Kampusiana

Betty : Perluas Jaringan Pekerjaan Melalui Beasiswa di Belanda

Kepala Pusat Karir UIN SGD Bandung, Betty Tersnawaty dan Perwakilan Nuffic Neso Indonesia, Maulana melakukan foto bersama dengen para peserta setelah acara selesai di Ruang Seminar Pusat Perpustakaan lantai satu, Jumat (5/7/2019). (Anisa Nurfauziah/Suaka)

SUAKAONLINE.COM – “Belanda memiliki kekerabatan khusus dengan Indonesia dan juga hubungan yang bersejarah,” ujar perwakilan Nuffic Neso Indonesia, Maulana dalam Seminar Info Beasiswa Studi di Belanda yang dilaksanakan di Ruang Seminar Pusat Perpustakaan, Jumat (5/7/2019). Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Karir UIN SGD Bandung bekerjasama dengan Nuffic Neso Indonesia menyampaikan informasi tentang melanjutkan pendidikan jenjang S2 dan S3 ke Negeri Kincir Angin tersebut.

Maulana menjelaskan bahwa kehadiran Nuffic Neso bertujuan untuk membantu orang yang memiliki minat melanjutkan studi di Belanda dalam mengakses informasi mengenai pendaftaran, universitas dan berbagai jenis beasiswa yang tersedia. Selain itu, Nuffic Neso juga dapat melakukan kerjasama dengan institusi pemerintah Indonesia dan membuka peluang kerja bagi alumni mahasiswa Belanda atau yang disebut dengan Holland Alumni Network.

Berada dibawah Kementerian Pendidikan Belanda, Nuffic adalah organisasi non profit dan didanai oleh pemerintah Belanda. Nuffic Neso merupakan kantor perwakilan di sepuluh negara yang memiliki hubungan bilateral amat baik dengan Belanda yaitu Brasil, Tiongkok, India, Indonesia, Meksiko, Rusia, Afrika Selatan, Korea Selatan, Turki dan Vietnam.

Jenis Beasiswa yang Dikelola

Beberapa beasiswa yang dapat membantu baik yang dikelola oleh pemerintah Belanda, maupun oleh pemerintah Indonesia. Beasiswa yang dikelola oleh Belanda yang pertama adalah Orange Tulip Scholarship (OTS) dan Holland Scholarship, beasiswa ini merupakan beasiswa yang diberikan dan merupakan kerjasama dengan universitas di Belanda.

“Tahun ini OTS dan Holland Scholarship akan dibuka untuk aplikasi mulai bulan November 2019 dan akan ditutup tergantung pada setiap universitasnya. OTS akan memberikan beasiswa berupa potongan biaya pendidikan sebesar 30% sampai dengan 100%. Sedangkan Holland Scholarship merupakan potongan biaya pendidikan ditahun pertama saja sebesar 5000 euro,” ujarnya.

Baca juga:  Musim Wisuda! UIN Bandung Bakal Lepas 2.944 Mahasiswa

Beasiswa yang kedua adalah StuNed dan Orange Knowledge Programme (OKP). StuNed merupakan beasiswa yang populer di Indonesia karena langsung turun dari pemerintah Belanda dan merupakan beasiswa penuh termasuk biaya hidup. Kemudian beasiswa OKP hanya berlaku untuk orang yang sudah bekerja, karena merupakan kerjasama yang ditujukan bagi orang dalam suatu perusahaan untuk dapat kesempatan mengembangkan diri.

“Beasiswa yang dikelola oleh pemerintah Indonesia diantaranya beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), MORA Scholarship yang dikelola oleh Kemenag tahun ini sedang memfokuskan untuk program S3, dan Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia (BUDI) yang juga dikelola oleh LPDP dan diperuntukan bagi dosen,” ujar Maulana.

Keuntungan Studi di Belanda

Berdasarkan Indeks Kecakapan Berbahasa Inggris 2018 oleh Perusahaan Pelatihan Bahasa Global, Education First Belanda berada diperingkat tertinggi bersama dengan Swedia sebagai negara dengan kemampuan Bahasa Inggris terbanyak di Eropa. Seluruh universitas di Belanda tidak mewajibkan mahasiswanya dapat berbahasa Belanda, cukup dengan kemampuan Bahasa Inggris.

Maulana menyampaikan saat ini ada 2100 program studi yang sudah menggunakan Bahasa Inggris meski beberapa program studi ada yang memerlukan kemampuan Bahasa Belanda seperti program studi kedokteran. “95% penduduk Belanda sudah berbahasa Inggris, sehingga teman-teman tidak perlu khawatir untuk les bahasa dulu sebelum kesana. Kalau ingin les Bahasa Belanda silakan namun tidak diwajibkan,” katanya.

Menurut Times Higher Education, dalam peringkat perguruan tinggi dunia, semua universitas Belanda memasuki peringkat 200 teratas, terutama universitas research yang tahun ini berada di peringkat 100 teratas dunia. Itu menjadi bukti bahwa universitas di Belanda sangat berkualitas.

Ia menambahkan, mahasiswa di Belanda diperbolehkan untuk kuliah sambil bekerja dengan visa pelajar. Sebagai negara maju, Belanda memiliki regulasi khusus bagi mahasiswa yang sambil bekerja yaitu dengan menetapkan enam belas jam kerja dalam satu minggu sehingga tidak mengganggu waktu kuliah.

Baca juga:  PMB UIN Bandung, Tambah Fakultas Tambah Penghuni

Kepala UPT Pusat Karir UIN SGD Bandung, Betty Tresnawaty menyampaikan bahwa dengan melanjutkan studi ke luar negeri akan menjadikan kita sebagai warga internasional sehingga dapat memperluas pertemanan dan jaringan pekerjaan. “Jadi dengan kita sering keluar, salah satunya dengan kuliah di Belanda ini kita kan jadi luas wawasannya, juga pergaulannya sehingga tidak skeptis,” ujarnya.

Betty berpesan kepada mahasiswa dan dosen yang ingin melanjutkan studi di Belanda maupun negara lainnya untuk terus melatih kemampuan dalam berbahasa Inggris dan meningkatkan kepercayaan diri. “Yang namanya mencari ilmu ini adalah wajib, maka untuk mahasiswa dan dosen baik S1, S2, dan S3, jangan berhenti belajar meskipun sudah S3 kan masih ada postdoc, ada short course, bahkan mau S3 lagi pun boleh.” pungkas Betty saat ditemui di kantornya usai seminar.

Reporter : Nurul Fajri

Redaktur : Lia Kamilah

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas