Advertorial

Peringati Milad ke-13, Matematika UIN Bandung Gelar Seminar Nasional

Wakil Dekan III Fakultas Sains dan Teknologi, Aep Saepuloh memukul gong sebagai tanda Mathfest 2019 resmi dibuja, di Aula Abjan Soelaeman, (4/11/19). Kegiatan tersebut pun dihadiri oleh Ketua Jurusan Matematika, Asep Solih, Ketua Umum Dema-F, Balqis Oktaria, Ketua Umum Sema-F, Artifqi Aziz, Ketua HMJ Matematika, Hafidz Naufal, beserta seluruh jajaran yang ada diruang lingkup Matematika. (Anisa Nurfauziah/Suaka)

SUAKAONLINE.COM- Dalam rangka memperingati milad yang ke-13, jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi menyelenggarakan seminar nasional, seminar ini merupakan opening ceremony yang digelar di Aula Abjan Soelaeman, Senin (4/11/2019). Dengan mengusung tema “Peran Matematika Dalam Menghadapi Revolusi Industri” ini menghadirkan guru besar dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Institut Teknologi Bandung, Hendra Gunawan, dan Dosen Matematika UIN SGD Bandung, Arief Fatchul Huda.

“Seperti halnya ilmu alam, matematika juga berurusan dengan fakta-fakta yang diterima sebagai kebenaran” tegas Hendra. Ia pun menambahkan bahwa menurut buku Experiencing Mathematics, Ruben Hers mendefiniskan bahwa matematika sebagai ilmu yang terdiri atas fakta-fakta yang diterima kebenarannya, tetapi objek yang dipelajari bukan sesuatu yang dapat dipegang atau dilihat.

Revolusi industri yang pertama adalah 1.0 terjadi pada abad ke 18, di Eropa, dan matematika telah hadir jauh sebelum adanya revolusi industri yang terjadi dua ribu lima ratus tahun sebelumnya. Matematika pun bermula dari bilangan dan dimulai pada zaman mesir kuno, dan untuk mempelajari matematika cara bekerja dan berfikir untuk memecahkan masalah harus tetap relevan dan telah dibangun sejak dua ribu lima ratus tahun yang lalu.

Hendra pun mengatakan bahwa pada tahun tersebut banyak warisan yang ditinggalkan untuk generasi masa kini, dan itu merupakan warisan budaya, seperti halnya lukisan dan puisi yang senjadi ketenangan jiwa. Dan menurutnya matematika bukan hanya mewariskan keindahan tetapi fakta-fakta yang sangat relevan nan indah, pun perlu disadari  matematika sebagaian dari warisan budaya dan hadir sebelum revolusi industri yang pertama bahwa matematika memiliki peran yang sangat besar.

Arief mengatakan bahwa karakteristik revolusi industry dari 1.0 hingga 4.0 yang menjadi trand kebanyakan orang saat ini adalah dengan adanya media sosial yang sangat berkembang pesat. Tahapan pertama dimulai dari prancis, dimana pada masa itu diadakannya mekanisme pembuat alat-alat manusia, kemudian ditemukannya listrik elektrik yang dapat digunakan untuk memekanisme alat-alat manusia, setelah itu kemudian ditemukan barang elektronik, seperti chip, dan integrated circuit (ic).

Baca juga:  Tunas Genaration Sukses Gelar Drama Musikal

Dan yang terakhir ditandai dengan  hadirnya teknologi informasi yang disebut dengan  ciber ecosystem dan ditantadi dengan adanya awan yang berarti dengan adanya teknologi yang dapat menjadi monitor dalam semua aktivitas dan saling terhubung satu sama lain karena telah memasuki revolusi industry 4.0 dan telah melewati revolusi industry 1.0.

“Peran matematika dalam menghadapi revolusi industri adalah dengan memperkuat data dan analisis” tegas Arief. Ia pun menambahkan bahwa ekonomi makro dan ekonomi mikro sangat dibutuhkan perannya, karena matematika pun berperan sebagai statistic yang mempelajari bagaimana merencanakan, mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasi, dan mempresentasikannya.

Menurut ketua pelaksana, Ade Guan Gunawan, mengatakan bahwa acara seminar ini merupakan opening ceremony dan puncak miladnya akan dilaksanakan pada 30 November mendatang. Selain mengadakan seminar nasional, rangkaian lainnya adalah lomba putra putri matematika 2019, bazar, kompetisi matematika, donor darah, pertandingan futsal matematika se-Jawa Barat, DKI dan Banten, tabligh akbar.

Ade pun berharap semoga jurusan matematika lebih baik dari sebeleumnya, rangkaian acaranya lebih ditingkatkan kembali, adapun yang kurang dari tahun sekarang harus menjadi evaluasi untuk tahun mendatang dan harus lebih meriah lagi. Generasi penerus metamatika pun harus lebih meningkat lagi dari nasional hingga internasioal.  

Reporter : Anisa Nurfauziah

Redaktur : Lia Kamilah

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas