Lintas Kampus

IKAPA: Masyarakat Harus Paham Dampak di Balik Industri Tambang

Ikatan Pemuda Aceh-Bandung (IKAPA) menggelar diskusi publik tentang ‘Kasus PT. EMM, Pemerintah Aceh Dipihak Siapa?’ Di Waroeng Surabi (WS), Setiabudi, Kota Bandung, Rabu (10/4/2019). Awla Rajul/ MAGANG

SUAKAONLINE.COM – “Mahasiswa dan masyarakat harus sadar akan bahayanya industri pertambangan” ujar Kabid Advokasi Ikapa, Harisul Amal, saat Diskusi Publik Menolak PT EMM bertajuk  ‘Kasus PT. EMM: Pemerintah Aceh Dipihak Siapa?’ yang diadakan oleh Ikatan Pemuda Aceh (Ikapa) Bandung, di Waroeng Surabi (WS), Setiabudhi, Kota Bandung, Rabu (10/4/2029).

Haris mengatakan, ada berbagai alasan kenapa kehadiran PT. EMM harus ditolak dari Aceh adalah banyak terjadi kerusakan dan kemudharatan, karena 10.000 hektar yang digarap PT EMM berada dalam hutan lindung, yaitu Taman Nasional Leuser. Menurutnya banyak dampak negatif kehadiran PT EMM disana, seperti dampak terhadap lingkungan hidup,  sumber air masyarakat yang tercemar,  berdampak terhadap 204,15 hektar sawah dan kebun, potensi bencana ekologis, hingga potensi terjadi konflik sosial masyarakat setempat.

“Ada 3 kabupaten, 6 kecamatan, 70 desa di Aceh yang secara langsung terkena dampak dari kehadiran PT EMM karena sumber air Krueng Mereubo tercemar, yaitu Kabupaten Nagan Raya, Aceh Tengah, dan Aceh Barat. Belum lagi akan hilang dan rusaknya beberapa warisan dan cagar sejarah Aceh, karena disana terdapat kuburan-kuburan ulama dan pahlawan, serta ada tapak tilas Cut Nyak Dhien,” ungkapnya

Ia menambahkan, masyarakat harus paham akan bahayanya industri tambang, karena sekali izin tambang ditanda tangani, maka perusahaan telah menguasai ruang dan waktu masyarakat untuk waktu yang lama, yang akan terus digerus hingga 30-40 tahun. Dan lagi, daya rusak tambang yang paling berbahaya adalah tambang pasti akan meninggalkan lubang-lubang tambang, yang akan membekas selamanya.

“Karena faktanya, hampir 83% izin tambang di Indonesia ini tidak memiliki dana jaminan reklamasi dan rehabilitasi lubang bekas tambang, apabila lubang ini tidak direhabilitasi, ini akan berbahaya karena berisi logam berat dan bahan beracun” tambahnya.

Baca juga:  Wisuda ke-74, Mahmud : UIN Bandung Siap Bertaraf Internasional

Lebih lanjut ia mengatakan, diskusi publik ini dilakukan juga sebagai respon terhadap tindakan represif aparat kepada mahasiswa yang sedang melakukan aksi PT. EMM di Aceh. “Ini juga sebagai dukungan moral bagi perjuangan mahasiswa di Aceh. Ikapa menyatakan bahwa mahasiswa di Aceh harus tetap semangat, karena mahasiswa di Aceh tidak sendiri. Kami mendukung penuh aksi mahasiswa di Aceh, kami yang di luar Aceh pun peduli dengan permasalahan di kampung halaman,” ungkapnya

Ia menyatakan, diskusi tersebut merupakan langkah awal. Selanjutnya, Ikapa akan melakukan aksi solidaritas yang direncanakan akan dilakukan pada Jumat, (12/4/2019). “Selanjutnya, pada Jumat kita akan melakukan aksi solidaritas di depan gedung Asia-Afrika, di kota Bandung. Aksi solidaritas ini akan kita lakukan serentak di beberapa kota seperti di Jogja, Malang, Jakarta, dan di Bandung sendiri.” Ungkapnya.

Ketua Ikapa, Nahar Fazlan mengungkapkan sikap dari Ikapa terhadap PT.EMM. Ia mengatakan, Ikapa menolak kehadiran PT. EMM karena akan merugikan kelestarian lingkungan. Ikapa juga mengecam tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap demonstran, apapun alasannya.

“Selanjutnya, kami meminta gubernur Aceh dalam hal ini Plt pak Nova untuk membuktikan bahwa dia pro terhadap rakyat minimal menemui demonstran dan menuntut agar pemerintah daerah mengambil tindakan secara cepat dan tepat.” Tutupnya.

Reporter: Awla Rajul/ MAGANG

Redaktur: Dhea Amellia

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas