Aspirasi

Tidak Perlu Berharap Banyak Kepada Iwan Bule

Dok. Net

oleh Muhammad Emiriza*

“Jangan terlalu tinggi berharap, karena jika pada nyatanya kenyataan itu tidak sesuai dengan apa yang diharapkan maka akan sakit hati paling dalam yang dirasakan” mungkin itu lah quote seseorang yang galau, sakit hati atau kecewa berat tatkala terlalu berharap kepada apapun, klise memang tapi nyatanya memang benar, dibanding kita berharap, lebih baik kita memantau dan mengawasi ataupun ikut berpartisipasi agar semua harapan itu bisa menjadi kenyataan.

Hal itu pun terjadi pada Federasi Sepakbola kita sekarang (PSSI) yang sudah mendapatkan ketua baru, seorang perwira tinggi Polri, Komjen Pol Mochamad Iriawan, atau yang akrab disapa Iwan Bule. Ia mungkin menjadi harapan baru masyarakat Indonesia ditengah turunnya performa Timnas senior dan segudang masalah kelam masa lalu PSSI. Namun perlukah berharap lebih banyak kepada dia ? akan kah harapan itu sirna dan akan muncul quote semacam tadi untuk rasa kekecewaan kepada beliau dimasa kelak ? hanya waktu yang bisa menjawab, lagi lagi klise namun waktu adalah sebenar benarnya jawaban dari sebuah harapan, jadi selain kita berharap kita juga harus menunggu. Hmmm sangat membosankan bukan ?

Kontroversi Pemilihan Ketua

 Iwan Bule bukan orang baru di sepakbola Indonesia. Pada 2009 ia menjadi Dewan Penasihat Persib Bandung, lalu ia juga aktif dalam Asosiasi Provinsi Jawa Barat sebagai pelindung kepengurusan dan sekarang ia tercatat sebagai Dewan Penasihat di Klub Bhayangkara FC. Iwan terpilih dengan 82 suara, ia mengalahkan sembilan Calon Ketua Umum (Caketum), tujuh diantaranya diusir dari kongres oleh Sekjen PSSI, Ratu Tisha karena terus melakukan interupsi saat kongres berlangsung dan dianggap mengganggu jalan nya kongres.

Ada banyak yang mempermasalahkan pemilihan ketua PSSI, hal tersebut karena tidak adanya transparansi yang jelas terkait mekanisme pemilihan, dan agenda yang awalnya akan dilakukan pada bulan Januari 2020, namun tiba-tiba dimajukan menjadi November. Bahkan, banyak isu yang beredar bahwa agenda kongres PSSI ini sudah di-setting.

Namun nasi sudah menjadi bubur, Iwan Bule sudah dipilih dan telah sah menjadi ketua umum PSSI untuk empat tahun kedepan, yang harus dilakukannya adalah mengembalikan kepercayaan publik terhadap PSSI dengan cara bekerja secara waras dan memperbaiki segudang masalah sepakbola di Indonesia. Namun apakah ia bisa melakukannya ? saya sendiri sedikit ragu dan menurut saya sukar sepakbola akan lebih baik dengan dipilihnya Iwan Bule. Argumen saya beralasan karena yang diganti hanya ketua bukan anggota exco, hanya ada dua nama exco yang baru sisanya muka muka lama, orang orang dahulu yang membuat masalah dan membiarkan masalah itu menjadi dan semakin membesar hingga sekarang.

Baca juga:  Kunci Lolos Beasiswa Luar Negeri Ala Yanri Rhamdano

Segudang PR PSSI dan Tuan Rumah Piala Dunia

Iwan Bule sepertinya harus mulai bergegas, karena mempunyai pekerjaan rumah yang sangat banyak. Prestasi Tim Nasional Senior Indonesia yang jeblok, jadwal kompetisi yang ruwet, kerusuhan antar supporter yang tidak ada hentinya, persiapan tuan rumah Piala Dunia U-20 dan mafia sepakbola Indonesia. Dua masalah terakhir menarik untuk dibahas, tuan rumah Piala Dunia U-20 adalah pencapaian bagus Ratu Tisha, bukan PSSI.

Ratu Tisha bekerja dalam senyap, ia terus melakukan hal baik demi kemajuan sepakbola kita ditengah kacau nya pengurus PSSI saat itu, bahkan Joko Driyono selaku PLT Ketum PSSI 2019 terseret kasus mafia bola. Yang dapat dipetik dari PSSI saat ini mungkin hanya kompetisi usia muda Liga 1 U-16 dan Liga 1 Putri dan saya yakin dua pencapaian itu pun hasil kerja keras Ratu Tisha. Pun ada Filanesia yaitu Filosofi Sepak Bola Indonesia yang berbentuk kurikulum dan buku pembinaan usia muda, menurut saya itu tidak terlalu dibutuhkan untuk saat ini, wong sepakbola Indonesia juga ga bagus bagus amat malah cenderung jelek, jelek banget. Kok dibuat filosofi sih ? ora paham.

 Balik lagi ke tuan rumah Piala Dunia U-20, sepertinya bukan hanya Iwan Bule dan PSSI nya yang harus berbenah, namun seluruh elemen pemerintahan. Hal ini karena kita akan disorot oleh seluruh dunia, kita akan dikunjungi seluruh dunia, bakat-bakat muda sepakbola dunia akan merumput di stadion Indonesia, harus terjalin sebuah kerjasama yang baik antara PSSI dan pemerintahan terkait untuk Piala Dunia ini. Janganlah menjadi Brazil yang menjadi tuan rumah pada 2014 yang rela mengeluarkan dana besar untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia, tetapi lupa bahwa masyarakatnya sendiri sedang dilanda kemiskinan pada saat itu. Pemerintah hanya memikirkan Brazil dimata dunia dibanding kesejahteraan rakyatnya yang saat itu sedang miskin, sampai ada mural menohok di Sao Paolo yang bertuliskan “Piala Dunia Brazil 2014 untuk Siapa ?”.

Baca juga:  Jadwal Wawancara Tahap Satu

Indonesia pun sama masih menjadi negara berkembang dan masih dilanda kemiskinan, perhelatan Piala Dunia jangan hanya dipandang untuk nama Indonesia dimata dunia, namun juga dipandang sebagai hiburan untuk semua kalangan, tidak ada lagi usiran warga sekitar karena lahanya akan dibangun stadion atau diusir dengan dalih demi tamu yang akan datang ke Indonesia. Hal-hal tersebut yang harus dipikirkan tatkala menjadi tuan rumah Piala Dunia, jangan hanya berpikiran untuk untung semata, karena nyatanya menjadi Piala Dunia tidak pernah merasakan untung yang ada malah sebaliknya, piala dunia 2010 Afrika Selatan menjadi contoh, Jurnal Ilmiah Thomas Peters bertajuk Tourism and the 2010 World Cup: Lesson for Developing Countries menyimpulkan bahwa memang ada pertumbuhan pariwisata ke Afrika Selatan, namun keuntungannya tidak sebanding dengan pengeluaran untuk membangun stadion untuk Piala Dunia 2010.

 Selain itu, Timnas kita juga harus berbenah, karena data menyatakan dari 1977 saat menjadi tuan rumah Piala Dunia hanya ada dua yang menjadi juara, bahkan tujuh tim tuan rumah tersisih di penyisihan grup. Menjadi tuan rumah Piala Dunia jangan dijadikan hasil instan untuk mengikuti turnamen di kancah dunia, namun perlu juga effort dan kerja keras lebih, karena Indonesia tidak hanya kali ini mengikuti helatan Piala Dunia U-20, pada 1979 Indonesia beruntung dapat ikut Piala Dunia U-20 yang dihelat di Tokyo, Jepang. Hal tesebut diraih karena Irak dan Korea Utara menolak karena alasan sponsor Coca-cola yang merupakan produk Amerika Serikat dan negera tersebut (Korut dan Irak) memegang teguh anti AS, hasil instan atau keberuntungan Indonesia itu nyatanya tidak dimanfaatkan dengan baik, hasilnya Indonesia terdampar di posisi juru kunci babak grup. Jadi berusahalah untuk menjadi yang terbaik jangan hanya senang karena ikut berpartisipasi di Piala Dunia, walaupun U-20.

Baca juga:  Aksi Kamisan Cianjur: Refleksi Penyadaran Kasus Pelanggaran HAM

Mafia Bola dan Pertanyaan untuk Ketua Umum Baru

Tuan rumah Piala Dunia sudah, sekarang Mafia Sepakbola Indonesia. Terpilihnya Iwan Bule, yang notabene nya seorang polisi sebagai ketua umum PSSI hanya akan menjadikan dua pilihan terkait mafia sepakbola, mafia diberantas atau mafia tidak terdengar lagi kabarnya. Menarik untuk ditunggu langkah apa yang akan dilakukan Iwan Bule untuk kasus mafia ini, karena mafia tersebut beredar dikalangan PSSI juga, beranikah Iwan membersihkan kolam nya sendiri yang kotor ? tapi lagi lagi, lagi lagi saya ragu dan sukar percaya.

Ya, bagaimanapun juga tak akan ada perubahan signifikan di PSSI apalagi kasus mafia yang melibatkan pertukaran uang besar disana. Iwan Budianto yang kabarnya terseret kasus mafia bola juga malah terpilih lagi sebagai Wakil Ketua Umum PSSI, kacau. Padahal untuk Iwan Bule yang pernah menangani pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen oleh tersangka ketua KPK Antasari Azhar seharusnya bisa dengan mudah membasmi mafia sepakbola di Indonesia. Tetapi pertanyaannya bukan bisa atau tidak, melainkan mau atau tidak Iwan Bule membasmi mafia ? berani tidak ? atau ada conflict of interest ? ah banyak sekali pertanyaan kepada ketua PSSI ini, namun dengan bosan saya harus menyatakan bahwa waktu yang bisa menjawab semuanya.

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Fisika  semester 7 dan merupakan  Pimpinan Umum LPM SUAKA Periode 2019

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas