Politik dan Ekonomi

Sexy Killer : Penindasan Masyarakat dan Wacana Golput Pilpres 2019

(dari kanan) Moderator diskusi, Heri Pramono, Koordinasi Advokasi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Barat, Wildan Siregar, Vokalis Homicide, Herry Sutresna (Ucok) sedang memaparkan pendapatnya tentang film Sexy Killer, di Kampung Aliansi, Tamansari, Kamis (10/04/2019). (Aldy Khaerul Fikri/Magang)

SUAKAONLINE.COM- “DI rezimnya Jokowi kediktatoran itu berbentuk peratuan, tidak memaksakan kehendak jadi dia cukup untuk membuat regulasi-regulasi perizinan terkait PLTU. Jadi secara regulasi dia sangat produktif untuk mendukung projek-projek pembangunan,” ujar Koordinasi Advokasi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Wildan Siregar dalam acara nonton bareng dan diskusi film Sexy Killer, di Kampung Aliansi, Tamansari Kamis (10/04/2019).

Kemudian Herry Sutresna atau sering dipanggil Ucok Homicide memaparkan part film Sexy Killer yang menayangkan penggusuran tanah dan rumah warga oleh negar,  dan korporasi untuk merealiasikan penggalian lahan batu bara dan proyek pembangunan pemerintah, yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

“Mereka itu  akan menggunakan segala cara, percis yang dikatakan Jokowi kita akan melakukan segala cara untuk terealisasinya program itu. Kuatnya niat negara dan korporasi apa yang akan mereka rencanakan, dan itu sudah diantisipasi dari hulu ke hilir, dibawahnya udah jelas, berapa orang kemudiaan di kriminanalisasi di hajar di sikat. Contohnya warga Indramayu protes dengan adanya PLTU dengan cara upacara keluargaan dengan memasang bendera, ketika pulang ke rumah, benderanya udah kebalik-balik dan malemnya langsung di tangkap polisi dengan tuduhan warga amenghina lambang negara,”ungkap Ucok.

Ucok juga menjelaskan untuk bisa melawan oligarki kekuasaan yang sudah terbangun pemerintah dan korporasi, masyarakat dan kaum intelektual harus bersatu dan berjejaring “Yang harus kita lakukan adalah kemudian membangun jejaring perlawanan warga yang dimana-mana ini mengkomunikasikan apa yang ada di Batang, Indramayu, Kaltim mereka itu nggak sendirian, forum ini menunjukan film ini diputar dimana-mana memperlihatkan warga itu nggak sendirian,” ungkap vokalis Homicide tersebut.

Dalam film Sexy Killer ini, dijelaskan bahwa dua kubu kandidat pasangan calon (paslon) Presiden dan Wakil Presiden yaitu paslon nomor satu Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan paslon nomor dua Prabowo Subianto – Sandiaga Uno memiliki kebijakan dan saham dalam peusahaan batu bara yang merugikan banyak warga. Hal ini menurut Ucok, menjadikan golput bukan lagi sebuah wacana yang tidak menarik.

Baca juga:  PIAUD UIN Bandung Menggelar Festival Anak

“Wacana golput hari ini itu menarik, karena tahun ke tahun membosankan, tapi tahun ini menjadi menarik karena banyak kawan-kawan yang mencoba melampaui wacana itu, bahwa mencoblos itu gak ada gunanya dan golput itu juga gak ada gunanya, karena pemilu demokrasi elektoral itu ilusi, seolah-olah kita melakukan aktifitas politik padahal nggak. Kita mencoba melampaui wacana golput itui supaya menjadi gerbang setelah golput itu mau ngapain? PR nya banyak, kita perlu merajut titik api ke titik api, intinya kita bikin jejaring perlawanan rakyat jangan mengandalkan elit-elit yang disana,” tuturnya.

Diakhir diskusi para pemteri, LBH Bandung, WALHI Jawa Barat dan Aliansi Taman Sari Melawan menghimbau para masyarakat dan mahasiswa untuk selalu menyuarakan pelawanan dan merajut komunikasi dari titik-titik perlawanan yang ada di Indonesia yang kemudian bersatu untuk melawan segala bentuk penindasan.

Reporter : Aldy Khaerul Fikri/Magang

Redaktur : Dhea Amellia

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas