Kampusiana

Golput dan Hak Pilih dalam Berbagai Perspektif

Dari Kiri: Deni Ahmad Khaidar (Ketua PW GP Ansor Jawa barat), RR. Ina Wiyandiri (Ketua Gerakan Muslimat Indonesia Jawa barat), dan Bilven Sandalista (Pegiat Literasi Penerbit Ultimus Bandung) pada acara Diskusi panel “Jalan panas Politik Mahasiwa” yang diadakan Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK) di Aula Sc Lt. 1, UIN SGD Bandung, Kamis (21/3/2019). Yunita Rosdianti/Magang

SUAKAONLINE.COM – Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK) mengadakan diskusi panel mengusung tema “Berbagai Perspektif dalam pesta demokrasi: Jalan panas politik mahasiswa” di Aula Student Center, UIN SGD Bandung, Kamis (21/3/2019). Diskusi ini menghadirkan tiga pemateri, Ketua PW GP Ansor Jawa barat, Deni Ahmad Khaidar, Ketua Gerakan Muslimat Indonesia Jawa barat, RR. Ina Wiyandiri, dan Pegiat Literasi Penerbit Ultimus Bandung, Bilven Sandalista.

Menurut Pegiat Literasi Penerbit Ultimus Bandung, Bilven Sandalista, Golput kini telah menjadi pilihan dan solusi bagi sebagian mahasiswa dan masyarakat umum karena minimnya kandidat yang ada, terutama Capres dan Cawapres yang dinilai sulit menjatuhkan pilihannya hanya pada dua pasangan, dan alternatif pilihannya jatuh pada Golput. “Golput bisa dijadikan sarana protes untuk memperbaiki dan menegur kemacetan politik saat ini,” ujar Bilven.

Menurutnya, tahun ini diprediksi angka Golput bisa meningkat, walaupun tingkat partisipasi pasti lebih banyak dibandingkan Golput. Golput dianggap menjadi salah satu cara mengapresiasikan kejengahan mahasiswa dan masyarakat ditengah-tengah politik yang semakin carut marut. “Ataupun juga sebagai bentuk ketidaktertarikan mereka dengan janji-janji yang sering dilontarkan calon namun nyatanya janji tak jarang dilupakan bahkan solusi yang digembor-gemborkan tidak disentuh sedikitpun,” tambahnya

Bilven melanjutkan, dirinya memandang bahwa Golput wajar dipilih mahasiswa dan bisa menjadi pilihan mahasiswa ketika pemerintahan minim memberikan perubahan. Perubahan bisa dibuat kapanpun oleh mahasiswa, sedangkan memilih calon pun tidak bisa memastikan janjinya akan benar-benar direalisasikan atau obral janji saja saat kampanye.

Hal berbeda disampaikan ketua PW GP Ansor Jawa Barat, Deni Ahmad Haidar, yang menyarankan untuk tetap memilih. Menurutnya mahasiswa dianggap harus bisa menjadi alternatif dan ikut ditengah-tengah dalam kepanasan pemilu tahun ini, suara mahasiswa bisa jadi penentu yang baik untuk Indonesia kedepan. “Suara mahasiswa sangat diperlukan untuk jadi penentu, jangan sampai Golput,” ujarnya.

Baca juga:  PIAUD UIN Bandung Menggelar Festival Anak

Ia menambahkan, mahasiswa harusnya dapat memberikan hak suara di pemilu 2019, semua harus ikut berpartisipasi. Bila pilihannya dianggap sudah baik bisa dipilih namun bila dinilai kurang baik calon-calon yang mencalonkan dipemilu 2019 bisa dikritik dengan apapun yang dapat menunjang kesadaran para calon. “Mahasiswa juga kini tak mau ikut berpolitik, namun tunduk pada sistem politik saat ini, mahasiswa harusnya sadar akan hal seharusnya diperjuangkan yang menunjang sistem pemerintahan Indonesia,” tambahnya.

Dengan adanya diskusi panel ini, Deni berharap besar pada mahasiswa agar ikut menyuarakan suara mereka untuk pemilu 2019. Selain itu, dirinya berharap mahasiswa bisa menyadari akan pentingnya memberikan suara untuk para calon yang nantinya dapat mengubah nasib Indonesia kedepan. “Membuat pilihan yang terbaik adalah membuat pilihan dengan cara menyumbangkan hak suara,” harapnya.

Menurut Ketua gerakan Muslimat Indonesia, RR. Ina Wiyandiri, mahasiswa sebisa mungkin harus memberikan hak nya nanti, menurutnya angka Golput bisa diminimalisir dengan cara tetap memilih para calon, bila ada hal yang kurang dengan para calon para mahasiswa bisa mencari latarbelakang calon, ataupun melihat perspektif kerja mereka untuk Indonesia kedepan. “Mahasiswa harus memilih, karena kalian calon penerus bangsa ini,” serunya.

Ia menambahkan, Golput mungkin bisa dijadikan acuan memilih ditengah minimnya calon yang disuguhkan dan menjadikan kurangnya rasa kepercayaan untuk memilih para calon, namun hak suara memilih mahasiswa pun diperlukan guna memberikan perubahan sistem pemerintahan negeri ini dengan cara terus mencari tahu keunggulan calon untuk meyakinkan ikut memilih dipemilu 2019.

Reporter: Yunita Rosdianti /Magang

Redaktur: Harisul Amal

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas