam Diskusi Terbuka tentang “Sejarah International Women’s Day (IWD) dan Pergerakan Perempuan Hari Ini” di Kampung Aliansi, Reruntuhan Tamansari, Rabu (27/2/2019).

Kini eksploitasi terhadap wanita telah merebak ke berbagai sektor, tidak hanya disektor sosial maupun ekonomi, di Indonesia sendiri wanita juga mengalami ekploitasi di di bidang politik. Dhyta berpendapat dengan adanya 30% keterwakilan wanita di pilihan legislatif justru hanya sebagai syarat.

 “Berbicara wanita di kancah perpolitikan Indonesia, oke ada syarat 30% syarat keterwakilan wanita, tetapi itu hanya sebatas syarat, pada kenyataannya para kaum lelaki masih berkuasa,” imbuhnya.

Lanjut Dhyta, saat ini ada penyempitan istilah dalam feminisme. Istilah feminisme sekarang sekedar diartikan wanita itu berhak merokok, bermain malam, punya jabatan sama dengan lelaki hanya sebatas itu, padahal sebenarnya istilah feminisme memiliki pengertian sangat luas.

Menanggapi  apa yang disampaikan Dhyta, Aktivis Federasi Serikat Buruh Demokratik Kerakyatan (F-SEDAR), Sarinah menilai bahwa pada Pemilu kali ini perempuan banyak diekspoliatasi  secara politik untuk menaikan elektoral masing-masing calon dan mereka menjadikan wanita sebagai etalase. ”Pada pemilu kali ini perempuan di ekplotasi, kita mengenal istilah paslon Capres 02 dengan istilah emak-emak, dan kubu sebelah paslon Capres 01 dengan istilah yang berbeda,” ujarnya.

Baca juga:  Setelah Lama Vakum, Sema-FISIP Akan Dibentuk Kembali

Selain itu wanita yang akrab disapa Sherin tersebut mengungkapkan bahwa buruh wanita Indonesia juga mengalami hal yang sama. “Ketika kita berbicara buruh wanita, sejujurnya para pemilik modal sangat diuntungkan oleh adanya buruh wanita, dimana buruh wanita itu lebih murah ketimbang lelaki, dan mereka selalu dianggap lajang sehingga membuat upah mereka kecil,” ugkap Sherin.

Sherin pun berpendapat, sejarah awal tertindasnya wanita sejak dulu, sejak jaman primitif. Pada jaman primitif manusia itu mengumpulkan makanan dan tugas wanita pada saat itu menjaga properti, hingga akhirnya wanita itu sendiri menjadi properti.

Kendati Indonesia pernah memiliki gerakan kewanitaan yang bagus yaitu Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) namun telah dibubarkan, Sherin menilai kini wanita Indonesia tidak memiliki organisasi serupa yang bersifat independen. ”Sejak Gerwani dibubarkan wanita indonesia tidak memiliki organisasi kewanitaan yang benar-benar Independen, oke ada Ibu-ibu PKK tapi tetap saja mereka tidak punya kemandirian, buktinya pejabat PKK itu mengikitu jabatan suaminya,” tegas Sherin.

Diakhir diskusi Dhyta dan Sherin sepakat untuk menyamakan pandangan bahwa setiap orang harus berempati atas penderitan orang lain. Seperti halnya ketika satu orang tertindas dengan satu penindasan maka setiap orang harus membelanya, walaupun tidak mengalami penindasan tersebut.

Reporter : M. Syifaurrahman/Magang

Redaktur : Dhea Amellia

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas