Politik dan Ekonomi

DEEP Kota Bandung : Kawal Pemilu 2019 yang Berkualitas dan Berintegritas

Pemateri dan moderator tengah menyampaikan materi pada acara Launching DEEP Kota Bandung dan Diskusi Pemilu 2019 dengan tema “Dinamika Menjelang Pelaksanaan Pemilu 2019” di Pawon Pitoe Cafe, Minggu (07/04/19). (Fajar Hidayatullah/Magang)

SUAKAONLINE.COM – Democracyand Elektoral Empowerment Partnership (DEEP) mengadakan launching DEEP Kota Bandung dan Diskusi Pemilu 2019 dengan tema “Dinamika Menjelang Pelaksanaan Pemilu 2019” di Pawon Pitoe Cafe, Minggu (07/04/19). DEEP sendiri merupakan sebuah lembaga yang digagas oleh masyarakat sipil sebagai sebuah upaya untuk memberikan kontrol terhadap pelaksanaan pemilu dan proses demokrasi.

Direktur Eksekutif DEEP, Neni Nur Hayati menyatakan, berdasarkan survei yang terbagi ke dalam 27 kabupaten dan kota, masih banyak pemilih milenial yang belum tau bahwa tanggal 17 April 2019 nanti akan memilih lima surat suara.

Ia melanjutkan bahwa salah satu sektor yang harus diperhatikan adalah isu hoaks, karena isu ini sangat masif digembor-gemborkan untuk menyerang paslon lawan terutama di media sosial. “Kominfo mencatat di tanggal 2 januari 2019 itu ada 70 isu hoaks di sosial media yang berhubungan dengn pemilu. Kemudian di Bawaslu sendiri mencatat 610 konten hoaks yang diterima sejak pelaksanaan pemilu 2019,” ujarnya.

Senada dengan Neni, Direktur DEEF, Yusfidtriadi, menurutnya ada lima isu krusial di pemilu ini. Yang pertama adalah daftar pemilu, kedua isu politik uang dan dana kampanye, ketiga isu euforia di TPS, keempat isu Negatif Campaign dan Black Campaign, dan kelima yaitu isu politik identitas yang tidak peduli capresnya bagus atau tidak, seperti misalnya disuruh Kiyai milih A kemudian diikuti.

Baginya, pemilu bukan sebatas peralihan rezim, tetapi memiliki makna lebih. “Karena bagi saya pemilu tidak hanya sekedar perlaihan kekuasaan, apalagi pesta demokrasi. Bagi saya, pemilu adalah sebuah bentuk penguatan kedaulatan politik diri, harusnya semakin sering ikut pemilu maka kedaulatan kita semakin kuat,” tutur Yusfiandi.

Pemateri lainnya yaitu, Zaenal Ihsan, Salah satu pengurus LHKP PWM mengatakan, kualitas penyelenggara pemilu tidak hanya siap semata, tetapi juga harus memiliki kompetensi teknik terkait penyelenggaraan pemilu, dan peran media di sini sangat diharapkan untuk menjaga netralitasnya, jangan malah cenderung memihak ke salah satu paslon.

Sementara itu, Koordinator Bawaslu Jawa Barat, Yusuf Kurnia, mengungkapkan bahwa pemilu kali ini mempunyai kelemahan, karena dipadukannya antara pemilihan presiden dan legislatif. “Pemilu legislatif tenggelam, calon-calon pemimpin lokal ini kan banyak masyarakat yang nggk tau. Padahal masyarkat itu bukan hanya ditentukan oleh presiden, jadi seolah olah hari ini pemilu 2019 cuman milih 02 01 atau 01 02,” ungkapnya.

Ia melanjutkan bahwa kita semua mesti memaknai demokrasi pada pemilu ini tidak hanya sekedar soal memilih pemimpin, tetapi lebih dari pada itu.“Kita berharap sebagai kelompok yang memaknai bahwa pemilu juga mesti ditempatkan sebagai sebuah momentum melakukan penghukuman bagi pemimpin politik yang tidak punya kepekaan terhadap kepentingan publik.” kata Yusuf.

Reporter : Fajar Hidayatullah, I Made Cahyana / Magang

Redaktur : Dhea Amellia

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas