Advertorial

Egon : Ungkap Polemik Indonesia Tahun 1967

Dalam memperingati Gandrung Milad Teater Awal Bandung Ke-32, Egon menjadi penampilan pertama di Aula Abjan Soelaeman, Senin (7/8/2019). Milad kali ini mengusung tema “Unit & Diversity” dengan mempersembahkan dua pementasan garapan utuh dan dua pementasan monolog dalam tiga hari berturut-turut. (Syifa Nurul/Suaka)

SUAKAONLINE.COM – Sorak sorai penonton terdengar begitu menggema memenuhi ruangan setelah berakhirnya pementasan naskah teater yang berjudul Egon, di Aula Abjan Soelaeman, Senin (7/10/2019). Pementasan teater yang diselenggarakan dalam memperingati milad Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Awal UIN SGD Bandung yang ke -32 tersebut merupakan penampilan pertama dan selanjutnya akan disambung dengan beberapa penampilan naskah lainnya.

Naskah Egon yang ditulis oleh Saini K.M ini melibatkan 10 aktor dan menceritakan sebuah permasalahan yang terjadi pada tahun 1967 dimana permasalahan tersebut tak kunjung usai, membuat penonton menduga-duga. Titik perhatian dalam cerita ini adalah pemuda yang menjadi tokoh utamanya, karena dialah yang dipermainkan dan mempermainkan sandiwara ini. Pemuda yang dianggap berbahaya ditangkap lalu diamankan oleh petugas atau pemerintah pada saat itu.

Ia pun kemudian dipermainkan oleh setiap tokoh yang hadir didalam cerita tersebut dan ia juga yang kemudian mempermainkan mereka semua. Setiap tokoh yang hadir menciptakan permainan sandiwara dengan cara mereka masing masing. Sehingga menimbulkan problematika masalah yang memaksa penonton untuk menduga duga apa masalah yang sebenarnya terjadi.

Seperti halnya dengan tokoh ayah, anak, dan wanita, mereka hanya rakyat biasa yang secara tidak langsung ikut dan larut dalam alur sandiwara ini. Mereka yang tidak mengerti apa masalahnya, mewakili penonton yang merasakan, kebingungan, kebimbangan, dan terombang ambing dalam masalah apa sebenarnya yang terjadi pada penguasa dan rakyatnya saat ini.

Menurut sutradara yang menggarap naskah Egon, Reza Nois mengatakan bahwa alasan mengangkat naskah Egon dan mementaskannya adalah dirinya jatuh cinta terhadap naskah tersebut dan naskah tersebut menurutnya ada kesinambungan dengan kondisi Indonesia saat ini

“Naskah Egon menyelipkan pesan yang amat dalam, yaitu memberitahu kepada masyarakat dan menyatakan bahwa keadaan Indonesia sekarang sama seperti naskah yang telah dipentaskan, adanya hal-hal yang menjadi polemik seperti saat ini, dan orang-orang yang melawan pemerintah akan ditangkap dan dieksekusi,” papar Reza.

Baca juga:  Hidupkan Nilai Islam, Ilmu Hadits Adakan Bedah Buku Living Qur’an dan Hadits

Salah seorang penonton yang menikmati pementasan, Nicky Livya mengatakan bahwa naskah Egon begitu keren, seolah-olah itu adalah kehidupan yang ada pada realita saat ini. Dimana seorang aktivis yang sering diskusi dan berdebat untuk meningkatkan intelektualitasnya malah dianggap gila. Juga di dalamnya diceritakan tentang ketakutan para birokrat dan penjilat ketika keburukannya terungkap oleh orang-orang intelek tersebut.

Nicky pun menambahkan bahwa menurutnya hal yang didapatkan diantaranya adalah keberanian untuk mengemukakan pendapat, untuk lebih berani memperjuangkan keadilan dan membela kaum-kaum yang dilemahkan oleh sistem pemerintahan. “Semoga Indonesia sekarang segera membaik dan ibu pertiwi tidak diperkosa lagi oleh segala kerusakan yang ada baik di alam maupun dari makhluk yang ada di dalamnya.” Harapnya.

Reporter : Anisa Nurfauziah

Redaktur : Lia Kamilah

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas