Advertorial

Teater Awal Sukses Tampilkan Pementasan Studi Panggung ke-31

Pemeran nenek memberikan sepenggal wejangan setelah prosesi upacara syukuran masyarakat desa, yang merupakan salah satu adegan dalam pementasan studi panggung angkatan 31 Teater Awal Bandung, di Aula Abdjan Soelaeman, Senin, (8/4/2019). (Harisul Amal/Suaka)

SUAKAONLINE.COM – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Awal adakan pementasan studi panggung ke-31 dengan judul “Amat Jaga” di Aula Abdjan Soelaeman, Senin, (8/4/2019). Pementasan diisi oleh 31 aktor yang merupakan anggota angakatan ke-31 Teater Awal.

Sutradara pementasan, Hilman M. Pahlevi menjelaskan bahwa pementasan yang naskahnya dibuat oleh Saini KM tersebut diselenggarakan selama dua hari dari tangga l 8-9 April, menceritakan  tentang  hadirnya instrumen modernisasi salah satunya yaitu pabrik dengan segala teknologinya yang menimbulkan dampak negatif bagi kehidupan masyarakat desa. Bahkan sampai pada memakan korban dengan terbunuhnya Amat juga Amat Jaga.

“Naskah ini menceritakan tentang bagaimana datangnya modernisasi yang harus memakan korban untuk masuk ke daerah-daerah. Bahkan bisa diambil pesan moralnya yang bisa dilihat dari sosok Amat, dia rela mempertaruhkan nyawanya demi menjaga tradisi dan kebiasaan di kampung halamannya ,” ungkapnya.

Pertunjukan dibuka dengan suasana dramatis ritual masyarakat pedesaan merayakan syukuran hasil panen sawah mereka, kian dramatis dengan hadirnya seorang nenek tua dengan badan renta membungkuk yang memerankan seorang  tetuah di desa tersebut sekaligus pemandu prosesi ritual. Di ujung kegembiraan masyarakat setelah ritual, datanglah dua orang lelaki yaitu kepala desa dan juragan pabrik yang berencana membuka pabrik di desa mereka, yang dalam alur menjadi awal segala konflik dalam cerita tersebut.

Hadirnya dua lakon dengan nama Amat yang masing-masing memiliki peran berbeda menjadi sumbu utama dua pihak yang selalu berkonflik, pemeran Amata, Alan Maulana Aldiansyah diceritakan memiliki perangai seorang pemuda desa yang getol menolak kehadiran pabrik yang dianggapnya banyak berdampak buruk terhadap desa. Justru sebaliknya, pemeran Amat Jaga yang diperankan Fahrijal Nasri Alghifari diceritakan memiliki tabiat yang bersebarangn dengan Amat. Konflik keduanya dimulai saat Amat Jaga terpilih menjadi pekerja di pabrik yang baru dibangun tersebut.

Baca juga:  Wisuda ke-74, Mahmud : UIN Bandung Siap Bertaraf Internasional

Konflik kian meruncing setelah Amat Jaga menuding bahwa Amat menjelek-jelekkannya di depan wanita yang mereka sukai, Tiwi. Konflik gagasan antara Amat yang berupaya menjaga adat istiadat desanya, sementara sebaliknya Amat Jaga yang berusaha mempertahankan  pabrik tempatnya bekerja, diperparah dengan hadirnya persoalan asmara  cinta segitiga. Keduanya sama-sama menaruh hati kepada Tiwi dan berniat melamarnya. Namun, cerita  berujung pada terbunuhnya Amat dan  Amat jaga setelah keduanya bertarung hebat.

Suguhan adegan bertarung antara Amat dan Amat Jaga di akhir pertunjukan menjadi klimaks dari segala konflik yang disuguhkan. Bahkan dalam wawancaranya kepada Suaka, Alan menyebutkan bahwa persiapan latihan untuk bagian beratrung tesebut menjadi salah satu kendalanya selama tiga bulan persiapan pertunjukan tersebut.

“Kendalanya paling karena ini adalah yang pertama kalinya bagi saya, juga di dalam pementasan tersebut kan ada adegan fightingnya, nah itu yang paling susah.” ujarnya.

Reporter : Abdul Azis Said

Redaktur : Lia Kamilah

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas