Politik dan Ekonomi

Media Indonesia ‘Jangan’ Menyebarkan Berita Bohong Tentang Venezuela

Salah satu massa aksi dari Komite Solidaritas untuk Venezuela (KSV), menggelar aksi solidarias terhadap masyarakat Venezuela di Jalan Asia Afrika, Senin (18/3/2019). (Harisul Amal/SUAKA)

SUAKAONLINE.COM – “Hands Off Venezuela! Hands Off Venezuela!” teriaksejumlah massa aksi yang tergabung dalam Komite Solidaritas untuk Venezuela (KSV) ketika melakukan aksi solidaritas untuk membela Venezuela di jalan Asia Afrika, Senin (19/3/2019). Aksi pembelaan Venezuela tersebut merupakan respons akan krisis politik yang terjadi di Venezuela yang dilakukan oleh pihak imperialisme Amerika Serikat (AS).

“Dalam artian, kan sekarang itu Venezuela memiliki tambang minyak terbesar. Nah, Amerika sebagai negara kapitalis dan imperialis mau merongrong. Ya dengan membuat framing di media itu pemerintahan Nicolas Maduro (Presiden Venezuela-red) itu mengalami krisis kemanusiaan. Tapi itu bukan yang terjadi. Ada blokade ekonomi. Bahkan di 2019 sekarang isu yang mencuat akan melakukan intervensi militer,” papar Humas aksi, Klara ketika ditemui di depan gedung Merdeka.

Aksi yang diikuti berbagai individu dan kolektif ini merupakan aksi global dan serentak dilaksanakan diseluruh dunia selama dua sepekan terakhir. Massa aksi memiliki enam tuntutan, pertama, menentang intervensi Imperialisme Amerika Serikat di Venezuela. Kedua, menuntut agar Amerika Serikat segera menghentikan blokade dan perang ekonomi di Venezuela. Ketiga, menyerukan kepada media massa Indonesia agar tidak turut menyebarkan berita bohong (fake news) yang dipropagandakan secara massif dan sistematis oleh korporasi media massa imperialis.

Keempat, mendukung rakyat Venezuela yang bertahan melawan intervensi AS dan sabotase oposisi kanan. Kelima, mendesak pemerintah Republik Indonesia (RI) agar berposisi menolak intervensi AS di Venezuela, dan mendukung Pemerintahan Maduro untuk mengatasi krisi politik secara demokratis dan beradab. Keenam atau terakhir, mengajak rakyat Indonesia untuk peduli dan bersolidaritas terhadap perjuangan rakyat Venezuela melawan intervensi imperialisme AS dan sekutunya.

Tidak hanya di Venezuela saja AS melakukan intervensi, namun AS juga pernah mengintervensi beberapa negara lainnya. “Dan untuk mereka sendiri (Amerika Serikat-red) tidak hanya Venezuela ya, yang dilakukan intervensi imperealisme. Bahkan kan Suriah, Libya juga sudah hancur, Afghanistan, Palestina pun juga, Papua gitu.” tambahnya.

Baca juga:  Mahasiswa Papua: Tegakan Pancasila jika Ingin Papua Masih Bagian dari NKRI

Seorang Massa aksi, Nanang menyebutkan bahwa media Indonesia dalam memberitakan keadaan yang sedang terjadi di Venezuela, tidak sepenuhnya yang terjadi dimuat dalam berita. Seperti halnya berita dari CNN, BBC, Reuters dan sebagainya, ia berpendapat bahwa media-media tersebut merupakan media yang menopang kepentingan imperialisme Amerika Serikat.

“Misalnya mereka memberitakan jutaan orang Venezuela meninggalkan negara Venezuela. Terus digambarkan diperbatasan orang-orang pergi meninggalkan perbatasan. Di perbatasan itu ya ada orang masuk ada orang keluar. Tapi yang diberitakan cuma yang perginya aja,” ujar Nanang.

Nanang pun menyebutkan contoh lain, seperti pemberitaan tentang pembakaran bantuan kemanusiaan di perbatasan. Yang diberitakan adalah pembakaran bantuan kemanusiaan yang dilakukan oleh pihak keamanan Venezuela, sedangkan faktanya yang melakukan adalah pihak oposisi. Selain itu, pemberitaan terkait kesulitan mendapatkan makanan, kesehatan, kelaparan yang merupakan akibat dari blokade ekonomi yang dilakukan oleh Amerika Serikat, media tidak menyebutkan kenapa hal tersebut terjadi. Padahal sudah dari tahun 2014 Venezuela di blokade secara ekonomi.

Ia berharap, kedepannya agar masyarakat Indonesia tidak mudah percaya pada media-media imperialis, tapi juga diimbangi dengan membaca media alternatif. “Harapan setelah ini ya kita nggak lagi mudah percaya dengan yang diberitakan oleh media-media imperialis. Kalau mau kita juga harus membaca berita-berita alternatif yang berasal dari Venezuela itu sendiri. Kayak Telesur, Venezuela analisis, atau mission verdat gitu. Itu lebih berimbang.” tutupnya.

Reporter : Awla Rajul/Magang

Redaktur : Dhea Amellia

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas