Kampusiana

Launcing Web, LPIK Angkat Islam dan Media

20110621152908-344

SUAKAONLINE.COM — Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK) UIN SGD Bandung menggelar diskusi “Rumpi Ririwa” bertemakan Islam dan Media di meeting room, Gedung Student Center, Selasa (4/2).

Menurut ketua bidang penasihat LPIK, Ihsan Fauzi mengatakan, bahwa acara ini digelar sekaligus untuk launching web. “Adanya diskusi dengan tema Islam dan Media ini untuk memproklamasikan adanya web baru LPIK (www.lpik.org) dan juga sebagai landasan teoritis kami dalam me-launching web,” kata Baba, sebutan akrab Ihsan Fauzi.

Dalam diskusi yang dilaksanakan pada pukul 13.00 ini, menghadirkan dua narasumber yaitu Guru Besar Ilmu Komunikasi UIN SGD Bandung, Asep Saeful Muhtadi dan Ketua Forum Kebudayaan ITB, Acep Iwan Saidi. Dengan beberapa pokok bahasan media dari segi positif dan negatif dan peran Islam di dalamnya.

Asep Saeful Muhtadi memandang media yang cenderung positif serta berbicara tentang peran aktif orang muslim sebagai upaya untuk pelevelan agama di wilayah media. ”Media itu positifnya karena media bisa berafiliasi dengan orang-orang muslim dan media sebagai tangga untuk orang muslim mencapai tujuan sebenarnya, seperti dakwah,” ungkapnya.

Selanjutnya, Asep menambahkan orang  Islam itu harus berperan aktif di level media, ketika media-media besar ada upaya hegemoni (pencengkraman) terhadap masyarakat. Jadi, masyarakat Islam meng-counter hegemoni media besar dengan upaya bahwa orang Islam pun layak bermedia.

Di lain sisi, Acep Iwan Saidi memandang bahwa media itu cenderung negatif, ketika budaya massa yang dihegemoni oleh media besar. “Budaya massa ialah masyarakat Islam sudah dikondisikan oleh media-media besar. Baik dalam bentuk politik maupun praktis,” ungkapnya.

Selain itu, Acep menjelaskan bahwa media besar itu sebagai representasi untuk membenahkan pikiran mereka. “Jadi seolah-olah kita terarahkan. Sebagai contoh, kita terarahkan memilih calon presiden tertentu, kita terarahkan pakai produk iklan tertentu dan sebagainya, itu semua karena media massa,” ungkapnya.

Acep menawarkan, dua solusi dari permasalahan tersebut yaitu harus adanya counter. “Pertama, kita harus menjadi subyek bukan menjadi obyek, atau mainan media. Yang ke dua yaitu membuat media pada sasaran gesrut bawah, untuk menopang aspirasi masyarakat,” tuturnya.

Selain itu, Acep menjelaskan bahwa masyarakat harus menjadi subyek yang aktif. “Yang disebut subyek aktif adalah kita harusnya menonton media bukan media yang menonton kita. Harusnya kita bukan dijadikan obyek oleh media tapi media harus dijadikan obyek oleh kita,” ungkapnya.

Reporter : Fitri Andani/Magang

Redaktur : Adi Permana

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas