Kampusiana

Temui Massa Aksi, Tim Investigasi Sepakat Melibatkan Mahasiswa


Sejumlah massa aksi sedang melakukan mediasi dengan ketua Tim Pemeriksaan Dugaan Pelanggaran Kode Etik, Ahmad Sarbini dengan Sekretaris Tim, Zaenudin di aula Gedung Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Kamis (4/4/2019). (Awla Rajul/Magang)

SUAKAONLINE.COM – Setelah melakukan aksi hampir tiga jam lebih, akhirnya massa aksi bisa menemui ketua Tim Pemeriksaan Dugaan Pelanggaran Kode Etik, Ahmad Sarbini beserta sekretarisnya Zaenudin, di aula Gedung Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Kamis (4/4/2019). Dalam penjelasannya, Sarbini mengatakan bahwa dibentuknya Tim Pemeriksaan Dugaan Pelanggaran Kode Etik untuk merespon sekaligus menunjukkan keseriusan dalam menyikapi pemberitaan kasus pelecehan seksual yang terjadi di UIN SGD Bandung.

“Yang pertama tim ini memang dibuat itu untuk merespon sekaligus menunjukkan keseriusan kita dalam rangka menyikapi pemberitaan tentang adanya dugaan Pelecehan Seksual yang terjadi di kampus kita. Yang diberitakan waktu itu oleh suakaonline.com UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada tanggal 12 Nov 2018. Kemudian disusul oleh pemberitaan yang sama, detik.com Jabar tanggal 16 Nov 2018,” ungkapnya ketika melakukan mediasi dengan massa aksi.

Sarbini menjelaskan bahwa, pemberitaan Suaka waktu itu masih bersifat abstrak. Karena hanya menuliskan inisial-inisial tanpa menyebutkan nama jurusan dan nama fakultas. Oleh karena itu, ia bercerita lebih lanjut, pada waktu itu ia merasa bingung arah tujuan dari pemberitaan itu kemana. Dengan pemberitaan yang kian masif, tapi ia mengatakan kondisi di UIN SGD Bandung tidak melihat gejala-gejala yang seserius seperti yang diberitakan.

Informasi yang didapatkan, seterusnya ia berujar membuat berita acara kepada rektor, dan rektor menyerahkan laporan ke Inspektorat Jenderal (Irjen) Kemenag di Jakarta. Dikarenakan kasus harus segera ditangani, ia mengatakan rektor membuat Rapat Pimpinan (Rapim). Dalam Rapim tersebutlah adanya narasi agar perlunya membentuk sebuah tim pemeriksaan dugaan pelanggaran kode etik yang telah diberitakan oleh dua media.

“Akhirnya karena memang harus segera ditangani, apalagi sudah masif, sudah nasional. pak rektor mengadakan Rapim. Nah, Di forum Rapim itulah dibicarakan tentang perlunya segera dibentuk tim pemeriksaan dugaan pelanggaran kode etik sebagaimana yang diberitakan dua media itu,” pungkasnya lagi. Sarbini juga membeberkan alasannya dipilih sebagai ketua tim pemeriksaan dikarenakan kasus tersebut terjadi di Fakultas Dakwah dan Komunikasi, dan pihak fakultas sudah melakukan langkah awal untuk investigasi.

Dinlap massa aksi sekaligus negosiator, Muhammad Dikri Multajam mengatakan bahwa kasus pelecehan seksual bukanlah hal baru di UIN SGD Bandung, dan dari tahun ke tahun belum ada penyelesaiannya. “Ya kan gini kan ya, kronologisnya itu, jadi kan ngomongin kasus tentang pelecehan seksual ini bukan hal baru. Tapi tahun ke tahun gak pernah selesai gitu. Bahkan nyampe yang waktu kemarin, yang di fakultas Adab kan ya, itu seperti apa,” ungkapnya ketika ditemui di depan Gedung Rektorat, Jum’at (5/4/2019).

Dalam tuntutannya, ia membeberkan bahwa massa aksi mendesak ketua Tim agar mendesak rektor untuk membentuk sebuah lembaga independen yang khusus menangani kasus pelecehan seksual di UIN SGD Bandung. “Nah tuntutannya adalah, kita menuntut kepada ketua tim investigasi untuk mendesak kepada rektor untuk membuat lembaga tersebut. Lembaga independen yang menangani kasus pelecehan seksual seperti ini. Iya, di kampus kita,” tambahnya.

Dalam pembentukan Lembaga tersebut, lanjutnya, ia menuntut agar adanya keterlibatan mahasiswa dan dosen ahli agar dalam penangannya objektif. Dikri mengaku tuntutan massa aksi disanggupi oleh ketua tim dan sekretaris, sekaligus sudah ditandatangani untuk kemudiaan dibawa ke rapat pimpinan. “Nah, kemarin kita tuntutannya itu, dan sudah ditandatangani oleh ketua tim pencari fakta dan akan segera dibawa ke rapim bersama jajaran rektorat. Seperti itu,” tuturnya.

Hal tersebut dibawa ke rektor dikarenakan bukan kapasitas dari ketua Tim untuk membentuk dan melibatkan mahasiswa ke dalam tim, tapi merupakan kewenangan dari rektor. Tim juga tidak memberikan tenggat waktu kapan tuntutan massa aksi direalisasikan. Karena itu ia mengatakan massa aksi masih menunggu. Jika tidak adanya kepastian dalam tuntutan mereka, Dikri mengatakan kedepannya akan ada lagi aksi.

“Ya pasti, aksi lagi kita posisinya. Pokoknya gimana caranya juga, kan mereka juga berdalih seperti ini: kita itu sedang masa transisi, pemilihan rektor yang baru. Kita itu juga sedang dalam pembenahan yang lain. Ya kita gak terima hal itu, pak. Kalau misalkan bapak sepakat tentang hal ini, ya sama-sama kita mendesak pimpinan.” Tutupnya.

Sekretaris Tim Pemeriksaan Dugaan Pelanggaran Kode Etik, Zaenudin menyampaikan bahwa dalam kasus yang sedang berjalan, ia menyarankan kepada massa aksi untuk mendukung Irjen dalam pemeriksaan. Yaitu dengan memberikan informasi terkait dugaan-dugaan terjadinya pelecehan seksual. Untuk tututan dari massa aksi, ia bersama ketua tim menyanggupinya, yaitu melibatkan mahasiswa dalam Tim Pemeriksaan.

“Oleh karena itu dalam pernyataan yang ditulis ini, yang akan disampaikan kepada rektor oleh ketua tim dan kami bersama-sama. Dan mudah-mudahan itu, kita senang bahwa mahasiswa itu kedepan, diharapkan kedepan merupakan bagian tim pemeriksa pelanggaran dugaan kode etik. Iya, harus masuk.” ujarnya.

Disamping itu, juru bicara aksi, Vini Zulva menganggap bahwa ini merupakan kemenangan kecil. Menurutnya, mereka tidak ingin klaim dari birokrat bahwa mengenai telah selesainya hasil investigasi ini hanya untuk meredam desakan dari mahasiswa

“Kita menganggap ini sebagai kemenangan kecil, ya. Karena kami belum melihat dengan jelas. Toh, dari ucapan-ucapan Sarbini tadi itu tidak bisa menentukan waktu. Padahal, kasus-kasus ini kan banyak sebenarnya, yah. Perlu dituntaskan secara cepat juga. Perlu dilibatkan dan di SK kan mahasiswa ini secara cepat juga.” Hal tersebut disampaikannya ketika ditemui oleh Suaka seusai mediasi berlangsung.

Reporter: Awla Rajul/Magang.

Redaktur: Harisul Amal

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas