Hukum dan Kriminal

Aksi Kamisan Cianjur: Refleksi Penyadaran Kasus Pelanggaran HAM

Sejumlah massa aksi yang tergabung dalam Aksi Kamisan Cianjur mengadakan aksi di depan Gedung Pemerintah Kabupaten Cianjur, Kamis (14/11/2019). Aksi ini mengangkat tema Tragedi Semanggi yang menewaskan 17 orang akibat demonstrasi besar-besaran menolak pada tahun 1998 di Semanggi. (Aldy Khaerul Fikri/SUAKA)

SUAKAONLINE.COM –  Sore hari di tengah lalu lalang laju kendaraan, terlihat sekelompok orang dengan pakaian dan payung bernuansa hitam berdiri di depan Gedung Pemerintah Kota Cianjur, Kamis (14/11/2019). Terdengar suara penuh amarah, memprotes pengusutan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) tentang kasus Semanggi yang menewaskan tujuh belas orang pada 1998 silam .

Dikala massa aksi berorasi, banyak masyarakat yang melihat aksi ini dengan wajah bingung. Auliya, seorang massa aksi mengatakan, aksi kamisan di Cianjur terbilang baru, maka wajar jika masyarakat merasa bingung. “Karena baru kali ya jadi masyarakat  melihatnya aneh, karena kita juga baru empat kali melaksanakan aksi kamisan ini di Cianjur, pertama di tugu tauhid dan seterusnya di Pemda,” ujarnya, Kamis (14/11/2019).

Aulia menambahkan, tujuan aksi ini adalah untuk menyadarkan semua kalangan bahwa masih ada pelanggaran HAM yang belum diusut tuntas sampai saat ini, khususnya korban Semanggi. “Tujuan aksi ini yaitu untuk menyadarkan semua kalangan, mau mahasiswa, pelajar, perempuan, kaum miskin kota, bahwa ada loh pelanggaran HAM yang belum diusut kayak kasus Semanggi dan pelakunya sampai saat ini ada disekitar kita,” tuturnya.

Dia menyayangkan minimnya antusiasme dari kalangan mahasiswa Cianjur yang mengikuti aksi kamisan. Hal ini karena kurangnya literasi dan diskusi. “ Antusiasme dari mahasiswa Cianjur kurang, malahan kebanyakan dari pelajar yang datang kesini. Dari segi diskusi juga kurang yang akhirnya kurang peka terhadap isu-isu yang terjadi,” imbuh Aulia.

Salah satu orator aksi, Ilham Yasar menambahkan, mahasiswa Cianjur terlalu fokus terhadap isu-isu lokal dan kurang mengenal sejarah isu-isu HAM yang terjadi di masyarakat. Padahal masyarakat sangat responsif ketika isu-isu HAM masa lalu kembali digali. “Mahasiswa Cianjur terlalu fokus pada isu-isu lokal, dan kurangnya pemahaman sejarah tentang isu-isu HAM yang terjadi,” pungkasnya.              

Baca juga:  Tunas Genaration Sukses Gelar Drama Musikal

Dia pun sedikit menceritakan tentang tragedi Semanggi, dimana mahasiswa turun ke jalan dari berbagai kampus di Jakarta menolak sidang istimewa MPR. Kala itu mahasiswa menganggap bahwa sidang tersebut adalah reuni koloni-koloni rezim orde baru. Sehingga aksi pun mendapat respon dari militer dan mengakibatkan terjadinya penembakan yang menewaskan tujuh belas orang.

Hari semakin sore, terlihat aparat kepolisian menambah jumlah personil untuk keamanan. Pemandangan yang kurang wajar untuk pengamanan sebuah aksi kamisan. Merespon hal tersebut, humas aksi, Jafar mengungkapkan bahwa tragedi terbakarnya polisi oleh mahasiswa beberapa bulan lalu menjadi menyebab utama. “Karena tragedi waktu itu, pengamanan aksi diperketat dan bahkan pada aksi kamisan minggu lalu, ada water canon yang siap siaga,” ujarnya.

Menjelang maghrib dan hari semakin gelap, massa aksi mulai membubarkan diri. Harapan-harapan tentang penuntasan kasus pelanggaran HAM kerap disuarakan. Ini terbukti dengan bergeraknya Aksi Kamisan Cianjur yang baru diselenggerakan dalam sebulan terakhir.

Reporter              : Aldy Khaerul Fikri

Redaktur             : Dhea Amellia

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas