Advertorial

Tasawuf Psikoterapi Menggelar Perayaan Milad ke-21

Penampilan Nahawand Gambus pada acara Milad Tasawuf Psikoterapi yang ke-21 di Aula Abdjan Soelaeman, Senin (14/10/2019). (Gina Handayani/Suaka)

SUAKAONLINE.COM – Gebyar Milad Tasawuf Psikoterapi 2019 diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Tasawuf Psikoterapi UIN SGD Bandung Senin (14/10/2019) di Aula Abjan Soelaeman. Acara yang bertema “Bersinar dengan Cinta” ini menjadi salah satu rangkaian penutup dari milad ke-21 yang dilaksanakan sejak Mei 2019. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, pada kali ini acara milad dimeriahkan dengan perlombaan, ajang pencarian bakat, penampilan mahasiswa Tasawuf Psikoterapi, talkshow, dan mengaji dengan Cak Kus.

Kyai Kuswaidi Syafi’ie atau yang biasa disebut Cak Kus. Sebelum memulai kajian sore, Cak Kus membacakan terlebih dahulu sajak Fakhrudin Iraqi yang berjudul “Hati yang Rindu” dengan diiringi biola. Lalu dilanjutkan dengan kajian yang terdiri dari dua sesi, dimulai dengan membahas topik harapan Cak Kus tentang jurusan Tasawuf Psikoterapi.

Menurutnya, acara ini dapat memunculkan cahaya-cahaya cinta ilahi yang mengindikasikan adanya pencerahan lewat ruang dan perjumpaan, “Inilah awal mula kita senantiasa hidup dengan penuh berkah dan bahagia. Saya kira acara ini menjadi sempurna juga dengan adanya Nahawand Gambus yang personelnya tidak banyak namun kredibel, sehingga ini menjadi sebuah bentuk perpaduan antara kajian tasawuf dengan musik dan tarian,” tuturnya.

Pada sesi kedua menjelaskan keteladanan Rasul. Karena menurutnya, Nabi Muhammad adalah sufi dari segala sufi. Setelah dua sesi berakhir, Cak Kus memberi pesan untuk mahasiswa Tasawuf Psikoterapi, “Jurusan Tasawuf Psikoterapi musik dan tariannya sudah ada, yang belum ada Tarian Sufinya,” jelasCak Kus menjelaskan serta mengajarkan Tari Sufi kepada seluruh peserta.

Ketua HMJ Tasawuf Psikoterapi, Ali Asikin, pengambilan tema “Bersinar dengan Cinta” adalah karena melihat negara lupa arti kata cinta. Seperti aksi-aksi mahasiswa yang membelakangkan cinta pada beberapa waktu yang lalu, mengambil tema cinta karena dasar manusia diciptakan pula karena dengan cinta. “Saya yakin, lahirnya jurusan Tasawuf Psikoterapi awalnya pasti dari cinta, maka di Milad ke-21 ini supaya lebih bersinar lagi,” jelas Ali.

Baca juga:  Peringati Milad ke-13, Matematika UIN Bandung Gelar Seminar Nasional

Ali juga menjelaskan bahwa sebelum adanya milad, ada acara pra-milad berupa perlombaan dalam bidang MTQ, debat, melukis, puisi, dan pemilihan duta Tasawuf Psikoterapi. Selain itu Ali menjelaskan perbedaan acara Milad dengan tahun-tahun sebelumnya, yang hanya dimeriahkan oleh acara hiburan saja tanpa ada perlombaan.

Organizing Committee (OC)  Bunga Maryam Nurhuda,mengutarakan alasan mengundang Cak Kus karena kajiannya adalah sufi-science dan Cak Kus adalah salah satu pengasuh pondok pesantren Maulana Rumi di Yogyakarta. Ia pun menjelaskan bahwa sebenarnya kelahiran jurusan Tasawuf Psikoterapi jatuh pada 18 Mei 1998, namun acara milad sudah berlangsung pada Mei 2019 dan puncak peringatan milad ke-21 jatuh pada 14 Oktober 2019 karena sudah dijadwalkan untuk lomba dan ajang pencarian bakat mahasiswa Tasawuf Psikoterapi.

Menurut pemenang lomba debat, Sofwan Fauzi, debat yang diadakan oleh jurusan Tasawuf Psikoterapi melihat pemahaman mahasiswa Tasawuf Psikoterapi tentang data dan fakta yang terjadi di masyarakat.  Tema-tema tentang debat, tema yang kontemporer, bukan tema yang jaman dahulu atau sekadar tema psikoterapi yang tidak relevan dengan zaman sekarang.

 “Menurut saya, rekan debat yang membuat saya berpikir ulang adalah dengan semester bawah. Semoga ditingkatkan lagi dari segi materi, literatur, dan menjelaskan peraturan secara terlebih dahulu, karena ada beberapa yang belum saya tahu dan kurangnya komunikasi satu sama lain. Untuk keseluhuran sudah baik dan bagus, tinggal ditingkatkan sisi-sisi yang belum maksimalnya saja,” katanya.

Sofwan juga menjelaskan bahwa sebenarnya di dalam debat tidak ada juara, karena benar-dan salah tergantung melihat dari sisi tertentu. Maka Sofwan tidak bisa mengatakan bahwa dirinya juara, karena menurutnya debat bukan seperti bermain bola, kalau debat tidak ada pemenang, yang penting adalah argumen mana yang paing tepat, mana yang relvensinya jelas, dan redaksinya tercatat dan bukan debat yang mengada-ngada.

Baca juga:  Kunci Lolos Beasiswa Luar Negeri Ala Yanri Rhamdano

Reporter : Gina Handayani

Redaktur : Lia Kamilah

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas