Kampusiana

Hargai dan Cintai Proses

Awalnya, ia tidak pernah menyangka akan menjadi seorang editor di sebuah perusahaan penerbitan besar. Namun, setelah melalui berbagai proses panjang, ia justru menjadi seorang editor handal. Banyak buku yang ia sunting, diantaranya adalah buku-buku Pidi Baiq; Drunken Molen, Drunken Monster dan Drunken Mama.

Ia bernama lengkap Encep Dulwahab, atau akrab dipanggil Pak Dul. Saat ini, ia juga tercatat sebagai salah satu dosen di Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung. Sikapnya yang ramah terhadap semua orang membuat pria berkulit putih dan tampan ini selalu disegani oleh kalangan mahasiswa ataupun dosen. Kemampuannya memposisikan diri membuat rasa nyaman pula terhadap semua kalangan.

Berasal-usul dari keluarga sederhana, sifat lemah lembut dan ramah tamah sering ditunjukkannya kepada semua orang. Tuntutan biaya dan dukungan keluarga terus mendorongnya untuk menjadi orang yang berguna bagi bangsa, agama dan pada khususnya masyarakat.

Kini, ia mempunyai satu istri dan dua orang anak yang selalu ada didekatnya, mereka adalah energi untuk melanjutkan perjuangan hidupnya. Dengan cinta beserta kasih sayang mereka, Dul mendapatkan semuanya.

Tak banyak prestasi yang dia raih selama duduk dibangku kuliah, tetapi banyak inspirasi yang dapat didapatkan dari pria 32 tahun ini. Namun, itu bukanlah masalah baginya. Buktinya, Dul bisa menjadi seorang editor di perusahaan penerbit terbesar kedua di Indonesia, Mizan.

Menjadi seorang editor bukanlah tanpa usaha. Banyak proses yang dilalui untuk mendapatkan pekerjaan tersebut. Tak ada rahasia khusus atau trik-trik ampuh yang ia keluarkan, cukup dengan kerja keras dan restu dari orang tua.

Awal karirnya dimulai saat masih duduk di bangku perkuliahaan. Dul memiliki suatu komunitas menulis yang diadakan seminggu sekali. Di tiap pertemuan, para anggota komunitas ini selalu share mengenai dunia penulisan. Kemudian, untuk melengkapinya mereka menjalin komunikasi dengan beberapa media.

Dari komunitas menulis itu, tulisan beberapa temannya sering dimuat di media, bahkan hingga ada yang sudah bekerja di media tersebut. Dari sinilah Dul meyakini, bahwa ia juga mampu dan segala sesuatu itu dapat diraih dengan proses.

Selain membuat komunitas, Dul juga pernah berencana masuk LPM Suaka –pers kampus di UIN Sunan Gunung Djati— untuk meningkatkan kemampuan menulisnya. Namun, karena ia tercatat sebagai salah satu anggota organisasi ekstra-kampus, maka Suaka menolaknya. Dalam AD/ART Suaka dijelaskan, setiap anggota harus independen dari semua organisasi ekstra.

Saat semester tiga, tulisannya mulai dimuat di media profesional. Dari situlah ia sadar, bahwa dirinya mampu untuk menulis. Maka, Dul pun mulai mengembangkan kemampuannya tersebut. Setelah itu, hampir tiap bulan karyanya seperti resensi buku, feature dan artikel muncul di berbagai media.

Begitu selesai kuliah, Dul mengirimkan beberapa lamaran diberbagai media. Dari semua lamaran yang diajukan, semuanya mendapatkan panggilan. Namun, semuanya gagal. Tidak disangka, ia mendapatkan panggilan dari Mizan untuk menjadi editor. Ia tidak menyangka karena merasa tidak mempunyai kemampuan dibidang tersebut.

Dengan menjalani beberapa tes, akhirnya Dul mendapatkan pekerjaan itu. Dul mengungkapkan, bekerja menjadi editor bukan termasuk salah satu cita-citanya. Menurutnya, ia bukan termasuk peraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang bagus. Namun, karena ia suka menulis dan membaca buku, maka pekerjaan ini ia dapatkan.

“Disini dapat saya simpulkan, kita harus menghargai dan mencintai proses. Bayangkan jika kita membuat buku yang harus laku dipasaran, itulah tantangannya. Di sini saya berpikir, kalau ingin maju, kita harus menciptakan sebuah tantangan. Buku Pidi Baiq  telah meyakinkan saya tentang falsafah hidup, proses, tantangan, kreatifitas life style dan cara berpikir,” ungkap Dul.

Di akhir wawancara, Dul memberi saran bagi setiap orang yang ingin bergasil. “Gagal adalah sebuah proses pembelajaran, jangan pernah puas dengan apa yang telah kita dapatkan. Segera cintai tantangan, karena tantangan adalah salah satu proses menuju keberhasilan. Sekecil apapun yang kita lakukan, akan mendapatkan imbalannya.”  []Tri Mastuti Handayani, M. Riza Pahlevi/Suaka

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas