Lintas Kampus

Menggali Potensi Diri Melalui Pendekatan Psikologi

CEO Kelas Kemajuan Diri, Arnovella Auril sedang menjelaskan tentang “passion” kepada peserta workshop bertajuk “Menggali Potensi Diri”  yang diadakan oleh Makers Institute bekerja sama dengan Kelas Kemajuan Diri di Makers Institute Office, Selasa (23/07/2019). (Fadhilah Rama/SUAKA)

SUAKAONLINE.COM – “Banyak sekali orang yang rentan mengalami stress atau depresi karena ia tidak tau tentang passion harmoni di dalam dirinya. Passion harmoni dapat menekan stress walaupun hanya dengan melakukan hal-hal yang sederhana tapi seringkali diabaikan,” ujar pembicara, Arnovella Auril dalam kegiatan bertajuk “Cari Tau Potensi Dirimu” yang diadakan Makers Institute bekerjasama dengan Kelas Kemajuan Diri di Makers Institute Office, Selasa (23/07/2019).

Arnovella yang juga merupakan CEO dari Kelas Kemajuan Diri pun menjelaskan bahwa hal terpenting yang perlu diketahui ketika ingin mencari potensi di dalam diri kita adalah dengan mengetahui visi atau tujuan hidup. Mulai dari pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti, “Apa yang ingin kamu raih? Atau kamu mau jadi apasih kelak?”. Hidup adalah sebuah perjalanan, tanpa menentukan track yang ingin dituju akan sulit nantinya memaksimalkan potensi didalam diri.

Orang-orang Eropa khususnya Amerika sering mengatakan, “if you die tomorrow, how do you want to be remembered as? A philanthropic or maybe an climber?”. Terdengar remeh tapi ternyata dari sini bisa menentukan passion seseorang. Dengan mengetahui passion yang tepat, itu akan mudah memunculkan renjana di dalam diri. “Cara terbaik untuk mengetahui passion kita adalah dengan mencoba sebanyak mungkin hal-hal baru. Kemudian pilih mana memang sesuai dengan diri kita. Jangan mencari passion hanya dengan menebak-nebak,” paparnya.

Robert J. Vallerand dalam bukunya The Psychology of Passion pernah melakukan sebuah riset penelitian yang mengatakan bahwa sesungguhnya ketika memasuki umur 10-12 tahun, disitulah masa-masa keemasan dimana biasanya sesuatu yang disenangi muncul dan bisa jadi itu adalah passion kita. “Maka dari itu penting untuk mengetahui apa yang kita sukai ketika masa kanak-kanak dengan menanyakan ke keluarga terdekat,” ujarnya.

Baca juga:  Eksekusi Tamansari: Minim Sosialisasi, Abaikan Regulasi

Lanjut Arnovella, passion-pun terbagi menjadi dua. Yaitu passion obsesif dan passion harmoni. Keduanya saling berhubungan dan sangat mempengaruhi terhadap psikis dan perkembangan potensi seseorang. Passion obsesif adalah passion yang dilandasi dengan obsesi atau keinginan terdalam, contohnya menjadi seorang youtuber atau entrepreneur. Biasanya bersifat long-term atau jangka panjang.

Lalu ada passion harmoni, biasanya dilandasi dengan hal-hal yang dapat menyenangkan diri kita. Contohnya bermain musik atau fotografi. Passion harmoni ini sebagai balancing agar seseorang tidak mudah stress. Orang seringkali mengabaikan ini, terfokus hanya kepada obsesi yang apabila obsesinya tersebut tidak tercapai membuatnya rentan mental breakdown. Padahal keduanya saling berperan dalam simfoni peningkatan potensi dalam diri seseorang.

Ini erat kaitannya dengan personal branding. Masyarakat Indonesia sering menyebut; personal branding ini dengan citra diri. Dan sepertinya sudah mengalami peyorasi di mata masyarakat perihal membangun citra diri adalah hal negatif. Padahal dengan membangun citra diri, kita dapat mengembangkan dan memaksimalkan potensi/keterampilan diri (skill), perilaku (behaviour) dan memahami nilai unggul (value) apa yang ingin dilakukan dan ingin dicapai dalam diri.

Kunci dalam personal branding adalah nilai (value) yang ada dalam diri kita. Dengan mengakses diri kita lebih dalam, kita dapat mengetahui nilai-nilai atau batasan yang tidak bisa kita langgar, dan ketika kita melanggar nilai tersebut kita merasa kecewa atau tidak puas. “Misalkan, saya dulu pernah bekerja di perusahaan sebagai HRD. Tapi saya merasa lelah dan merasa ini bukan diri saya. Kemudian mencoba menjadi seorang entrepreneur dengan membangun perusahaan saya sendiri. Ternyata saya merasa lebih puas, walaupun ada konsekuensi income yang menurun. Tapi saya puas karena menuruti value yang ada di dalam diri saya,” ujarnya.

Baca juga:  Eksekusi Tamansari: Minim Sosialisasi, Abaikan Regulasi

Ditengah sesi kelas berlangsung, salah seorang peserta, Bintang Aswam melontarkan pertanyaan mengenai orang-orang yang mengalami gifted prodigy, bagaimana supaya ia (child prodigy –red) dapat tetap survive di masyakarat?. Untuk gifted prodigy ini kasusnya ada yang high intelligence dan low intelligence, di Indonesia sendiri memang masih minim untuk sekolah yang mewadahi orang-orang dengan high intelligence karena memang rasionya sangat kecil dibandingkan dengan yang low intelligence. “Coba untuk meredam dan berbaur ke masyarakat karena memang biasanya orang-orang dengan high intelligence agak sulit dimengerti karena pola pikirnya yang jauh,” jelasnya.

Di akhir kelas, Arnovella  memberikan tips terkait hal yang harus dihindari dalam meningkatkan potensi diri kepada peserta. “Ada tiga hal yang perlu dihindari dalam meningkatkan potensi diri, sering disebut cancer jiwa (3C), yaitu complaining, criticizing, dan comparing.” imbuhnya.

CEO dari Kelas Kemajuan Diri itu menjelaskan, pertama, Complaining atau mengeluh dapat menimbulkan sugesti dan energi negatif. Selanjutnya, Criticizing atau mengkritisi, membuat kita terpola untuk melihat kecil dari kekurangan seseorang yang berdampak pada diri kita karena terfokus kepada kekurangan. Terakhir, comparing atau membandingkan, dengan membanding-bandingkan diri dengan orang lain membuat kita menjadi rendah hati dan sulit mengakses potensi di dalam diri.

Reporter       : Fadhillah Rama

Redaktur       : Dhea Amellia

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas