Kampusiana

Ayi Yunus : Minat Baca Sederhana itu Memiliki Makna

Ayi Yunus sedang menjelaskan tentang buku yang ia tulis dalam acara Tadarus Buku “Fikih Milenial” yang diselenggarakan di Aula Fakultas Syariah dan Hukum, Selasa (14/5/2019). (Fadil Ilman/Magang)

SUAKAONLINE.COM – Himpunan Mahasiswa Jurusan Perbandingan Madzhab dan Hukum bekerja sama dengan Gerakan Islam Cinta (GIC) menyelanggarakan Tadarus Buku “ Fikih Milenial” dalam rangka tasyakur atas diraihnya akreditasi A di Aula Fakultas Syariah dan Hukum, Selasa (14/5/2019). Acara ini diisi oleh dua pemateri yaitu Ketua Jurusan Perbandingan Madzhab dan Hukum juga penulis serial buku “Fikih milenial”  Ayi Yunus , dan ketua Gerakan Islam Cinta (GIC) Eddy Aqdhawijaya.

Dalam menulis buku ini, penulis memiliki latar belakang dimasa kecilnya. Ayi Yunus memiliki teman masa kecil yang sangat menyukai Musik Bergenre keras seperti Rock, Metal dan Heavy Metal sejak SMP. Dan ketika dipisahkan dengan temannya ia berbeda dalam melanjutkan pendidikan, mereka dipertemukan kembali dengan temannya yang sudah hijrahyang menganggap bahwa musik itu haram .

 Ayi Yunus berfikir tentang kebenaran hal tersebut. Lalu ia melanjutkan riset dan melihat artis –artis yang  juga sama hijrah dari dunia permusikan seperti Vokalis band Matta , yang juga sama dengan temanya yang mengharamkan musik, namun ia melihat artis lain yaitu Ivanka bassis Slank , karena ia tetap bermusik walaupun telah hijrah.

Ia juga melakukan hal-hal dakwah ketika Konser Slank berlangsung. Lalu ia mendapat jawaban bahwa musik itu diharamkan karena Laghou atau lalai, Ayi menjelaskan jika musik diperbolehkan jika dipakai untuk sekedar hiburan dan lebih bagus jika dipakai berdakwah.

“Pertama, saya belajar tentang fikih banyak sekali dan saya bergaul dan berdekatan dengan mahasiswa kalangan milenial, tidak cukup saya hanya sekedar menyampaikan itu dikelas , hanya ceramah, karena daya jangkaunya hanya mahasiswa yang ada di sana aja sementara kalangan milenial itu sangat luas, sehingga dengan cara menulis ini saya bisa berbagi dengan siapapun, dimanapun,” paparnya.

Eddy Aqdhawijaya memberi apresiasi kepada penulis karena dengan segala kesibukkannya ia bisa menyelesaikan buku dalam kurun waktu kurang dua bulan. Ia juga mengatakan rasa bangganya kepada penulis karena masih tetap bersemangat dalam belajar dan juga menulis tentunya. Menurut penjelasan Eddy buku ini merupakan salah satu buku yang paling disukai oleh generasi milenial dari 21 seri buku.

GIC mencetak ke-21 seri bukunya dalam rangka meningkatkan minat baca generasi milenial. Menurut Eddy mengutip dari hasil riset lembaga independen dunia yang dimana indonesia berada di peringkat dua terbawah dari 61 negara dalam minat bacanya. Ia kemudian memulai upaya meingkatkan budaya literasi di Indonesia dengan menggerakkan mahasiswa dan dosen UIN dari seluruh indonesia untuk menulis ke-21 seri buku yang di cetak oleh GIC.

Menurut penjelasan Eddy, buku tersebut sengaja didesain menyesuaikan dengan targetan pembacanya yaitu generasi milenial. “Karena kurangnya minat baca milenial, caranya kita memiliki konsep singkat yang memikat , sederhana namun dalam makna.“ujarnya.

Di akhir acara Ayi yunus berharap agar generasi milenial bisa memanfaatkan kemudahan-kemudahan yang ada. Seperti media yang sudah banyak, karena menurutnya media untuk belajar dan medapatkan informasi sudah sangat banyak dan tinggal bagaimana generasi milenial memanfaatkannya.

Reporter : Fadil Ilman/Magang

Redaktur : Lia Kamilah

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas