Advertorial

Restoran Anjing, Sarana Otokritik Mahasiswa

Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Awal Bandung Menggelar Pementasan Teater yang berjudul “Restoran Anjing”, di Auditorium Abjan Soelaeman, Selasa (8/10/2019). Pementasan teater ini sekaligus memperingati Gandrung Milad Teater Awal Bandung yang ke-32. (Aldy Khaerul Fikri/Suaka)

SUAKAONLINE.COM – Jam menunjukan pukul 19.03, antrean mengular terlihat di depan Auditorium Abjan Soelaeman. Pengunjung pementasan Teater Awal Bandung satu persatu bergantian melakukan scan pada barcode sinopsis dari cerita yang akan dipentaskan. Restoran Anjing, tajuk cerita yang dipertunjukan Selasa malam (8/10/2019) menarik perhatian pecinta teater. Judul dari naskah Saini KM ini menjadi pertunjukan kedua pada rangkaian Gandrung Milad ke-32 unit kegiatan mahasiswa tersebut.

Auditoriuam yang baru saja direnovasi itu mulai penuh sesak oleh penonton yang duduk rapi hingga batas panggung pementasan. Cerita yang akan ditampilkan berlatar pada kegiatan ospek mahasiswa tahun 1976, Posma sebutan ospek pada masa itu. Tindak perpeloncoan yang dilakukan oleh senior pada Calon Mahasiswa (Cama) dan Calon Mahasiswi (Cami) menjadi sorotan pada cerita ini.

Ruang pementasan tengah gelap sedari tadi, hingga hanya lampu sorot yang mengarah pada panggung pementasan yang menyala. Penonton begitu terhanyut dengan penampilan aktor-aktor yang membawakan perannya dengan ciamik. “Jendril ayam (panggilan untuk ketua cami), kemari! Aku ingin meminta tolong. Tolong bukakan kotak ini,” adalah satu dialog yang diungkapkan seorang mahasiswa senior yang menyuruh cami untuk membuka kotak berisi penuh ulat bulu, hingga cami menangis tersedu, ketakutan.

Disamping perpeloncoan, Restoran Anjing juga menampilkan satu dialog menarik. Perbincangan antara seorang panitia Posma dengan temannya, obrolan yang mengarah pada penyalahgunaan dana kegiatan. “Kalau hanya diteraktir ayam goreng, aku tidak mau. Perlu kalian tau, aku panitia Posma dapat uang 1500 untuk sekali makan,” ungkap tokoh mahasiswa senior, Abadi pada teman-temannya.

Tak hanya menampilkan dialog serius hingga membuat pirsawan berbisik menggerutu, naskah ini pun menampilkan dialog humor hingga tingkah jenaka yang ditampilkan para aktor. Selalu saja terselip momen yang menggelikan hingga mampu mengocok perut penikmatnya. Penampilan 17 aktor malam itu berhasil membius penonton.

Baca juga:  Menyentil Realitas Kontemporer Melalui Monolog Aeng

Ditemui seusai pertunjukan, Sutradara Restoran Anjing, Ekky Abeng mengungkapkan bahwa untuk mempertunjukan akting seciamik ini tidak mudah. Dalam waktu tiga bulan dia harus menyatukan kemistri aktor dari lintas angkatan ini. Dia pun harus menyesuaikan waktu dengan aktor yang juga memiliki kesibukan. Karena berlatar angkatan berbeda hingga ada aktor yang sedang menyusun skripsi, Kuliah Kerja Mahasiswa hingga harus melebur kecanggungan aktor dari kalangan mahasiswa baru.

Lebih lanjut, Ekky mengungkapkan bahwa pertunjukan ini juga menjadi otokritik bagi mahasiswa yang saat ini masih melakukan tindakan perpeloncoan hingga mahasiswa yang menyalahgunakan anggaran kegiatan. “Mengkritik panitia Posma, mungkin kalo sekarang ospek, opak, PBAK atau apa. Yang memang ternyata dari zaman dulu sudah dijadikan sebagai ladang proyek. Karena tadi ada penggalan dialog, dialognya tokoh Abadi itu bahwa biaya makan satu kali panitia itu 1500 pada tahun 76,” ungkap pria berkacamata itu.

Ditemui seusai pertunjukan pula, salah seorang penonton, Yulida Tartilawati yang baru pertama kali menonton begitu terpukau dengan aksi dari para aktor Teater Awal Bandung. Yulida begitu mengapresiasi penampilan mereka, dia mengungkapkan bahwa Teater Awal mampu mempertontonkan dan mengemas isu berlatar tahun 76 yang relevan dengan apa yang terjadi pada saat ini.

Walaupun pada awalnya Yuli merasa bingung dengan judul yang ditampilkan, namun setelah menonton teater ini dari awal hingga akhir dia pun mampu memahami pesan apa yang disampaikan dari cerita tersebut. “Pas liat Judulnya, Restoran Anjing tuh ini apa sih. Pas tadi penampilannya, awal awalnya ga paham malah perpeloncoan seperti ini, tapi lama kelamaan aku ngerti pesannya,” ungkap mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris itu.

Reporter : Yosep Raepul Ramdan

Baca juga:  Menunggu Hasil Keputusan Penyesuaian UKT 2019

Redaktur : Lia Kamilah

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas