Kampusiana

Save The Children, Save The Future Perpaduan antara Musik Modern dan Etnik

Hujan deras yang turun di sekitar kampus ITB, Sabtu (6/2) tidak mampu mengusik para pengunjung ITB fair untuk berteduh. Mereka terus melangkahkan kaki , melihat hasil karya anak bangsa yang di pamerkan. Rasa kagum dan bangga seakan muncul dengan sendirinya.

Para pengunjung yang datang dimanjakan dengan hadirnya Baby Eats Crackers, Rumah Musik Harry Roesli, Fashion Show Kriya ITB, Barry Likumahuwa project dan Efek Rumah Kaca. Mereka semua akan tampil memeriahkan acara Art & Music Perfomance dengan tema “Save The Children, Save The Future”.

Sore menjelang malam, pengunjung yang datang semakin bertambah banyak. Suasana sekitar panggung pertunjukan semakin hangat. Lampu sorot penuh warna mulai di nyalakan. Secara tiba-tiba seorang wanita berparas cantik berpakaian modern dengan balutan etnik dan seorang pria berkacamata tersenyum menyapa semua penonton. Keduanya sebagai pembawa acara membacakan susunan acara malam itu.

“Save The Children, Save the Future” dibuka dengan welcoming speech dan opening art oleh para penari ( mahasiswi ITB ) yang menampilkan tarian modern diiringi dengan musik modern dengan nuansa daerah/etnik. Kemudian loedroek tampil dengan tema “Susahnya bersekolah zaman sekarang” yang di ceritakan disini tentang permasalahan dalam dunia pendidikan yang minim dengan fasilitas”. Waktunya band kebanggaan ITB, Baby Eats Crackers (BEC) tampil di kampus sendiri. Ay sang vokalis membuka penampilannya dengan lagu “Kissh Kissh”. Kemudian di lagu kedua yang berjudul “Aloha Opa”, BEC mengajak penonton untuk bernyanyi bersama. Pertunjukan selanjutnya Baby Eats Crackers berkolaborasi dengan perkusii dari Rumah Musik Harry Roesli yang berisikan anak-anak jalanan.

Tampaknya penonton terbawa suasana malam yang semakin dingin, sehingga butuh sedikit pemanasan. Hadirnya Fashion Show Kriya ITB siap membuat penonton berjingkrak menikmati music Rock & Roll yang mereka bawakan. Semakin hangatnya suasana membuat Barry Likumahuwa Project di sambut meriah oleh semua penonton. Band yang beranggotakan Barry Likumahuwa (bass), Henry Budidharma (gitar), Dennis Junio (alto saxophone), Jonas Wang (drum), dan Matthew (vocal) tampil lengkap untuk membwakan music jazz yang apik. Mereka sanggup membuat penonton terdiam di lagu pertama, sebagian ikut bernyanyi dan menikmati alunan music jazz. Pemain bass muda Barry Likumahuwa berinteraksi dengan aktraktif. Di sela-sela penampilannya, ia kerap melempar sedikit lelucon. Sehingga membuat penonton tertawa terbahak-bahak. Selain menyanyikan lagu milik mereka, band asal Jakarta ini mengcover lagu D’masiv yang berjudul Di Antara Kalian, dan Miss Independent milik Ne-Yo dengan sentuhan jazz.

“ERK…ERK…ERK…”

Demikian suara teriakan di penghujung acara. Bintang tamu yang di tunggu-tunggu Efek Rumah Kaca akan segera menampakan diri. Cholil naik ke atas panggung, sementara Akbar telah siap menabuh drumnya. Tapi malam itu Adrian (bass) tidak hadir. Ia digantikan oleh additional player bernama Mada. Lagu pertama di nyanyikan semua penonton ikut bernyanyi bersama. Suara Kholil terdengar berbeda dari biasanya, ia mengaku sebenarnya saat ini dalam keadaan kurang sehat. “Mohon maaf saat ini Adrian tidak bisa hadir. Dia sekarang sedang sakit. Sebenarnya saya juga kurang enak badan”. Ungkapnya. Pertunjukan terus di lanjutkan, hamper semua lagu di nyanyikan bersama. Seperti Insomnia, Lagu Kesepian, Balon Udaraku,

Balerina, Kenakalan Remaja di Era Informatika dan Desember menjadi lagu penutup dari Efek Rumah Kaca.

Pertunjukan berakhir. Penonton yang datang terhibur dengan penampilan semua bintang tamu. Tidak ada rasa kekecewaan, hanya rasa rindu yang mereka simpan. Kehangatan dan kebersamaan menyatu bersama dalam keheningan malam. ITB Fair 2010 akan sangat di rindukan, waktu dua tahun tidaklah lama untuk menanti kembali acara seperti ini.

[] Hamdan Yuafi, Hari Karyadi, Dwi Darah Dilla

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas