Infografis

Petaka Sistem Keselamatan Penerbangan Indonesia Sepanjang 2016-2018

SUAKAONLINE.COM, Infografis – Sepanjang 2016 hingga 2018 banyak terjadi kecelakaan pesawat di Indonesia. Penyebabnya mulai dari kesalahan teknis sampai pada faktor kelalaian dari awak pesawat. theconversation.com pada tahun 2018 mencatatkan beberapa faktor penyebab terjadinya kecelakaan pesawat, bahwa kecelakaan yang disebabkan oleh kesalahan pilot mencapai angka 50 persen, sedangkan kerusakan mesin menyumbang angka 20 persen dan disusul faktor cuaca yang mempengaruhi 10%

Pada 3 Desember 2016, pesawat milik Polisi Republik Indonesia (Polri) jenis M-28 dengan nomor registrasi P-4201 jatuh di perairan Lingga, Kepulauan Riau. Pesawat tersebut dikabarkan hilang kontak saat mengudara dengan rute Pangkalpinang-Batam dan ditemukan terjatuh di perairan Lingga. Sebanyak 13 korban meninggal dalam kecelakaan pesawat tersebut. Pada bulan yang sama, pesawat Hercules C-130HS terjatuh di Wamena, Papua, setelah dinyatakan hilang kontak dan sebanyak 12 korban meninggal dunia.

Pada pertengahan tahun 2017, Insiden kecelakaan pesawat terjadi lagi. Tabrakan sayap pesawat Wings Air dengan Lion Air terjadi pada 3 Agustus 2017 di Bandara Internasional Kualanamu, Deliserdang, Sumatera Utara. Saat itu pesawat Wings Air membawa 66 penumpang, sedangkan Lion Air yang akan berangkat menuju Medan membawa 144 penumpang. Keduanya mengalami kerusakan sayap dan bandara harus ditutup sementara sehingga berdampak terhadap jadwal penerbangan.

Pada 1 April 2018, sebuah kondisi mengerikan terjadi di dalam pesawat Lion Air JT600 dengan rute Jakarta-Jambi. Pesawat tersebut mengalami deskompresi kabin atau tekanan udara berkurang saat mengudara sehingga penumpang harus menggunakan selang oksigen. Akibat kejadian itu, pesawat harus mendarat darurat di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang.

Selang beberapa bulan, tepatnya 12 Agustus 2018 pesawat jenis Pilatus Porter milik PT Martha Buana Abadi hancur di Gunung Menuk, Kabupaten Bintang, Provinsi Papua. Ditemukan dengan kondisi bagian depan pesawat rusak parah dan sayap sebelah kiri patah mengakibatkan sebanyak 8 orang dinyatakan meninggal dunia dan 1 orang dinyatakan selamat dari kejadian nahas tersebut.

Baca juga:  PIAUD UIN Bandung Menggelar Festival Anak

Di penghujung tahun kembali terjadi insiden kecelakaan pesawat fatal, yang kemudian menjadi sorotan publik yang kemudian mempertanyakan sistem keamanan penerbangan Indonesia. Maskapai Lion Air kembali mengalami kecelakaan pada 29 Oktober 2018. Lion Air dengan nomor penerbangan JT 610 rute Jakarta-Pangkalpinang terjatuh di perairan Karawang, Jawa Barat. Pesawat tersebut hilang kontak setelah 13 menit lepas landas dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Sebanyak 189 penumpang dan awak pesawat dinyatakan tewas dalam peristiwa tersebut.

Kecelakaan ini menjadi yang terparah kedua,  setelah 1997 Garuda Indonesia (PK-GAI) menabrak Gunung Sibolangit di Medan,  yang menewaskan 234 penumpang. Pasca insiden tersebut, maskapai Lion Air menjadi sorotan masyarakat dengan spekulasi yang beredar terkait buruknya sistem penjaminan kesalamatan maskapai tersebut. Dampaknya ialah terhadap trend jumlahpenumpang pengguna maskapai ini yang mengalami penurunan drastis, bahkan sehari pasca kejadian jumlah penumpang Lion Air tujuan Bali menurun hingga 25%.

Sumber : Tempo.co, kompas.com, news.okezone.com, theconversation.com

Peneliti : Rizky Syahaqy Desain : Nurul Fajri

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas