Kampusiana

Penyandang Tuna Netra Berhasil Lulus Tepat Waktu

Wisudawan penyandang tuna netra, Dede Sukandar sedang diwawancarai selepas seremonial pemindahan tali toga, di Gedung Anwar Musaddad, Minggu (6/10/2019). (Awla Rajul/Suaka).

SUAKAONLINE.COM – Sidang Senat Terbuka Melaksanakan Wisuda ke-76 dengan jumlah wisudawan dan wisudawati sebanyak 1.428 orang di Aula Anwar Musaddad, Minggu (6/10/2019). Sebanyak 41 orang mendapatkan predikat pujian dan satu orang mendapatkan predikat hafizh 30 juz yang berasal dari jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir. UIN SGD Bandung juga meluluskan seorang mahasiswa disabilitas penyandang tuna netra. 

Sarjana tersebut dari jurusan Bimbingan Konseling Islam (BKI), Dede Sukandar. Ia merasa sangat bangga dan bahagia karena bisa menyelesaikan kuliah dengan tepat waktu. “Barusan habis ngambil map, ijazah, baru aja diwisuda. Alhamdulillah, perasaannya sangat bangga, bahagia sekali,” jawabnya ketika ditemui usai seremonial pemindahan tali toga.

Dede mengalami tuna netra sejak tahun 2005, namun ia mengaku dapat melewati hambatan-hambatan selama perkuliahan di UIN SGD Bandung. “Hambatan itu Alhamdulillah bisa saya lalui dengan mudah. Tentunya itu dari segi penglihatan ya. Dalam artian, dalam penjelasan yang berbentuk gambar, itu tentu saya tidak bisa lihat kan. Tapi Alhamdulillah, teman-teman di kelas pada baik, jadi membantu menjelaskan kembali,” jelasnya. .

Dari dosen pun ia tidak sama sekali mendapatkan diskriminasi. Mata kuliah yang didapatnya bisa dimengerti dengan cukup baik. Setelah lulus, Dede berencana untuk mencari pengalaman kerja terlebih dahulu. Di tahun depan ia pun berencana akan akan melanjutkan Pendidikan S2 di jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI).

“Kalau planing sekarang saya mau cari pengalaman kerja dulu. Mungkin untuk tahun depan, Insya Allah bisa lanjut S2 lagi. Insya Allah. Mungkin untuk sementara ini PAI di UIN atau di UPI,” kata Dede.

Diakhir wawancara, Dede berharap pihak UIN SGD Bandung agar dapat memberikan fasilitas yang layak kepada penyandang disabilitas. Diantaranya seperti membeperbaiki jalan trotoar dari depan kampus sampai ke depan tiap-tiap kelas. Ia mengatakan masih ada jalan dan trotoar yang berlubang, selokan dan sebagianya. Dede beranggapan, jika jalannya nyaman bagi penyandang disabilitas maka sudah barang pasti lebih nyaman bagi orang-orang biasanya

Baca juga:  Menyentil Realitas Kontemporer Melalui Monolog Aeng

Mahasiswa BKI sekaligus teman dekat Dede, Faqih Juhdi mengagumi sosok Dede. Faqih mengatakan, dalam ruangan Dede belajar menggunakan alat bantu pendengaran. Jika dosen sedang menjelaskan, Dede selalu siap mendengarkan dengan telinga dan hatinya yang selalu dipakai untuk komunikasi. Faqih juga mengatakan bahwa Dede merupakan sosok yang menginspirasi dirinya, teman-teman dan keluarga jurusan BKI.

“Pake alat bantu pendengaran. Kalau dosen jelasin dia selalu siap mendengarkan, kuping dan hatinya selalu dipakai untuk komunikasi. Sosok yang menginspirasi saya dan teman-teman BKI lainnya. Semangatnya tinggi, baik hati dan mudah mengingat.” Jawabnya ketika dihubungi via daring, Selasa (8/10/2019).

Reporter : Awla Rajul

Redaktur : Lia Kamilah

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas