Kampusiana

Kejanggalan Musti Sema-U

(Dari Kiri) Presidium dua, Hamdan Maulana, Presidium Satu, Asep Saripudin, dan Ketua Umum terpilih Umar Ali Muharom, usai penetapan Ketua Umum terpilih dalam Musti yang di selenggarakan di Aula Student Center, Kamis (30/5/2019). (Elsa Yulandri/Suaka)

SUAKAONLINE.COM – Musyawarah Tingkat Tinggi Universitas (Musti-U) Senat Mahasiswa UIN SGD Bandung (Sema-U) yang diadakan Kamis (30/5/2019), telah usai dilaksanakan. Ketua Umum Sema-U periode 2017-2018, Acep Jamaludin bertindak sebagai pimpinan sidang yang memimpin sidang pembahasan agenda acara dan tata tertib persidangan, evaluasi Dema-U, serta pemilihan presidium sidang.

Acep Jamaludin, mengatakan bahwa mekanisme pemilihan presidium ialah mencalonkan diri atau dicalonkan, mendapat rekomendasi dari tiga peserta forum, serta disepakati dengan cara musyawarah mufakat.

Sedangkan menurut penuturan Umar Ali Muharom Ketua Umum Sema-U terpilih periode 2019-2020, mengenai mekanisme pemilihan presidium sidang ialah dipilih melalui kesepakatan forum Musti, ia juga menambahkan bahwa peserta forum hanya menyepakati adanya presidium dan sekretaris sidang saja.

Mengenai presidium sidang sendiri sebenarnya telah diatur di dalam tata tertib persidangan yakni pada BAB VI tentang Pimpinan Sidang pasal 13 bahwa Pimpinan sidang adalah anggota sidang Musti yang dipilih dengan mekanisme yang ada dan pimpinan sidang adalah yang terpilih oleh forum. Serta dalam BAB III tentang Anggota Sidang Musyawarah Tinggi pasal 7 dijelaskan bahwa peserta sidang merupakan anggota Sema-U dan Dema-U.

Ketika pemilihan presidium sidang, terpilihlah Asep Saripudin dari Jurusan Administrasi Publik sebagai presidium dan Hamdan Maulana dari Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam sebagai sekretaris presidium. Kendati dua orang tersebut terpilih sebagai ketua dan sekretaris presidium, namun kedudukannya ditetapkan dalam konsideran sebagai presidium satu dan presidium dua.

Berdasarkan Tata Tertib Persidangan pada BAB VI pasal 13 di atas dapat dilihat bahwa kandidat yang dapat mencalonkan dan dipilih menjadi pimpinan sidang ialah anggota sidang Musti. Mengenai anggota sidang Musti sendiri dijelaskan dalam BAB III pasal 7 bahwa anggota sidang merupakan anggota Sema-U yang baru saja dilantik dan dibuktikan dengan Surat Keputusan (SK) pelantikan.

Baca juga:  Kontroversi UIN Bandung Paling Fundamentalis: ‘Dugaan Unsur Kepentingan’

Namun dari hasil penelusuran Suaka, Hamdan Maulana yang terpilih menjadi presidium dua dalam Musti ini tidak tercantum namanya didalam SK pelantikan sebagai anggota Sema-U. Mengetahui hal tersebut, Suaka mencoba mengklarifikasi kepada pimpinan sidang saat pemilihan, Acep Jamaludin.

Acep Jamaludin menyatakan, tidak mengecek mengenai hal tersebut dan meminta Suaka untuk menanyakan langsung pada orang yang bersangkutan atau teman-teman Sema-U yang lain. “Tapi untuk di dalam SK atau tidak, kemaren urang tuh bilang orang yang belum masuk SK buat ketetapan dengan mekanisme yang dapat dipertanggungjawabkan,” imbuhnya saat diwawancarai via daring, Jumat (31/5/2019).

Suaka pun kembali mencari jawaban dari kejanggalan tersebut, kami mencoba mewawancarai Ketua Umum Terpilih Periode 2019-2020, Umar Ali Muharom. Dia menjelaskan mengenai ketiadaan Hamdan dalam SK. Umar mengatakan ketika pembentukan KPU dan penjaringan bakal calon terdapat chaos sehingga mereka tidak tahu nama-nama anggota Sema-U yang dimuat dalam SK serta sikap Hamdan yang saat itu susah dihubungi hingga akhirnya ia datang dan masuk ke dalam forum Musti-U tersebut.

“Saya pun sempat mengabarkan ke beberapa orang yang ada di senat untuk mengusir dia dari forum, tapi kita punya etika lah. Toh dia jadi presidium sementara, dikepengurusan dia gak jadi dan dia baru tau juga di SK gak ada nama dia,” jelasnya.

Umar Ali juga menegaskan bahwa nama Hamdan Maulana tidak ada dalam staffing kepengurusan. “Tadinya kalau dia gak nerima dan keukeuh masuk struktural kita mau sepakat mau kick out dia, tapi dia menerima. Kita mengharga perjuangan dia jadi anggota Sema-U aja, walaupun pada akhirnya di SK gak ada.” pungkas Umar.

Sidang pleno yang dipimpin oleh dua presidium tersebut ialah menetapkan laporan pertanggungjawaban Sema-U dan memimpin jalannya pemilihan ketua umum Sema-U periode 2019-2020 serta menetapkannya.

Baca juga:  Fundamentalisme: Makna Lebih Dalam Dibanding Riset Setara Institute

Suaka mencoba menghubungi Hamdan Maulana via pesan Whatsapp untuk meminta klarifikasinya pada Jumat (31/5/2019) dan Sabtu (1/6/2019). Namun hingga berita ini dipublish, Suaka masih belum mendapat balasan apapun darinya.

Reporter: Elsa Yulandri

Redaktur: Lia Kamilah

1 Comment

1 Comment

  1. Acep jamaluddin

    2 Juni 2019 at 14:10

    Sejak kapan uin sgd punya sema U? Baru tau saya? Gapernah ada pemilihan tapi ada sema U dengan priodenya juga? GAWAT nih calon pemimpin bangsa yang inkonstitusional

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas