Lintas Kampus

Kucumbu Tubuh Indahku: Filosofis Tubuh Sebagai Bentuk Kemanusiaan

(Dari kiri) Kantya L. Yuniar (Bahasinema), Caesar Abrisam (Pemerhati Pendidikan), Maat Jaganmata (Pemerhati Budaya Populer), dan Bintang Lestada (Penulis dan Pemerhati Film) sebagai pembicara dalam diskusi dan screening film “Kucumbu Tubuh Indahku” di Gedung Bale Motekar Padjajaran, Minggu (28/7/2019).

SUAKAONLINE.COM –Film “Kucumbu Tubuh Indahku” (Memories of My Body) karya Garin Nugroho dengan tokoh utama  Juno yang diperankan oleh Muhammad Khan, sempat menuai kontroversi  .  Berusaha mengangkat narasi tentang tubuh manusia dengan segala nilai-nilai historis yang terkandung, mencoba menerjamahkan tubuh manusia lebih dari sekedar fisiologis tapi secara filosofis.

“Tubuhmu tetaplah tubuhmu bagaimanapun juga, bukti yang paling sahih dalam rekam perjalan hidupmu. Kita harusnya bisa embrace semua yang dirasakan,” ucap Bintang Lestada, penulis dan pemerhati film, Minggu (28/07/2019). Bintang mengatakan bahwa sesungguhnya  rasa sakit selalu dijadikan anak tiri, dasarnya melalui rasa sakit kita mengenali diri kita. Tubuh, luka dan ingatan adalah proses berdamai dengan diri, proses menjalani habitus.

Kalau menurut Rene Descartes bahwa kita tidak dapat memercayai indra-indra kita (Dunia Sophie), film ini berusaha mematahkan kredo tersebut. Kita sepenuhnya dapat memercayai tubuh dan indra kita. Caesar Abrisam, pemerhati pendidikan mengatakan, “Pisah, pindah, dan mati itu hal biasa. Segala transformasi apapun itu abadi mau tidak mau kita harus hadapi, karena itulah yang akan membawamu pada tujuan hidupmu,” ungkap Caesar.

Propaganda Politik

Di salah satu scene dalam film Kucumbu Tubuh Indahku memperlihatkan saat Juno sedang belajar menari  tarian Lengger Lanang dan kemudian disergap oleh sekelompok bala tentara. Tarian Lengger Lanang adalah tarian yang dipentaskan oleh laki-laki yang berdandan seperti perempuan, tarian ini kerap dipandang sebelah mata karena menampilkan tarian lintas gender (tari seringkali diindetikan dengan perempuan).

Ada fakta menarik dibalik stigma ini, Tarian Lengger Lanang merupakan salah satu kesenian; dalam organisasi Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Lekra sendiri dibentuk dalam program kerja Partai Komunis Indonesia (PKI). Dan saat pergantian dari orde lama menjadi orde baru, Soeharto menjadikan Tarian Lengger Lanang ini sebagai ancaman bagi kedaulatan Indonesia bersamaan dengan PKI dan Lekra itu sendiri.

Baca juga:  Panggung Rakyat, Aksi Merawat Berbagai Isu yang Dilupakan Publik

“Ada pergeseran norma dan propaganda budaya saat orba, salah satunya Lengger Lanang terkait penghapusan PKI oleh Soeharto,” papar Maat Jaganmata, pemerhati budaya populer. Selain itu, penguatan militer seperti dharma wanita juga berdampak terhadap stigmatisasi gender di Indonesia.

Di satu sisi yang lain, sosok Gubernur Jakarta tahun 1966, Ali Sadikin dianggap sebagai seseorang yang peduli terhadap kaum LGBT, karena saat itu ia banyak mendirikan bar-bar di Jakarta. Terlepas dari kepentingan politik, Ali Sadikin pernah mengumpulkan para transpuan untuk menyampaikan aspirasi mereka. Kemudian disepakatilah pembentukan organisasi transpuan pertama di Indonesia yaitu, HIWAD (Himpunan Wanita-Adam).

Dan pada akhirnya hal-hal tersebut hanyalah korban agenda politik, di persimpangan jalan antara gender dan budaya yang terbentuk bahwasanya keduanya harus diyakini sebagai suatu hal yang normal, layak, dan alami.  Buttler dalam bukunya Gender Trouble, memperkenalkan teori performativitas yang menjelaskan bahwa gender terjadi; karena proses materialisasi dan konstruksi.

Minimnya Literasi

Karl Marx dalam bukunya Manifesto Komunis menuliskan sebuah kalimat retoris, “ketidaktahuan tidak akan menolong siapapun,”. Sejurus dengan pendapat Karl Marx, bahwa kebodohan menjadi jangkar yang menghambat kemajuan peradaban manusia.

Menanggapi itu, Caesar menjelaskan bahwa literasi yang masih minim di masyarakat menjadi faktor utama terjadinya diskriminasi dan stereotype negatif berkembang. “Edukasi itu selalu dipegang oleh elit. FYI, label waria itu ditetapkan bukan oleh orang waria. Label normatif itu diinstalisasi dan kemudian muncullah terminologi transpuan, yang lebih ramah gender,” jelasnya.

Bagaimana terlihat diskriminasi di masyakat tak jarang terjadi, candaan berbau seksisme seringkali menjadi bahan tertawaan. “Seringkali teman-teman transpuan dijadikan objek candaan, hal-hal seperti ini sudah sepatutnya dihapuskan, mau sampai kapan seperti ini terus. Dan karena struktur budaya di Indonesia yang kental dengan nilai agama. Perlu adanya tokoh-tokoh agama progresif dalam hal ini,” tutupnya.

Baca juga:  Serah Terima Gedung Sport Center Bank BJB Syariah - UIN Bandung

Reporter :           Fadhilah Rama

Redaktur :           Dhea Amellia

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas